Pagi ini rumah sepi sekali, padahal menurut Zavian dia telat untuk bangun. Masih jam 06:13 kok rumah sudah sepi, kemana semua orang? Apa mereka pergi tanpa dirinya, lalu tujuan kemana jika benar pergi.
Sebuah telpon dari Mama mungkin akan menjawab semua. Dia mengangkat lalu menjawab, serta bertanya dimana mereka semua sekarang.
"Bunda dimana? Adek dirumah sendirian," baru bangun tidur dia masih belum tahu apa-apa. Tiba-tiba rumah sepi, bagaimana tidak bingung.
"Bunda dan yang lain ada dirumah sakit," suara Jihan terdengar bergetar menahan sesuatu.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" Bingung Zavian
"Kak Rafka, adek kesini ya? Mau Bunda jemput atau adek bisa pergi sendiri?"
Jantung Zavian seolah berhenti berdetak, seperti dia salah mendengar ucapan sang Bunda. Rafka? Ada apa dengan Kakak sulungnya, bukannya kemarin dia terlihat baik-baik saja.
"Kakak kenapa?" Hanya itu satu kata terekam didalam otak nya.
"Bunda masih belum tahu keadaan kakak kamu, kamu cepat kesini. Sekalian sarapan disini, Bunda ngga sempat masak apapun dirumah,"
"Iya, Bun!"
Zavian berdiri mematung melihat keluar jendela panas menyentrik sekali menyinari seisi bumi.
Jiwanya seolah pergi berkelana jauh, sudah tak mengingat apapun. Hanya Rafka, Rafka dan Rafka. Bagaimana dia disana? Baik-baik saja kah dia, apa justru sebaliknya.
000
Zavian datang dengan cepat ke rumah sakit. Dia tadi langsung buru-buru mandi lalu tak menunggu lama dia pergi ke rumah sakit ini, pakai taksi.
"Kakak, gimana Bun?" Baru saja sampai napasnya pun masih tersendat karena berlari kesini.
"Belum pasti. Masih di tangani dokter, Kakak sempat ngeluh sakit pada perut bagian kirinya. Bunda kira hanya masuk angin ternyata salah,"
"Kakak pingsan, jadi cepat-cepat Bunda bawa kesini. Takut terjadi sesuatu berbahaya,"
Zavian ingin melihat dari jendela tetapi ditutup begitu rapat. Tak ada celah untuk ia mengintip, dia gelisah sambil menunggu kabar.
"Sebelum itu Kakak ngga pernah ngeluh apapun?" Tanya Zavian
Jihan menggeleng. Dia tidak banyak mengetahui kondisi satu persatu putranya, kesibukan membuat dia mengabaikan mereka.
"Ini salah Bunda. Bunda terlalu sibuk sama urusan kerja, Bunda terlalu mengabaikan kondisi kesehatan kalian,"
Bun, ini bukan salah Bunda. Sudah takdir, stop bilang seperti itu!"
Keadaan langsung hening sesaat. Sudah tak ada percakapan lagi yang keluar, menunggu kabar kondisi dari dokter mengenai keadaan Rafka.
"Lo senang kan?" Tanya Zen. Mata nya menatap tajam pada Zavian. Semua yang ada di rumah sakit menoleh, menatap dirinya.
"Lo pasti dendam sama Rafka, maka nya do'a in dia buruk-buruk. Kita berdua udah naruh kebencian sama lo, mana mungkin lo ngga dendam!" Pernyataan Zen membuat Jihan juga Bima terkejut.
"Zen..." Jihan menatap putra kedua nya, dia meminta penjelasan untuk ucapan barusan.
"Kak Rafka, aku benci dia karena dia lah penyebab Melvin dan Yohan mati. Mama merasa ngga terima, dia memang pantas. Kalau ngga ada dia mungkin kedua saudara aku masih hidup sampai sekarang,"
"LO PASTI YANG NYUMPAHIN KAK RAFKA MATI, KAN. JAWAB BAJINGAN!!"
"ZEN,"
Atmosfer di ruangan langsung terasa begitu menegangkan. Bima berteriak mata menyilat emosi, napas menggebu berusaha menahan amarah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Si Bungsu [END]
Novela Juvenil______________ "Adek minta maaf, Kak!" Sebuah kesalahpahaman membuat ia kehilangan kepercayaan dan kasih sayang kedua kakaknya. Zavian hanya ingin mendapat kan kata maaf itu, sebelum semuanya benar-benar semakin berantakan. ______________ Publish...
![Kisah Si Bungsu [END]](https://img.wattpad.com/cover/371311074-64-k762050.jpg)