Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

9. Opposed

221 18 0
                                        

Pernikahan itu terjadi atas dasar cinta antara dirinya dan Caroline. Jeno memilih Caroline dengan sadar dan tanpa paksaan.

Yang menjalani pernikahan itu memang hanya mereka berdua, tapi akan selalu ada pihak-pihak yang ikut campur di dalamnya.

Jeno pun tau Caroline tidak setuju dengan keputusannya. Gadis itu pastilah melapor pada ibunya dan menyebabkan keributan pagi ini.

"Jangan ambil keputusan seenaknya. "

Hyori-mama Jeno- telah berlaku emosional sejak dia datang ke rumah putranya. Wanita paruh baya itu menggebrak pintu dan melemparkan clutch bag bermerek miliknya ke wajah Jeno.

Sementara putranya.....

Hanya duduk manis dengan laptop di pangkuannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hanya duduk manis dengan laptop di pangkuannya. Tak sedikitpun dia terganggu, bahkan memusatkan atensinya pada sang ibu saja tidak dia lakukan.

"Caroline itu menantu kesayangan mama, jangan seenaknya kamu mau ceraikan dia."

"LEE JENO !!!"

Dan teriakan kesekian dari Hyori akhirnya membuat Jeno meliriknya. Lelaki itu menyugar rambutnya kebelakang. Helaan nafasnya menjadi pertanda akan betapa lelahnya dia dengan masalah ini.

"Ini pernikahan Jeno ma, mama ga usah ikut campur. "

"Ga ikut campur kepalamu !!! Pernikahan ini bukan cuma tentang kamu sama Caroline, tapi ada 2 keluarga besar yang di satukan dalam pernikahan ini."

Jeno menghela nafas. Hal yang paling dia benci adalah ketika orang lain ikut campur dalam masalahnya.

Meskipun ada peran 2 keluarga yang di satukan dalam hubungan pernikahan ini tapi tetap saja yang menjalaninya adalah Jeno dan Caroline. Jeno berhak mengambil keputusan karena dia adalah kepala keluarga.

"Jeno ga mau kita saling menyakiti satu sama lain mah. Pernikahan ini ga ada gunanya, pada akhirnya kami terus ribut dan saling melempar kebencian. "

"Mama tetap ga setuju Jen. Semua pernikahan pasti punya masalah. Jadi ayo kita perbaiki masalahnya sebelum kamu putuskan buat cerai."

"Mah.."

"Jangan bantah mama!!"

Kantor harusnya telah ditutup 4 jam yang lalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kantor harusnya telah ditutup 4 jam yang lalu. Jam bekerja telah usai dan para karyawan telah meninggalkan area kerjanya, kecuali Lee Jeno.

Pria karismatik dengan wajah rupawan itu tampak tak memiliki pancaran kehidupan di matanya. Pikirannya kalut dan emosinya carut marut. Tapi dari  luar dia akan tetap terlihat seperti laki-laki tenang dengan seyuman palsu.

Jeno tak pulang ke rumahnya ataupun ke rumah Ruby. Alasan yang pertama karena dia malas bertemu Caroline dan menambah buruk emosinya sementara alasan yang kedua karena dia tidak mau membawa hawa negatif dari masalahnya ke rumah Ruby.

Lelaki itu memilih berdiam diri di kantornya di temani berpuluh bir kaleng yang baru dia beli dari mini market.

Jeno sudah setengah mabuk ketika dia sampai pada kaleng keempatnya. Kepalanya berdenyut, sedikit ada rasa berputar dan sensasi seperti di awang-awang. Semua masalah di kepalanya mendadak sirna, memori otaknya hang dan yang tersisa hanyalah kekosongan.

Jeno meminum tetesan terakhir di kaleng keempatnya. Matanya masih terbuka, kantuknya belum juga datang dan hanya pening yang terasa.

Samar dia melihat sosok lain memasuki ruangannya. Sosok bergaun putih dengan cardigan merah muda yang manis. Dia seorang wanita, Jeno bisa menyimpulkan itu meski kesadarannya kurang dari 50%.

Wanita itu berdiri di hadapannya. Kedua tangannya terlipat di dada dengan wajah galak yang sangat dia rindukan.

Jeno tersenyum, ingin bangkit dari kursinya namun tubuhnya tak mampu. Lelaki itu mengulurkan tangannya, ingin dia meraih tubuh itu tapi yang bisa dia lakukan hanyalah merengkuh udara. Apakah ini halusinasinya saja ? Ataukah dia bermimpi ?

"Bodoh !!" Wanita itu mengumpat namun nadanya sangat halus.

Jeno akhirnya sadar kalau ini bukan halusinasi. Sosok itu nyata dan benar-benar berdiri di hadapannya.
Suara lembut itu tertangkap jelas dan nyata di telinganya, namun memori otaknya tak memberinya clue siapa pemilik suara itu.

Dengan setengah kesadarannya Jeno akhirnya berhasil berdiri. Tubuhnya sempoyongan, seperti selembar kertas yang nyaris jatuh tertiup angin. Dia nyaris terjatuh, tapi sebelum itu terjadi, Jeno berhasil meraih tubuh itu dan memeluknya.

"Lee Jeno... "

"Lee Ruby.. bawa aku pulang."


"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SECOND CHANCE | LEE JENOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang