Aku mulai ragu untuk kita, aku takut menorehkan luka lebih dalam di hati kamu
Semua hal yang kita inginkan tak selalu bisa berjalan sesuai rencana, selalu saja ada halangan dan rintangan yang dihadapkan oleh semesta pada manusia rentah seperti Kana. Berdamai dengan Januar ternyata bukanlah akhir untuk memulai kisah bahagianya, melainkan awal bermulanya semua masalah.
Walau Januar telah berada di pihak nya, Kana tak bisa tenang, setelah sekian lama bungkam atas masalah yang terjadi antara mereka, kini saat mereka telah selesai dengan ego, penjelasan di tuntut oleh banyak orang karena kehidupan ini bukan hanya berpusat pada mereka berdua.
Belum selesai dengan penjelasan pada semua orang, Kana masih harus melawan dirinya sendiri hari ini, sejak pulang dari apartement Januar beberapa hari yang lalu, Kana merasa tubuhnya mulai mudah kelelahan namun ia memaksakan diri karena sudah absen beberapa kali ke sekolah.
Alhasil Kana kini terbaring lemah di dalam kamar menunggu Mahen yang akan pulang, Kana menatap kedua anaknya yang tengah melingkarinya, Luna disisi Kanan dan Lino di sisi kiri. Yang membuat Kana sangat sedih adalah keadaannya yang harus membuat kedua anaknya harus menjadi dewasa sebelum waktunya.
Kedua anaknya yang masih berusia 6 tahun menjadi sangat dewasa, merawatnya yang terbaring lemah tak berdaya, Lino di sisi kiri sibuk menggantikan kompres dikepalanya, anak itu yang mengambil mangkuk berisi air juga handuk kecil. Sementara Luna memijit tangan dan kakinya sambil terus menanyakan apa yang ia rasakan.
Rasanya hati Kana hancur, ia tak berdaya, tak ada yang bisa ia andalkan selain kedua anaknya. Bahkan kedua anak itulah yang menghubungi Mahen, niat nya ia ingin kedua anaknya menghubungi Januar namun ia enggan, tak ingin laki-laki kerepotan dan khawatir padanya.
"Mama, badannya masih sakit?"
Kana meneteskan airmata mendengar ucapan Luna, "Mama, jangan nangis, sakit ya?"
Kana semakin sesegukan, ia menarik Luna dan Lino dalam dekapannya, "Maaf sayang" gumam Kana pelan.
Tubuhnya terasa semakin lemas, kini Kama hanya bisa menatap kedua anaknya yang juga menatap ke arahnya.
"Mama, jangan tidur ya, Lino takut" ujar anak itu lalu memeluk ibunya meletakkan kepalanya di dada sang ibu, begitupula Luna yang ikut meletakkan kepalanya di perut sang ibu.
Tak lama pintu kamar terbuka, Luna dan Lino menatap lesu pada orang yang masuk tergesa-gesa ke dalam kamar.
"Papa..."
Januar berlari menghampiri sang anak, ia menarik kedua anaknya mencium kepala mereka satu persatu dengan hati bergetar. Mendapati Kana yang terbaring lemah sendiri bersama kedua anak kecilnya membuat Januar merasa gagal menjadi seorang laki-laki. Pikirannya berkelana jauh, bahwa keadaan seperti ini mungkin pernah terjadi sebelumnya dan Kana tak memiliki siapapun di sisinya saat itu, hanya ada kedua anak kecil yang bertransformasi menjadi orang dewasa yang merawat sang ibu.
Pemandangan Luna dan Lino yang memeluk sang ibu dengan wajah sembab menghancurkan hatinya.
"Maafkan Papa, terima kasih sudah menjaga Mama" ujar Januar pada kedua anak manisnya, lalu beralih pada Kana yang matanya tertutup dengan wajah pucat pasih penuh keringat.
"Kana, sayang, hei, ini aku"
Januar memanggil nama kekasih hatinya dengan suara bergetar, airmata tergenang dan tangan yang bergetar mencoba menyentuh pelan pipi Kalarina. Ketakutan merasukinya, keadaan Kana yang tak lagi menjawab panggilannya tak pernah ia bayangkan sekalipun.
"Kana" panggil Januar lagi
Seandainya jika Kana tak menjawab Janaur tak akan segan meluncurkan airmata. Namun harapan masih diberikan tuhan, Kana membuka matanya pelan, bahkan bisa mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Januar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Struggle Of Love
FanfictionPernah dengan kalimat "Dunia selebar daun kelor" ? Kalimat khiasan yang dibuktikan kebenarannya oleh Januardi Alarik Senoaji. Sejak bercerai dengan mantan istrinya 7 tahun yang lalu, ia selalu menghindari segala hal yang berhubungan dengan mantan is...
