3. Tuduhan

251 25 2
                                        

Ini adalah hari pertama di bulan februari. Matahari meninggi tanpa sungkan. Hawa hangat dari pancarannya memberikan sedikit pertanda jika musim semi akan segera tiba.

Ruby menyukai musim semi, sebuah musim dimana bunga-bunga di tokonya akan kembali mekar dan merekah dengan indah setelah mengalami masa-masa sulit di musim dingin.

Gadis itu tersenyum, meski tak secerah mentari tapi pancaran matanya terkesan hangat. Dia berjalan kesana kemari, mengitari tatakan kayu tempat bunga-bunganya tertata. Memberikan suplai air dengan cukup untuk membuat mereka tetap hidup.

Tempat ini adalah peninggalan keluarganya. Ibunya dulu seorang florist tapi sayangnya Ruby baru tau itu saat lulus SMA. Itu akhirnya menjadi alasan bagi dia untuk belajar tentang bunga.

Rui tak pernah absen menemaninya. Bayi yang masih berusia 6 bulan itu tertidur di box bayi setelah sarapan.
Wajah damai Rui ketika tidur membawakan 2 rasa yang berbeda bagi Ruby. Ada perasaan sayang, tapi juga ada penyesalan disana.

Sebagai seorang ibu yang mengandungnya selama 9 bulan, Rui tak sedikitpun membawa genetik Ruby di dalam tubuhnya. Wajahnya mirip orang lain, yang bisa Ruby artikan sebagai orang yang telah menghamilinya.

Ini membuat Ruby terkadang merasa kesal. Dia menyesal telah membuat kesalahan tapi tak pernah sekalipun dia menyesal telah melahirkan Rui.
Bayi itu tak bersalah dan tidak pantas mempertanggung jawabkan kesalahan ibunya. Dia berhak untuk hidup.

Ting~

Lonceng kecil di atas pintu rumah kacanya berdenting, menandakan ada seseorang yang baru saja masuk ke toko bunganya.

Ruby menyambutnya dengan suara ramah, namun ketika dia berbalik, senyuman di bibirnya memudar.

"Lama ga ketemu ya, Ruby."

Senyuman khas itu mengingatkan Ruby pada Lee Jeno. Hanya saja yang ini dalam versi perempuan paruh baya.

"Ibu Lee.. " begitulah cara Ruby memanggil mama Jeno selama ini.

Wanita anggun itu berjalan ke sisi meja kasir, dia sempat melongok box tempat tidur Rui di sisi meja kasir kemudian tersenyum.

"Aku senang dia baik-baik saja." Katanya.

Ruby mempersilahkannya duduk. Ada sofa sederhana di sisi tokonya, itu biasa di gunakan para pembelinya saat mereka menunggu Ruby selesai merangkai bunga pesanannya.

Namun kali ini Ruby tidak yakin. Lee Hyori-mama Jeno- tidak datang untuk membeli bunga. Terlihat dari cara wanita itu duduk tanpa sekalipun dia melihat bunga-bunganya.

"Aku mau bicara sebentar." Katanya.

Ruby duduk dengan canggung di sisinya. Tangannya bertumpu di atas paha ketika dia duduk sementara wajahnya terlihat seperti narapidana yang menunggu untuk di adili.

"Kamu tau kan kalau rumah tangga Jeno bermasalah ?"

Ruby sudah menduga pertanyaan ini akan muncul. Tapi terlalu canggung baginya untuk membicarakan urusan rumah tangga orang lain.

"Iya. "

"Kamu juga tau kan kalau kamu jadi penyebabnya? "

Ruby terdiam. Dia tau kalau pernikahan Jeno bermasalah tapi Ruby tidak pernah berprasangka jika dirinya telah menjadi batu sandungan dalam pernikahan orang lain.

"Si bodoh itu terus menghubungimu kan? Dia ga tau siapa yang harus di prioritaskan, itu masalahnya."

Ruby mengangguk-angguk. Terlalu riskan baginya untuk menjawab apalagi mengakui jika si bodoh yang di maksud adalah Lee Jeno.

"Aku tau ini sepenuhnya salah Jeno, tapi aku juga mau memperingatkanmu, tolong jangan biarkan dia datang kesini "

"Ibu Lee..."

"Aku tau kalian berteman sangat baik, tapi mohon mengertilah kalau Jeno adalah pria beristri. " Hyori memotong ucapan Ruby. Hingga akhirnya Ruby hanya bisa bungkam.

Hyori sekali lagi melirik ke arah box Rui dan dia tersenyum.

"Aku lega saat dia lahir wajahnya sama sekali ga mirip Jeno. Jangan tersinggung ya, aku pikir Jeno yang menghamilimu."

Ruby jelas terkejut mendengar itu. Serendah itukah dirinya di hadapan orang lain hingga dia di anggap sebagai perempuan murahan yang hamil bersama pria beristri?

Ahh... Tunggu. Dia memang murahan kan?? Dia hamil dengan pria yang bahkan tidak dia kenal.

Ruby tak bisa menaruh banyak harapan di atas harga dirinya yang telah hancur karena dia injak sendiri.

"Ibu Lee, aku tau aku cuma perempuan rendahan, tapi aku ga serendah itu sampai mau menghancurkan rumah tangga Jeno. "

"Ibu tau, kamu gadis yang baik. Tolong jauhin Jeno. Jangan buat pernikahannya hancur."

Senyuman ramah itu rasanya tak sejalan dengan serentetan kalimat tajam yang terucap dari mulut Hyori. Ruby pun tak merasa tersanjung telah disebut sebagai gadis yang baik karena dia tidak yakin jika itu adalah sebuah pujian.

Hyori pamit pulang setelah mengatakan maksudnya. Meninggalkan Ruby yang termenung dengan kebisingan di kepalanya.

Lucu sekali. Dia adalah sosok tak punya apa-apa yang di salahkan atas sesuatu yang tak pernah dia miliki. Di tuduh merebut milik orang lain padahal dia tau dia tidak pernah di terima di sisi siapapun.

Dunia ini terlalu kejam untuk Ruby. Hingga bernafas dalam ketenangan pun sangat sulit dia dapatkan.


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SECOND CHANCE | LEE JENOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang