Cerita ini bermula saat Arshaka Melviano bertemu dengan orang yang sangat mirip dengan nya. Dia senang ternyata dia memiliki adik kembar yang sudah tumbuh menjadi lelaki cerdas. Tapi ketika tragedi adiknya mencoba bunuh diri itu ketahuan oleh Arshak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Maksud lo apa anjir?!", tanya Kevlar sambil ngegas. Kata-kata yang di gunakan orang di depannya ini sangat di luar prediksi. "Lo kira Aksa barang? Ngapain lo pakai kata delay", lanjutnya dengan kesal.
"Ya terus gue harus pakai kata apa? Aksa gagal di sortir? Aksa telat? Aksa di bawa kurir terus ilang gitu? Ya gak mungkin dong", ujar Arshaka. Kalau di pikir-pikir iya juga si.
"Lo kira dia paket apa, jadi ini yang bener kaya gimana?", ucap Kevlar memastikan lagi.
"Aksa pokoknya gak bisa datang hari ini, mungkin minggu depan karna besok sabtu dan gak ada kegiatan di sekolah jadi gue bilang dia ke delay", jelas Arshaka.
"Ya terus lo siapa?", tanya Kevlar. Kevlar menatap Arshaka dengan tatapan kesal.
"Lo juga bakal tau nanti, pokoknya gue cuma mau bilang itu dan harus lo inget kalau gue gak pernah ingkar janji. Lelaki sejati gak pernah sekalipun ada niat buat ingkar janji tenang aja", ujar Arshaka lalu tersenyum dan menepuk bahu Kevlar.
"Aksa!", panggil seseorang membuat Arshaka menoleh.
"Kenapa Zel?", tanya Arshaka kepada Grizelle, dia sedang ngos-ngosan.
"Pak Reza tadi dateng ke kelas, katanya jam dia nanti ada ulangan harian", Grizelle memberikan informasi secepat kilat sesuai dengan apa yang diminta oleh Arshaka saat dia pamit pergi tadi.
"Ulangan harian?", tanya Arshaka.
"Iya mata pelajaran matematika, nanti di jam ke empat. Gue juga baru tau soalnya, gue duluan ya mau cari Sasya sama Kyla", ujar Grizelle. Arshaka mengangguk, Grizelle langsung pergi dengan secepat kilat juga.
Mendengar hal itu Arshaka langsung menatap Kevlar, ia tau pada siapa ia harus meminta tolong. Kevlar yang merasakan sesuatu pun langsung menoleh ke arah Arshaka, mata mereka bertemu.
"Ngapain lo liatin gue?!", tanya Kevlar tidak nyaman dengan tatapan Arshaka.
"Jadi kan gini...", Arshaka menendang batu-batu di sekitaran nya dengan pelan. Kevlar memperhatikan gerak-gerik orang didepan nya dengan heran apa ini memang kebiasaan nya dia kalau ngomong di tunda-tunda dulu. "Gue gak pinter Matematika kan nih ya... Terus gue juga baru masuk nih dan gak tau materi apa yang lagi di pelajarin... Setau gue masih ada waktu 3 jam buat belajar kan... ", lanjut nya.
"Terus?", Kevlar menaikan alis nya sebelah, kayaknya emang cuma orang di depannya ini yang bisa bikin Kevlar kebingungan. Soalnya orang di depannya bukan tipe anak yang mudah ketebak, ada aja gebrakan nya.
"Anjir lah! bantuin gue belajar please", Ujar Arshaka memegang kedua lengan Kevlar. Kan apa yang di pikirkan Kevlar terjadi, ada aja gebrakan dari orang di depannya ini.
"Gak mau", tolak Kevlar. Dia berusaha melepaskan genggaman tangan Arshaka di lengannya.
"Elah sekali doang bro", Arshaka berusaha membujuk Kevlar, dengan sungguh-sungguh pasalnya dalam hal matematika dia tidak bisa di samakan dengan Aksa. Bisa gawat kalau nilai adik nya itu tiba-tiba menurun karna dia, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Aksa masuk dalam keadaan sakit.