12

2.8K 107 3
                                        

"Pasien Rafka bisa segera melakukan operasi 3 hari lagi. Jadi kami akan menunggu kondisi pasien membaik dulu, dan siap untuk melakukan operasi nya,"

"Kalau begitu kami permisi dulu,"

Semua mengangguk wajah bahagia Jihan tak luput dari sorotan semua orang. Jihan memeluk suaminya, dia bahagia akhirnya putra sulung nya akan sembuh.

"Yah, anak kita akan sembuh. Ngga ada kabar bahagia selain kesembuhan anak kita," ucap Jihan

Bima mengelus punggung sang istri dirinya juga sama bahagia. Kemarin memang sempat sedih mendengar salah satu anak nya sakit, tetapi kembali merasa bahagia anak nya bisa sembuh seperti sedia kala.

Di sebalik tembok rumah sakit berada cukup jauh dari tempat keluarganya berada Zavian mengintip disana. Dia ikut tersenyum melihat Jihan begitu bahagia. Hati ini merasa kelegaan atas kembali senyum manis terbit di wajah Jihan.

"Adek memang kecewa sama kalian. Tapi adek tetap sayang, kalau nyawa adek memang diperlukan untuk kalian hidup bahagia. Adek bisa lakukan saat itu juga,"

"Kak Rafka masih punya banyak mimpi untuk dicapai. Dia ngga bisa harus menahan sakit, jadi untuk mengganti biar adek aja yang sakit. Adek ngga apa-apa,"

"Adek harap dengan pengorbanan ini bisa buat kalian mau maafkan adek nantinya. Semoga saja..."

'000'

Askara mengajak kedua orang tua nya pergi ke cafe tak lupa mengajak Zen sekalian. Cafe dekat sekolah Zavian menjadi tempat favorit nya untuk sekedar melepas penat. Biasanya dia akan pergi kesini kalau memang benar-benar lelah akan tugas sekolah, apalagi dia adalah murid kelas akhir tugas begitu menumpuk belum lagi persiapan untuk masuk universitas.

Cafe ini di desain modern juga dengan tanaman yang begitu menyejukkan membuat ia betah lama-lama disini. Apalagi dia salah satu anak yang sangat menyukai alam.

"Kalian mau pesan apa?"

"Kalo gua sih makan aja, laper!"

Askara memanggil seorang pelayan lalu datanglah dia membawa menu makanan dan minuman yang tersedia di cafe.

"Saya pesan nasi goreng spesial dua, lobster saus tiram satu, fried chicken katsu satu, minumannya jus mangga," satu persatu pesanan pelayan itu catat.

"Ditunggu pesanannya," Askara berkontak mata langsung dengan pelayan tersebut. Awal nya dia masih belum sadar, sampai akhirnya dia kembali tersadar lalu melihat kembali pelayan yang masih sangat muda itu.

"Zavian,"

Orang yang ia lihat adik nya Zavian, kenapa dia bisa bekerja disini. Untuk apa? Dia masih bingung begitu banyak pertanyaan terkumpul di otaknya.

"Sayang, kamu kerja?" Jihan juga merasa kaget bisa bertemu si bungsu di cafe dengan sebagai pelayan.

Zavian langsung permisi dia harus mengantarkan pesanan ini ke dapur biar cepat dibuatkan. Sebenarnya dia hanya ingin menghindar saja, agar tak banyak pertanyaan mereka untuknya.

"Lo kenapa? Panik banget mukanya, abis ketemu setan kah?" Salah satu rekan kerja dia bertanya. Abis gimana ngga, muka Zavian terlihat panik seperti bertemu sesuatu menakutkan.

"Lebih seram dari itu," jawab Zavian sekenanya.

"Buset, apaan tuh!"

"Keluarga aku,"

Rekan kerja nya hanya bisa melongok. Keluarga? Apa yang seram dari sana. "Parah, keluarga sendiri di gituin. Gua kira beneran seram,"

"Tapi ini beneran seram, mereka kan ngga tahu aku kerja part time. Aku yakin bakal kena marah," cemas Zavian

Kisah Si Bungsu [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang