______________
"Adek minta maaf, Kak!"
Sebuah kesalahpahaman membuat ia kehilangan kepercayaan dan kasih sayang kedua kakaknya.
Zavian hanya ingin mendapat kan kata maaf itu, sebelum semuanya benar-benar semakin berantakan.
______________
Publish...
"Aku memang ingin mendapatkan kata maaf kalian. Tetapi, kalau seperti ini aku juga lelah untuk mengejarnya." Zavian Bumi Narendra
* * * * * *
"Syukurlah kamu sudah bisa pulang hari ini. Harus jaga kesehatan, jangan lupa minum obat teratur. Kalau ada sesuatu tidak enak bisa konsultasi kesini," Dokter merupakan paman Yusuf memberikan sebuah wejangan kepada pasiennya.
Yusuf ada disana untuk mengantarkan Zavian pulang kerumah.
"Makasih dok, berkat dokter saya masih bisa bernapas dan melihat dunia ini. Kalau bukan bantuan dokter mungkin saya sudah tidak selamat,"
"Jangan berlebihan. Berkat bantuan sang pencipta juga saya bisa menolong kamu. Sudah sekarang kamu pulang, kalian berdua hati-hati dijalan!"
Yusuf bersalaman dengan pamannya begitupun Zavian. Mereka berdua pergi dari rumah sakit, Yusuf membantu memapah temannya agar bisa berjalan.
Kaki Zavian masih terasa lemas belum sepenuhnya tenaga ia pulih. Wajahnya juga masih terlihat sedikit pucat. Perutnya agak nyeri dipaksa untuk berjalan, dia masih berusaha menahan sakit ini.
"Kak, sebelum pulang boleh ngga kita ke taman dekat perumahan Lily? Entah kenapa aku ingin kesana," Zavian berhenti sejenak melirik Yusuf sedang menatap balik ke arahnya.
"Boleh. Mau kesana, ayo!"
Zavian diam-diam tersenyum tipis. Dulu dia sering menghabiskan waktu disana, Beberapa tahun sebelum kejadian itu ada. Sekarang, dia baru berani kesana lagi. Untuk melepas rasa rindunya pada dua sosok telah pergi jauh.
* * *
Zavian merasa Dejavu di taman ini. Terakhir kali dia kesini bersama Melvin serta Yohan. Bercerita tentang bagaimana sulitnya masa sekolah, impian mereka saat sudah dewasa nanti, nyatanya semua berbalik apa yang mereka bicarakan.
Hari itu juga mereka pergi ditempat ini. Dengan jarak waktu berdekatan, menimbulkan rasa trauma tersendiri bagi Zavian. Trauma akan kehilangan seseorang dalam sekejap mata, rasa sakitnya sungguh luar biasa.
"Sudah ngerasa senang? Gimana disini suasana bagus, kan. Gua aja suka," tanya Yusuf
Anak itu hanya merespon dengan anggukan kecil saja. Masih teringat kalau dulu dia sering mengunjungi tempat ini bersama kedua kakaknya. Melvin dan Yohan, mereka bertiga sering bermain disini atau hanya ingin mengadem saja.
"Dulu ini tempat favorit aku. Tapi semenjak kejadian ngga mengenakan aku ngga pernah kesini lagi," tutur Zavian. Ingat betul bagaimana kejadian nahas yang menimpanya beberapa tahun lalu, membuat dirinya merasa takut untung datang kesini.
"Berarti kalo Kakak ajak kamu kesini. Gak apa-apa? Kamu mau,"
Zavian mengangguk sebagai respon. "Boleh. Aku juga suka sama tempat ini, suasananya bisa bikin hati adem."
Zavian sedikit tersenyum melihat bagaimana Yusuf memperlakukan begitu baik. Dia merasa ada sosok kedua kakaknya, seperti ada Melvin dan Yohan di sebalik raga orang dihadapan nya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.