Ekstra part

4.2K 102 7
                                        

>>>>>>

"Suster, apa ada perkembangan keadaan Askara?" Rafka baru saja datang untuk menjenguk Askara di rumah barunya. Dia baru saja sepulang kuliah sengaja ingin menjenguk kesini.

"Belum ada mas, mas Askara masih tetap sama seperti tiga tahun lalu. Kalau mas mau melihatnya dia ada di taman sana,"

Rafka mengambil napas dalam lalu mengangguk berjalan ke depan untuk ke taman sini.

Rafka, langkah kaki terasa memberat setiap ia melangkah ke depan. Melihat tempat yang penuh dengan pasien memiliki gangguan kejiwaan, membuat dia merasa semakin sesak.

Sudah sering kali dia datang kesini selama tiga tahun terakhir dia slalu menginjakkan kaki ke tempat ini. Bukan karena menolak datang ke tempat ini dia hanya tak siap melihat keadaan Askara yang sangat membuat dia ingin menangis.

"Askara, kakak datang lagi. Kamu tidak mau menyambut kedatangan kakak? Kakak datang kemari untuk kesekian kalinya,"

"Kamu tidak mau memeluk Kakak sekali saja. Kamu harus cepat sembuh ya, kasian bunda slalu menunggu kamu dirumah," tambah Rafka dia mengelus rambut adiknya dengan penuh kasih sayang. Askara tidak merespon dia hanya diam menatap kosong ke depan. Tidak ada semangat di wajahnya, semua hanya ada kesedihan.

"Zavian ..." racau Askara membuat hati Rafka semakin sakit. Tatapan matanya kosong entah kemana, pikiran kacau. Terlalu banyak hal yang dia rasakan membuat Askara depresi apalagi setelah kehilangan Zavian di tiga tahun lalu. Rasa bersalah juga membuat dia semakin berantakan, semua pikiran sudah tak bisa dikendalikan sampai dia menjadi seperti ini sekarang. Pasien di rumah sakit jiwa, tinggal bersama orang-orang yang memang kejiwaan mereka terganggu.

"Askara, kamu kangen sama adek ya? Askara harus sembuh adek ngga mau kamu terus sedih, adek mau kita bahagia. Seperti ucapan adek ...."

"Kamu mau harus sembuh, kita bisa berkumpul kembali. Ayo terus berjuang, jangan menyerah. Kamu pasti bisa," Rafka sudah menitikan air mata, Askara masih tidak merespon ucapan nya. Dia tahu semua mungkin akan sia-sia, tapi dia akan tetap mengusahakan kesembuhan Askara.

Semua harus baik-baik kembali, semua harus bahagia. Rafka akan terus berusaha keras untuk mencapai itu semua.

"Kakak pulang dulu ya. Ayo kakak antar kamu ke kamar, kamu harus istirahat terus minum obat."

Rafka membaringkan Askara lalu menyelimuti tubuh itu dengan selimut. Saat dia ingin pergi tangannya ditahan Askara, tak di duga anak itu malah tersenyum lebar yang sudah lama tak ia tunjukan.

"Makasih, tolong bantu aku untuk sembuh." Perkataan itu malah membuat Rafka menangis kencang dia memeluk Askara. Mencium keningnya berkali-kali, setelah beberapa lama akhirnya Askara mampu merespon.

"Kamu juga harus semangat, kakak bakal terus bantu."

Askara mengangguk kecil dia mengusap jejak air mata Rafka, sekali lagi Rafka merasa bahagia ada kemungkinan besar adiknya menuju kesembuhan.

Askara bisa kembali dalam rengkuhan nya, dia pasti sembuh.

000

Bughh

"Jangan pernah lo bilang kalau adek gua udah mati. Dia masih hidup, anjing! Paham bahasa manusia kaga sih lo, hah!" Zen berteriak kencang didepan teman kuliahnya karena sudah berhasil membuat emosi nya memuncak.

"Kenapa lo marah? Ucapan gua bener loh. Adek lo emang udah mati,"

"Zen, Zen. Gua miris lihat lo kaya gini, harusnya lo sadar dengan lo begini malah makin keliatan menyedihkan. Lo nyesel kan? Udah perlakuin adek lo dengan buruk,"

Kisah Si Bungsu [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang