Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
37. YANG JAUH, YANG DEKAT
Aku belajar mencintaimu tanpa membandingkan, tanpa membawa luka lama dalam genggaman. Karena kamu bukan masa laluku—kamu masa depanku- Danialanza
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Seperti kalender yang terus bergerak, begitu pula waktu yang tak memberi jeda untuk siapa pun yang terluka. Hari ini tepat lima bulan hubungan Abel dan Galang. Lima bulan sejak Galang memutuskan untuk menyulam kisah baru bersama perempuan yang berbeda. Lima bulan sejak sebuah jarak mulai tumbuh diam-diam antara Galang dan Anza—jarak yang lama-lama menjelma menjadi tembok tinggi, tak tersentuh, tak terucap.
Galang dan Anza semakin menjauh, bahkan lebih jauh dari sekadar pandangan mata. Di kelas, mereka duduk saling membelakangi, seolah tak pernah ada tawa yang dulu mereka bagi. Tak ada sapa, tak ada lirikan singkat seperti dulu saat mereka saling paham hanya lewat tatapan. Sekarang? Mereka bahkan tak tahu kapan terakhir kali saling menatap.
Puncaknya, Anza pergi. Ia mengepak seluruh perasaannya dalam koper hitam dan meninggalkan rumah. Ia memilih tinggal di apartemen kakaknya yang lebih jauh dari sekolah, hanya agar tak perlu melihat Galang lagi. Tak perlu melihat senyum yang dulu ia kenal, kini diberikan kepada orang lain.
Sementara itu, hubungan Galang dan Abel semakin mengikat. Mereka tak segan menunjukkan perhatian di hadapan teman-teman. Di kantin, Abel menyuapkan potongan buah ke mulut Galang sambil tertawa kecil. Di perpustakaan, Galang menunggu Abel menyelesaikan catatannya sambil menggambar sketsa kecil di pinggiran buku.
Hari ini, setelah pelajaran olahraga selesai, Abel duduk di dekat lapangan. Rambutnya masih basah karena keringat, pipinya memerah karena matahari. Galang datang menghampiri dengan botol air di tangan.
"Nih, minum dulu," ucap Galang, duduk di sebelah Abel dan menyerahkan air mineral yang dingin dari vending machine.
"Capek?" tanya Galang pelan senyum tipis tergambar di wajahnya.
Abel mengangguk sambil membuka botol itu, "Lumayan. Tapi nggak seberapa kalau dibandingin sama waktu lari pagi minggu kemarin."
"Makanya harus sering olahraga, sayang," ucap Galang lembut bibirnya melengkung pada senyum yang tak pernah gagal bikin jantung Abel berdebar.
Abel mendengus pelan, tapi senyumnya tak bisa ditahan. "Aku tuh lebih suka olahraga hati, nyayangin kamu tiap hari."
Galang tertawa. Mereka menikmati keheningan sejenak sebelum Galang kembali bersuara "Nanti temenin aku ke rumah sakit, ya? Hari ini jadwal kemo mama."
"Pasti. Aku temenin, Gal." Abel menggenggam tangan Galang, hangat dan erat.
"Dih, pacaran terus," ujar Viola dengan nada mengejek, muncul bersama Thalia dan Vava.
"Enak ya kalau punya pacar, ada yang perhatiin," ledek Thalia sambil menaikkan sebelah alis. Nadanya sengaja dibuat keras, cukup untuk menarik perhatian beberapa siswa lain di sekitar mereka.