13

2.9K 97 0
                                        

Setelah menunggu waktu tiga hari operasi Rafka bisa dilakukan kondisi anak itu juga sudah siap untuk menerima donor ginjal. Rafka sudah terbaring di bankar sebelum benar-benar masuk dalam ruang operasi, dia menggenggam tangan sang ibu untuk menjadi penyemangat dia didalam sana.

Didorongnya bankar itu masuk ke dalam ruang operasi, Jihan terus berdo'a agar operasi ini berjalan dengan lancar dan putranya akan kembali sehat seperti dulu.

Lain halnya dengan Rafka yang mendapat penyemangat dari keluarganya, Zavian hanya seorang diri dia masih harus mempersiapkan mental untuk melakukan ini. Dia merasa takut, takut akan gagal.

"Kamu harus kuat ya. Saya yakin operasi ini akan berhasil," sang dokter disampingnya berusaha menenangkan hatinya yang terus gelisah.

"Lakuin yang terbaik untuk kakak saya,"

Dokter itu mengangguk lalu operasi pun dimulai Zavian di suntikan obat bius membuat dia berada di ambang kesadaran. Sebelum benar tidak sadar dia melihat ranjang di sebelahnya berisikan Rafka, dia tersenyum kemudian kesadaran mulai hilang.

"Aku harap ginjal yang ku berikan untukmu akan memberikan sebuah kesembuhan padamu, Kak."

'000'

Setelah menghabiskan beberapa jam operasi akhirnya selesai. Jihan sudah ada didepan pintu menunggu kedatangan sang dokter dengan harapan besar. Lampu operasi sudah mati itu arti operasi sudah selesai, dokter bersama seorang suster akhirnya keluar.

"Alhamdulillah, operasi pasien berjalan dengan lancar kita tinggal menunggu masa pemulihan saja. Kami akan tetap memantau kondisi Rafka, dan dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap,"

"Kami permisi,"

Jihan tak dapat menahan rasa bahagianya. Dia bersyukur Rafka masih mau bertahan, dia menahan segala sakit nya untuk kesembuhan menanti didepan sana.

"Mas, Rafka bisa sembuh. Aku bahagia, aku bahagia sekali!" Lirih Jihan berada dipelukan Bima. Bima juga sudah mengeluarkan air mata bahagia, satu putranya akan kembali baik-baik saja.

Ketakutan akan kehilangan sudah jauh, mungkin ini adalah jalan terbaik yang tuhan berikan untuk keluarganya.

Rafka sudah dipindah ke ruang rawat Jihan, Bima, Zen, dan Askara sudah menemani. Dokter memperbolehkan mereka untuk berada disana, walaupun harus berhati-hati untuk tidak menggangu istirahat pasien.

Hati Askara terbagi menjadi dua di satu sisi ia ikut bahagia, namun di sisi lain dia merasakan cemas. Zavian, dia susah sekali dihubungi nomernya sudah berkali-kali ia hubungkan tak ada jawaban, malah tidak aktif.

"Lo ngapain sih sibuk banget main handphone dari tadi!" Ketus Zen melihat Askara sibuk sendiri bersama ponsel genggamnya.

"Adek, dia ngga bisa dihubungi dari pagi. Gua takut terjadi sesuatu sama dia," jawab Askara guratan kecemasan terlihat membuat dia tidak bisa tenang.

"Yaelah biarin aja. Toh, Dia udah gede, paling lagi kerja, makanya telpon lo kaga diangkat!"

Askara berharap memang Zavian sedang bekerja, dia memutuskan sore nanti akan kesana untuk melihat Zavian berada disana atau tidak.

"Udah dari pada gelisah ngga karuan, mending mabar game sama gua. Yang kalah harus traktir makan," tantang Zen membuat Askara tersenyum remeh merasa tertantang.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kisah Si Bungsu [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang