20. Trust issues

13 3 1
                                        

Happy Reading ^•^



Ting tong ting tong ting tong

Suara bel rumah Rein berbunyi, terdengar ditekan berkali-kali tidak sabaran. Sehingga mengusik tidur Rein saat ini.

Rein pun mengusak rambut nya kesal, melihat jam masih menunjukkan pukul setengah empat pagi.

Ting tong ting tong ting tong

"Siapa sih fakkk, masih pagi buta gini mencet bel." Gerutunya lalu segera berlari kecil menuju gerbang rumah nya.

Dengan mata yang masih mengantuk. Ingin sekali Rein menyempit ukuran halaman rumah nya ini. Agar ia cepat sampai ke gerbang rumah nya.

Bagaimana tidak, Rein selalu kewalahan bolak-balik sehabis membukakan gerbang rumah jika ada tamu yang berkunjung ke rumah nya.

Memang ide kedua orang tua Rein yang ingin memiliki taman dan air mancur di depan rumahnya dulu. Tetapi belum terlaksana dan masih di tanami beberapa pohon mangga dan tanaman yang lainnya.

Tetapi ada sisi menguntungkan mempunyai
banyak pohon mangga. Karena jika panen, Rein akan mendapatkan keuntungan setelah menjual buah yang dia panen, dan tentunya Rein juga dapat menikmati buah mangga di depan rumah nya yang memiliki rasa manis dan mempunyai daging tebal.

Rein juga tidak mengetahui pohon mangga jenis apa yang  ditanam oleh kedua orang tuanya. Dan tidak berkeinginan untuk mencari tau jenis pohon nya juga.

Rein terkejut setelah membuka pintu gerbang. Bagaimana tidak, tiba-tiba seseorang didepannya sekarang memeluk nya erat.

"Im so sorry, baru bisa pulang sekarang Re, miss you so bad."

Ternyata Marko. Rein pun membalas pelukan kakak laki-laki nya tersebut. Rein sangat rindu sekali. Melupakan kekesalan Rein karena tidur nya terusik. Mendadak Rein merasa merasa senang dan terharu akan kedatangan Marko.

"Kenapa baru kesini, gue kesepian mark, jangan lama-lama lagi pulangnya, gue takut." Ucap Rein sambil menangis. Menumpahkan perasaan yang selama ini ia pendam.

"Im here, jangan takut, maafin gue Re, kedepannya bakal gue usahain biar bisa sering-sering jenguk kesini." Ujar Marko lalu mengusap kepala Rein untuk menangkan.

Dalam lubuk hati yang paling dalam, Marko merasa bersalah karena meninggalkan adik satu-satunya sendirian.

"Males nge maafin, mana titipan vinyl gue?" Tanya Rein lalu melepas pelukannya.

Memang, Rein sangat suka mengkoleksi vinyl. Tidak jarang juga Rein mendengarkan musik lewat turntables.

Kualitas suara pada piringan hitam lebih detail dan alami karena proses rekamannya yang dilakukan secara analog. Membuat Rein lebih nyaman saat mendengarkan nya.

"Di bagasi mobil, Little Mix sama sist Demi, gue beliin svq matcha juga tuh." Jawab Marko yang membuat mata Rein berbinar.

"Paling the besttt emang kak Marko ini." Puji Rein membuat Marko memutar bolanya malas.

"Giliran dikasih jajan aja langsung pake embel-embel kak." 

"Ehehehehe tau aja sihh, lo gak bawa kunci rumah apa? kok mencet bel tadi." Tanya Rein keheranan. Pasalnya Marko juga mempunyai kunci gerbang dan rumah ini.

"Lupa gak bawa buru-buru ngejar jam pesawat kemarin, ketiduran gue." Mark pun berjalan untuk membuka gerbang rumahnya lebih lebar.

Berniat mau memasukkan mobil BMW X4 berwarna Glacier silver Mettalic yang baru saja kedalam halaman rumah nya.

Artha BiruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang