"Sudah hari ke lima Adek menghilang. Aku harus gimana? Apa adek baik-baik saja diluar sana, adek sudah makan atau belum?" Gumam Jihan menatap bingkai foto berisikan putra bungsunya, sudah hari ke lima dia belum menunjukan apapun untuk kembali pulang.
Selama itu juga Jihan hanya bisa menangisi hilangnya Zavian, tidak bisa banyak berbuat sebab sudah kemana pun ia mencari namun tak jua menunjukkan hasil tetap.
"Seharusnya Bunda urus adek juga, Bunda terlalu senang karena Rafka kakak kamu mendapatkan donor ginjal pada saat itu. Padahal kamu juga membutuhkan Bunda,"
"Kamu sakit, tetapi Bunda sudah lalai dalam mengurus kamu. Lagi-lagi Bunda mengabaikan kamu, adek pasti kecewa banget sama Bunda, ya sayang..."
Jihan slalu mengabaikan kehadiran Zavian sejak hari itu terjadi. Dia masih terikat rasa benci, sudah berusaha menghilangkan rasa itu tetap saja dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kepergian kedua putranya karena takdir.
'000'
Zavian duduk asik bermain di taman komplek perumahan nya. Dia tak sendirian, bersama kedua kakaknya. Mereka bertiga menikmati senja di sore hari terasa sangat indah di selingi bercanda dan tawa mereka.
Hari ini terasa begitu menyenangkan, sudah lama tidak membuat momen indah bareng karena sudah sama-sama sibuk.
Melvin Kakak ketiga Zavian dia disibukan oleh les private dan les bermain piano nya, Yohan kakak keempat nya dia disibukan dengan olimpiade matematika kelas menjadi perwakilan sekolah.
"Udah lama kita ngga main bareng kaya gini. Biasanya adek slalu main sama Kak Aska sama Kak Zen aja, sekarang bisa main sama kalian berdua!"
"Adek senang sekali," Zavian memeluk kedua kakaknya. Tak dapat ia sembunyikan rasa bahagia ini, sudah lama sekali.
"Kakak juga senang bisa main sama adek lagi. Maaf ya Kakak masih sibuk, soalnya les private dan piano kakak sangat penting jadi ngga bisa Kakak tinggal kan begitu saja,"
"Adek tahu kok. Kakak mau kalau sudah besar nanti jadi pemain piano hebat kan? Kaya idola kakak itu,"
Melvin mengangguk dia mencubit pipi tembam Zavian. Semakin hari semakin berisi saja, menambahkan kesan kelucuan pada anak ini.
"Kakak juga sibuk sama olimpiade sekolah, ngga menutup kemungkinan Kakak ingin jadi orang pintar dimasa depan,"
"Kakak ingin membanggakan Mama dan Papa dengan prestasi kakak sendiri. Jadi masih belum bisa luangin waktu banyak buat kamu,"
"Kalo adek bisa apa yah? Buat banggain Mama sama Papa," celetuk Zavian merasa jauh sekali dengan kedua kakaknya yang kelewat pintar.
"Adek suka melukis kan? Sama kaya kak Aska, kenapa ngga kembangin lagi. Siapa tahu adek juga bisa jadi pelukis terkenal, masa depan ngga ada tahu, dek."
Zavian memang terbilang susah untuk memahami pelajaran sekolah, mungkin karena masih kecil juga. Tapi dia berbakat dalam hal melukis, sering kali dia menghabiskan waktu untuk melukis bersama Askara di halaman belakang rumah.
"Adek, kemampuan seseorang memang berbeda-beda. Kakak jago dalam bidang pelajaran, kak Melvin piano, kalo kamu melukis. Semua sudah dalam posisi masing-masing jadi adek ngga perlu merasa minder,"
Zavian mengangguk paham senyum semakin lebar. Dia bersyukur memiliki kedua kakak begitu pengertian, tadinya dia sudah minder kalau mereka terlalu pintar. Namum kembali merasa percaya diri akan kemampuan yang ia punya.
"Adek mau beli eskrim?" Tanya Yohan saat melihat di seberang jalan sana ada tukang jualan eskrim keliling. Disini cukup banyak penjual makanan, minuman yang mangkal jadi sudah tak heran lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Si Bungsu [END]
Teen Fiction______________ "Adek minta maaf, Kak!" Sebuah kesalahpahaman membuat ia kehilangan kepercayaan dan kasih sayang kedua kakaknya. Zavian hanya ingin mendapat kan kata maaf itu, sebelum semuanya benar-benar semakin berantakan. ______________ Publish...
![Kisah Si Bungsu [END]](https://img.wattpad.com/cover/371311074-64-k762050.jpg)