Typo? Tandai gaes!
Selamat membaca.
-•||•||•||•-
Malam ini adalah waktunya. Lucian bersaudara sudah berada di dalam mobil, siap menuju kediaman Osmond. Dengan rambut yang ditata rapi dan setelan pakaian formal yang dibalut jas membingkai tubuh mereka, penampilan mereka terlihat memanjakan mata. Tentu saja, wajah mereka adalah penyumbang terbesarnya.
Yah ... Walaupun pada wajah Graville, tertempel plester luka bergambar burung hantu chibi bermata bulat. Itu sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanannya.
(Bohong banget. Keimutan Graville selalu berada di puncak mengalahkan ketampanannya, Amarta mengatakan ini pada Graville dengan jujur dan terbuka. Hasilnya? Satu tendangan mendarat di tulang keringnya.
Cukup untuk membuat Amarta bertanya-tanya apakah dia akan lumpuh di kemudian hari.)
"Let's go berangkat!" Senyum Gino lebar sekali ketika dia mengangkat kedua tangannya yang terkepal.
Duduk di kursi samping pengemudi, Graville merespon semangat kakaknya tidak kalah membara, "GO, GO, GO!!"
Graville bahkan mengikuti gerakan Gino.
Dua orang di kursi depan itu sama-sama bersemangat, mereka menantikan pesta yang akan mereka datangi. Graville menantikan berbagai jamuan yang akan dia dapatkan, sementara Gino sudah siap tenaga untuk memperjuangkan kerja sama yang nantinya pasti akan berdampak positif bagi perusahaannya.
Hehe, baik Graville maupun Gino menggosok tangan mereka sambil terkekeh.
Kemudian, Gino menoleh ke arah Graville.
"Dek, malam ini kita berjuang!" Ujar pemuda itu. Kesungguhan yang melapisi suaranya sebanding dengan seorang komandan di medan perang.
Seolah mendukung perumpamaan itu, Graville mengangguk tegas dan berkata,
"Ya, kak! Ayo kerahkan seluruh tenaga kita untuk mencapai tujuan."
Mendengarnya, Gino mengangguk puas. Dia merasa bangga karena Graville selalu mudah untuk menjadi satu frekuensi dengannya.
Graville selesai. Kini tinggal Amarta. Gino berpaling ke kursi penumpang, di mana Amarta yang kini berwajah lempeng duduk dengan tenang.
"Kamu juga, Ata. Ayo, bersemangatlah sedikit!" Gino bermaksud memberi pemantik supaya api semangat adik bungsunya berkobar setelah mendapati hanya Amarta yang tampak tak bersemangat.
Yang memang benar, jika dibandingkan, semangat Amarta seperti korek api yang sekarat karena kehabisan gas.
Gino tidak bisa menahan kekhawatirannya, "kamu sakit, dek? Mau istirahat aja di rumah?" Pertanyaan itu kemudian menarik perhatian Graville. Kepalanya secepat kilat menoleh ke belakang, ikut menatap Amarta khawatir.
"Sakit? Kalau gitu nggak usah pergi malam ini."
Gino mengangguk setuju, "ya. Kakak bisa bicara dengan Osmond nanti." Sebab baginya, kesepakatan yang dia dambakan itu tak lebih besar dari sejumput upil, dibanding dengan kepentingan adik-adiknya yang melebihi dunia.
Apapun alasannya, prioritas utamanya adalah kesejahteraan adik-adiknya. Bahkan jika harus melepas kesempatan emas seperti malam ini, Gino tidak sedikitpun peduli.
Amarta yang melihat reaksi dua kakaknya segera menyela, "aku nggak sakit, aku baik-baik aja. Beneran, aku cuma mau hemat tenaga."
Amarta berkata jujur. Baik Gino maupun Graville bisa merasakannya. Meski demikian, setitik keraguan di wajah mereka tak kunjung sirna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Take My Hand
TerrorGraville bisa melihat apa yang semesta sembunyikan. Itu bukan keinginannya. Graville merupakan anak tengah dari tiga bersaudara. namun semua saudaranya membencinya atas peristiwa di masa lalu. itu juga bukan keinginannya. tapi, hei, siapa bilang Gra...
