______________
"Adek minta maaf, Kak!"
Sebuah kesalahpahaman membuat ia kehilangan kepercayaan dan kasih sayang kedua kakaknya.
Zavian hanya ingin mendapat kan kata maaf itu, sebelum semuanya benar-benar semakin berantakan.
______________
Publish...
Hari terasa melelahkan, sepulang dari sekolah dia langsung bekerja dan baru bisa pulang pada pukul 09:30 malam. Mengenai kondisi Rafka seperti apa, dia hanya tahu kalau ada suatu masalah di bagian ginjal Kakak menyebabkan dia harus mendapat donor secepatnya agar bisa beraktivitas seperti biasa.
Juga tak akan mengeluh sakit lagi. Dia mengetahui dari chat Askara semalam, hanya membaca tak ada niatan membalas. Jihan, Bima juga berkali-kali mencoba menelpon dirinya tapi tak ia hiraukan mereka.
Kecewanya masih sangat besar, apalagi dia sudah terlanjur menaruh harapan besar, sampai dikecewakan begini membuat dia seperti jatuh ke jurang gelap.
Zavian berdiri di tepian jembatan dia menaiki satu besi pembatas menatap ke arah bawah, sungai jernih tampak begitu menyegarkan membuat dia sedikit tenang.
"Woy! Jangan bunuh diri disini!"
Kepalanya menengok ke belakang terlihat pemuda berlari cepat ke arahnya. Lalu begitu cepat menarik tangan untuk ia segera turun dari pembatas itu. Zavian masih berusaha mencerna apa yang saja terjadi? Kenapa pemuda itu malah menariknya.
"Lo kalo ada masalah, jangan coba-coba bunuh diri. Masih ingat Tuhan? Dosa besar kalo lakuin bundir,"
"Cobaan seberat apapun pasti bakal ada jalannya. Bunuh diri ngga akan bikin masalah lo selesai,"
Pemuda ini malah menatapnya iba, sebegitu menyedihkan dirinya? Padahal bukan itu niatnya tadi.
"Kamu kenapa? Aku bukan mau bunuh diri, aku cuma mau lihat sungainya aja. Lagian aku mana mau lakuin hal nekat kaya gitu,"
"Aku juga tahu kalo itu perbuatan dosa. Ngga akan diampuni di akhirat kalau melanggar hukum Allah!"
"Loh bukan toh?"
"Lagian siapa yang engga kaget, kalo lihat orang berdiri di pinggir jembatan. Gua mana bisa mikir positif, soalnya kasus bunuh diri lagi maraknya,"
Dia menggeleng cepat. Seberat apapun bebannya selama ini, tak pernah terlintas di benak untuk melakukan hal nekat kaya gitu.
"Aku abis pulang kerja, mau istirahat jernih in pikiran, makanya aku datang kesini. Kamu cuma salah paham!" Tutur Zavian
"Gua berburuk sangka ternyata, tapi lega juga kalau emang itu bukan tujuan lo datang kesini."
"Gua pernah kehilangan teman karena dia bunuh diri, waktu itu hidupnya mungkin jauh dari kata baik-baik aja. Dia ada dititik terberatnya, tapi gua sebagai teman justru ngga ada disamping dia,"
"Waktu itu gua baru aja kuliah di kota lain, gua ngga tahu apa-apa malah dapet kabar dia meninggal. Jujur gua masih ngga nyangka, dia ngga punya siapapun buat pulang, keluarga? Mereka ngga bisa harapkan,"
"Dia dibenci karena menurut keluarganya, dia adalah penyebab salah satu Kakak nya meninggal. Padahal cuma salah paham,"
Zavian terenyuh mendengar kata terakhir. Nasib teman pemuda ini kenapa begitu persis dengan dirinya? Mendengar itu semakin membuat dia sakit, apalagi dia juga harus menerima kebencian mereka.
"Aku turut sedih dengar nya. Semoga teman kamu dapat ampunan dari Tuhannya."
"Aamiin,"
"Btw, lo sakit? Muka lo keliatan pucat banget. Atau emang kulit lo kelewat putih sampe keliatan pucat gitu?"
"Mungkin aku kecapean. Aku ngga seputih itu,"
Pemuda itu mengulurkan tangan "Kenalin gua Galih Eka Sutresna, nama lo siapa?"
Zavian menerima dengan senang hati. Tak luput senyum ikut mengiringi, hatinya merasa lebih baik bertemu dengan pemuda baru ia kenal ini.
"Zavian Bumi Narendra,"
"Mau jadi teman pertama gua disini? Gua baru pindah hari ini," Tanya Galih
"Boleh,"
Setelahnya kedua orang itu berbicara dengan santai dan lebih lama bahkan waktu sudah menunjukan 11 malam, mereka terlalu larut dalam sebuah obrolan sampai lupa waktu.
'000'
Zavian sudah sampai rumah keliatan sepi, memang belum ada yang pulang semua masih sibuk dirumah sakit mengurus Rafka disana. Dia sejak kemarin belum kesana lagi, biarkan dia mencari cara agar rasa marahnya itu sedikit reda.
Dia hanya takut jika bertemu mereka sekarang akan membuat kemarahan yang selama ini dipendam akan meledak begitu saja. Zavian tidak ingin menyakiti siapapun, sudah cukup kebencian mereka sampai sini jangan sampai bertambah lagi.
Pintu rumah ia buka lalu nampak lah ruangan tak begitu luas di pandangan nya. Dia melewati ruang tamu, tak disangka disana malah menemukan sosok Askara yang sedang menatapnya saat ini.
"Darimana lo? Baru pulang jam segini," Tatapan tajam Askara berikan pada adik termuda nya.
"Bukan urusan kamu, Kak. Aku cape mau istirahat," Zavian tetap melanjutkan langkahnya tak memperdulikan Askara sudah menatap begitu tajam penuh kemarahan.
"Lo masih marah? Jadi bisa bersikap seenaknya kaya gini!" geram Askara
"Menurut kakak aja gimana? Adek juga berhak marah kan. Adek juga berhak untuk melakukan apapun yang memang menurut adek benar,"
"Kakak juga masih benci adek. Jadi buat apa peduliin adek? Coba Kakak bersikap kaya biasa, jangan ikut campur!" Zavian menyerang dengan lantang buat apa dia takut. Sikap sudah benar, mereka saja bisa membenci, kenapa dia tidak?
"Sudahlah adek mau istirahat!"
Kepergian Zavian membuat Askara termenung seribu bahasa. Adiknya mulai membenci nya? Dia...
Sudah berubah karena sikap semua orang.
"Maafin kakak...."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.