"Ritme dan tujuan hidup setiap orang tidak sama."
-Anindya Nasywa A.-
🌺
"Anak Jakarta kita akhirnya sobo sawah meneh!" [Anak Jakarta kita akhirnya main ke sawah lagi!] Seru seseorang dari tengah sawah saat melihat seorang perempuan sedang mengayuh sepeda gunung melewati jalanan kecil tengah sawah.
"Ngopo to, cah ayu blusukan nang sawah? Njaluk ireng po awakmu?" [Kenapa sih, anak cantik main-main di sawah? Minta hitam (kulitnya) apa dirimu?] tanya Kang Sabar yang baru saja naik ke pematang setelah selesai menyemprotkan pestisida ke sawah garapannya.
Anindya Nasywa Ayudisha, perempuan yang kurang kerjaan itu tertawa. Ia mengerem sepedanya tepat di depan Kang Sabar.
"Wah, luas banget, Kang. Punya siapa ini?" tanya Nindya. Nindya melirik ke balik tubuh Kang Sabar. Luas sawahnya bukan main. Apalagi salah satu sisi pematang sawahnya ditumbuhi rumput yang biasa dipakai untuk makanan ternak kambing atau sapi. Sangat terawat.
"Punya Areksa. Ini juga mau lanjut ke sawah di ujung sana, masih punya dia juga."
"Mas Areksa, Kang?" Beo Nindya. Nindya kemudian paham jika sawah yang awalnya dimiliki orang tua Areksa kini sudah turun ke tangan Areksa.
"Weh, ora percaya bocah iki? Merantau jangan lama-lama, Nin. Desa ini udah banyak berubah." Kang Sabar tertawa. Pria itu lantas minum dari botol yang ia bawa dari rumah. "Areksa kecelakaan kamu nggak tau juga?" Lanjutnya.
"Kalo itu tau, Kang. Ibu bilang di telepon. Katanya juga sampai sekarang masih belum bisa jalan ya, Kang?"
Bukan berarti Nindya kenal dekat dengan sosok Areksa Mahendra yang sedang mereka bicarakan. Hanya saja, Nindya cukup tahu bagaimana makmurnya keluarga Areksa itu dengan lahan sawah dimana-mana.
Kang Sabar mengangguk. "Parah sih, itu. Untungnya ya masih dikasih umur panjang sama Gusti Allah. Mungkin saking baiknya kali ya itu orang." [Mungkin (karena) terlalu baiknya itu orang.]
Nindya hanya tersenyum menanggapi, tapi ia juga lantas bersyukur di dalam hati selayaknya manusia pada umumnya yang tidak jadi mendapat kabar duka dari orang lain, meski orang itu tak dekat dengannya.
Melihat Kang Sabar sudah menunggangi motornya untuk pindah sawah, Nindya lagi-lagi berucap, "Udah sore lho, Kang. Kewengen mboten?" [Kemalaman enggak?]
Kang Sabar tertawa bebarengan dengan suara motor yang berhasil menyala setelah beberapa kali percobaan. " Pantang pulang sebelum maghrib, Nin!"
Nindya menggeleng. Mengapa petani tidak takut berada di sawah sampai maghrib tiba? Padahal banyak ular yang keluar di jam-jam seperti itu.
Nindya membiarkan Kang Sabar melaju terlebih dahulu sebelum dirinya membuntuti dari belakang dengan perlahan. Sore ini, setelah mengangkat jemuran tiba-tiba terlintas ide untuk berkeliling desa dengan sepeda. Alasannya tentu untuk mencari angin agar rambutnya yang baru dikeramas ini cepat kering tanpa bantuan hair dryer.
Dusun tempatnya tinggal sangat luas, paling luas di antara dusun-dusun lain di Desa Giriharjo. Sehingga bersepeda di sore hari melintasi jalanan desa juga tengah sawah menjadi pilihan yang tepat karena bisa membunuh waktu sebelum maghrib tiba.
Meninggalkan area sawah, ia beralih memasuki Dusun Makmur yang menempel dengan dusun tempatnya tinggal.
Nindya sudah sebulan berada di rumah. Setelah tujuh tahun merantau di Jakarta untuk menuntut ilmu dilanjutkan dengan bekerja dengan sistem kontrak di sana. Selama tujuh tahun ia rutin pulang di hari raya. Namun selama liburan itu, Nindya tentu tidak memiliki banyak waktu untuk melihat lebih jauh kondisi desanya ini. Baru ketika ia sepenuhnya pulang inilah Nindya bisa melihat hal-hal baru di desa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Romansa[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)