Pagi kali ini suasana terlihat berbeda, hening juga menegangkan. Zavian sarapan dengan diam tanpa fokus pada hal lain. Sejak pulang kemarin dia tidak banyak bicara, tak banyak melakukan apapun bersama keluarganya.
Lebih banyak menghabiskan waktu dikamar untuk belajar. Dia sudah ketinggalan pelajaran, jadi harus mengejarnya kembali agar tetap dapat nilai bagus saat ujian nanti.
"Adek pamit," dia menyalami tangan Bunda dan ayahnya. Lalu pergi tanpa mengucapkan apapun kecuali mengucapkan salam sebelum keluar rumah.
"Adek bakal di pecat ngga ya. Satu Minggu adek bolos kerja, sekolah adek juga gimana?" Dua hal dia pikirkan sejak semalam, kira-kira bagaimana tanggapan guru saat tahu dia tak ada kabar selama satu minggu.
"Coba aja deh. Lagian kalo ngga dijalani mana tahu, paling adek bakal kena hukum!"
*
*
*
"Zavian kemana saja kamu. Satu minggu tidak ada kabar?" Tanya seorang guru merupakan wali kelas dia sendiri.
"Saya ada urusan penting," alasannya mungkin agak tidak logis mana mungkin dia bilang kalau dia koma dirumah sakit. Kalau nanti wali kelas bertanya pada orang tuanya bagaimana? Dia tak mau mereka tahu soal ini sekarang.
"Jangan bohong sama saya kamu. Orang tua kamu saja tidak tahu kamu pergi kemana!" Sentak guru tersebut.
"Beneran pak ada urusan penting harus saya urus. Saya memang tidak memberitahu siapapun. Karena menurut saya ini urusan pribadi." Sahut Zavian sangat berusaha meyakinkan sang guru agar bisa percaya padanya.
Melihat raut wajah serius pada Zavian guru itu akhirnya mengangguk. Dia berpikir semua orang pasti punya masalah pribadi, yang harus diselesaikan oleh dia sendiri tanpa campur tangan orang lain.
"Baiklah, sebagai hukuman kamu bersihkan seluruh toilet laki-laki tanpa terkecuali. Berani bantah, saya laporkan hal ini pada orang tua kamu!"
Zavian mengangguk setelah mengerti, dia pun pamit keluar untuk melaksanakan hukuman nya. Guru tersebut membalas dengan sebuah senyuman tipis, lalu mempersilahkan muridnya untuk keluar.
"Ngga apa-apa deh, dari pada adek dilaporin ke Bunda mending gini aja. Lagian ini ngga terlalu berat, ayo Zavian semangat!"
Sudah hampir 3 jam Zavian terus berkutat membersihkan kamar mandi dia mengelas sisa keringat yang ada di wajahnya. Tinggal kamar mandi ini dan terakhir maka hukumannya akan selesai. Ternyata berat juga menyesal dia bilang kalau ini ringan, pinggangnya bahkan terasa begitu pegal.
"Oke selesai," teriak Zavian dengan senyuman lebar lantas berjalan keluar menuju ruang guru untuk melaporkan bahwa dia sudah menyelesaikan hukuman ini.
"Permisi pak, saya mau lapor kalau tugas saya sudah selesai!"
"Baiklah, kamu boleh istirahat sekarang. Setelah ini saya harap kamu bisa lebih rajin untuk sekolahnya. Sudah sana pergi, saya masih banyak kerjaan."
Zavian pun pergi menuju kantin untuk beli makan perut terasa lapar. Apalagi 3 jam lebih dia habiskan untuk membersihkan kamar mandi tadi. Tenaga serasa di kuras habis, sudah lemas sekali.
Sudah sampai pada antrian ada seseorang memanggil namanya. Membuat dia menengok penasaran siapa orang itu.
"Galih?"
"Zavian, anjir lo! Kemana aja, ngilang sampe seminggu?" Galih berteriak heboh melihat temannya sedang mengantri di kantin untuk membeli makanan.
"Ada urusan penting pokoknya. Kamu bisa kecilin suara kamu, malu dilihat anak lain," jujur mendengar teriakan Galih dia agak malu sebab perhatian murid lain langsung tertuju padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Si Bungsu [END]
Teen Fiction______________ "Adek minta maaf, Kak!" Sebuah kesalahpahaman membuat ia kehilangan kepercayaan dan kasih sayang kedua kakaknya. Zavian hanya ingin mendapat kan kata maaf itu, sebelum semuanya benar-benar semakin berantakan. ______________ Publish...
![Kisah Si Bungsu [END]](https://img.wattpad.com/cover/371311074-64-k762050.jpg)