"3 hari lagi kamu operasi Revan". Ucap dokter Eka menghampiri Revan di dalam kamar nya
"okey lalu?". Tanya Revan yang masih fokus membaca novel di tangan nya
"saya ga tau mau bilang nya gimana, saya takut". Ucap dokter Eka yang membuat Revan merasa bingung
"ada apa? apa ada masalah?". Tanya Revan yang mulai meletakkan novel yang ia baca keatas meja
"huhh, sebelum nya apakah saya boleh bertanya?". Ucap dokter Eka yang kembali bertanya kepada Revan
"of course, mau nanya apa?". Jawab Revan sambil tersenyum ramah
"baiklah, apakah kamu yakin engga mau pindah rumah sakit ke Singapura? di sana alat alat nya jauh lebih lengkap dari pada di sini". Ucap dokter Eka yang duduk di bangku sebelah kasur Revan
"huhh, kita sudah membahas ini sejak lama kan? dan jawaban saya masih sama, dan kenapa anda menanyakan hal ini lagi, apa ada masalah?". Ucap Revan dengan wajah serius
"saya hanya khawatir-". Ucapan dokter Eka langsung di potong oleh Revan
"tolong jangan bertele tele, anda bilang ke saya bahwa saya ga boleh terlalu memikirkan hal tidak penting bukan? tapi anda malah bertele tele seperti ini". Ucap Revan sambil menatap dokter Eka
"saya khawatir, karena operasi kamu kali ini, kemungkinan kamu selamat hanya 5%, dan saya tidak ingin kehilangan orang yang udah saya anggap adik saya sendiri". Seketika setelah dokter Eka mengucapkan itu, bulir bulir air mata mulai jatuh membasahi pipi nya
"ma-maksudnya?". Tanya Revan yang kaget
"iya maksud nya saya hiks hiks, saya mau memperbesar kemungkin kamu selamat kalo kamu pindah ke Singapura hiks hiks, soalnya di sana alat nya lebih lengkap". Ucap dokter Eka yang tak dapat membendung air mata nya lagi
"huhh, saya udah bilang kan, sekalipun saya selesai di sini, setidaknya saya engga sendirian dan juga saya udh cukup senang bisa di kelilingi oleh orang orang baik seperti dokter Eka dan teman teman saya". Ucap Revan sambil mengelus pundak dokter Eka yang menangis sesenggukan
"udah saya engga papa, anda jangan terlalu sedih, kan pasien anda bukan hanya saya". Ucap Revan sambil menenangkan dokter Eka
"dan juga, saya udah anggap anda sebagai kakak saya, boleh saya panggil anda kakak Eka?". Lanjut Revan
dokter Eka yang mendengar ucapan Revan barusan membuat air mata nya turun lebih deras
"kenapa, kenapa kamu ngomong gini saat kamu dalam keadaan kaya gini Van, saya sayang sama kamu sebagai mana saya sayang dengan adik kandung saya". Ucap dokter Eka yang merasa menyesal karena tidak bisa membuat Revan sembuh
"kaa.. Revan gapapa okey, Revan bakal baik baik aja, Revan kan anak kuat". Ucap Revan berusaha menenangkan dokter Eka, padahal hati nya juga sangat terguncang karena ucapan dokter Eka
"kakak juga harus cek keadaan pasien lain kan? Revan juga mau nyelesain novel ini, dan oh ya Revan boleh minta satu hal kepada kakak?". tanya Revan kepada dokter Eka dan berusaha mengalihkan topik
"iyaa mau minta apa?". Jawab dokter Eka sambil menatap Revan
Akhirnya setelah sekitar 10 menit Revan dan dokter Eka berbincang bincang, dokter Eka pun pamit kepada Revan untuk mengecek keadaan Pasian yang lain
"makasih kakak cantik". Ucap Revan sambil tersenyum puas
"huuhh, awas aja kamu kenapa kenapa, ya udah saya mau ngecek keadaan Pasian lain dulu". Jawab dokter Eka lalu pergi meninggalkan ruangan Revan
KAMU SEDANG MEMBACA
Revan
Teen FictionHallo Nama gua Healvito Revan Abraham Lu bisa panggil gua Revan gua cowo dengan biasa" aj ekonomi menengah engga terlalu kaya tapi cukup lah. Hallo nama gua Revan Samudera Franklin lu bisa panggil gua Sam nama gua sama kan kaya Revan hehehee sebener...
