[25] - Obrolan Dua Hati yang Patah

240 16 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebenarnya tidak ada rencana sama sekali dari keduanya untuk bertemu di hari ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebenarnya tidak ada rencana sama sekali dari keduanya untuk bertemu di hari ini. Baik Gigi maupun Bintang bahkan tidak sedekat itu untuk sekadar mengobrol membahas masalah personal mereka— atau lebih tepatnya masalah percintaan di antara keduanya. Ya, ini kali pertama mereka mengobrol berdua di luar kepentingan himpunan.

"Ya pokoknya gitu lah, Gi. Aku sekarang beneran bingung sama maunya Mbak Zalva. Ya oke lah, kalo emang mau jauhan dulu, tapi kaya aduh gak iso aku, Gi."

"Hemmm, susah ya, Tang. Tapi, kamu pernah nyoba nembak Mbak Zalva lagi nggak setelah terakhir kali kamu confess, yang mana berarti itu udah lebih dari satu tahun yang lalu ya?"

"Belum," terdapat jeda sejenak dari Bintang,
"... aku ngerasa Mbak Va udah nyaman sama status kita yang gini-gini aja, tiap aku ngomongin buat kaya memperjelas gitu de'e langsung ngalihin topik gitu loh, Gi.."

"Kamunya nyaman juga kaya gitu terus?"

"Sedikit sih," jawab Bintang ragu diiringi kekehan kecil.

"Kalo saranku sih ya, coba kamu perbaikin dulu tuh. Karena sepenangkapan aku, dari ceritamu tadi, kalian nggak ada yang nyoba reach out dulu setelah kalian tengkar terakhir di kosmu itu?" Pertanyaan dari Gigi hanya mendapat anggukan singkat dari Bintang.

"Ck gini nih, cewek tuh gengsinya gedhe, Tang. Kalo kamu ikutan ngalahin gengsinya cewek mah bakal susah"
"... saranku nih ya, ini saran aja loh"

"Iyo, Gi,"

"Kamu ajak ngobrol Mbak Zalvanya, kamu inisiatif dulu lah pokoknya, kalau udah ngobrol kamu coba perjelas lagi hubungan kalian mau gimana ke depannya. Tegas dikit lah sama diri kamu sendiri. Aku paling sebel sama orang yang HTS-HTS gituan. Buang waktu. Gak jelas lagi, kaya apa sih yang kalian cari dari hubungan gak jelas itu?"

"Yo dari pada kena friendzone, Gi. Sama ae kataku." Balas Bintang dengan cengirannya, niatnya sih untuk menggoda Gigi.

"Anjirrr"

"Hahahaha tapi yo makasih, Gi. Kayanya emang aku perlu ngobrol sama dia. Setelah kupikir-pikir emang capek sih kalau nggak ada kejelasan gini. Mau cemburu juga gak ada hak, ujung-ujungnya cuma mendem doang"

"Nah betul tuh, kalaupun mbaknya tetep nggak mau ya udah lah, Tang. Masih banyak cewek cantik di AP"

"Emang banyak, tapi maunya sama Mbak Zalva"

"Dasar bulol"
"Tapi emang Mbak Zalva tuh kek gimana ya, Tang, cantiknya tuh beda, aku aja dulu kagum banget. Nih ya, aku yang cewek aja naksir sih. Apalagi kalian yang cowok-cowok. Kalo ngomong juga aduh anggun bangett. Harus didaftarin duta kampus nggak si besok. Ah iya, besok aku bilang dulu deh." Dumel Gigi yang tidak mendapatkan sahutan dari Bintang. Tampaknya, Bintang sedang menerawang kembali bagaimana paras cantik dari perempuan yang tidak memiliki kejelasan hubungan dengannya itu. Sangat setuju dengan ucapan Gigi, dipikir-pikir, Bintang termasuk salah seorang yang beruntung karena berhasil dekat dengan primadona AP itu. Ya, meskipun tanpa kejelasan hubungan di antara keduanya.

"Gantian, Gi. Sekarang kamu yang cerita" setelah berkecamuk dengan pikiran masing-masing, kembali Bintang memulai obrolan mereka berdua. Sembari menunggu Gigi yang masih mengawang-awang hal apa yang akan ia ceritakan ke dirinya, Bintang kembali meminum Greentea Latte-nya yang tersisa setengah gelas itu.

"Dih gak mau, nanti kamu malah nyampein ke Dewa"

"Enggaaak, aman ae, Gi. Aku yo agak kesel karo de'e. Jadi cowok tapi plin-plan"

"Oh ternyata sama aja ya sirkel cowok, kalo di belakang juga suka ngomongin gitu" ucap Gigi dengan nada yang dibuat-buat seakan ia baru mendapatkan suatu fakkta yang baru.

"Yo, ndak gitu,"

"Tapi ya, Tang. Kalo kamu pribadi misal ada yang confess ke kamu duluan gimana reaksimu?"

"Yo gimana, aku biasanya cuma bilang makasih paling?" Ucap Bintang ragu. Gigi baru sadar, yang diajak mengobrol ini adalah Kadamtara Bintang. Sebelas dua belas dengan Kadewa, salah satu everyone's crush di AP kalau kata Laras.

"Yaa, salah nanya aku" jawabnya yang mendapatkan kekehan dari Bintang.

"Tapi beda cerita, Gi, kalau kamu confess ke Dewa. Secara kalian temen to, dari maba malah udah deket seingetku"

"Makanyaaaa, aku bingung... ditambah akhir-akhir ini dia emang deket sama Zeva. Iya kan, Tang, bukan cuma aku aja yang nyadar"

"Hooh, emang deket mereka, tapi yo kui, terikat sama aturan yang satu organisasi gak boleh pacaran, terlebih Dewa kahim, Gi"

"Tadinya aku kaya mau confess beneran, malah rasanya gak mau nunggu sampe demis. Takut keburu dia suka sama yang lain. Cuma, setelah dipikir-pikir, kaya gini aja nggak apa deh. Aku takut juga malah kehilangan sosok Dewa as temen yang beneran baik banget ke aku, ya kadang emang pengen egois, cuma kayanya malah bakal ngerugiin banyak orang,"
"... dan, selagi dia bahagia mah, kayanya aku juga bakal ikut senang sebagai teman dia, jadi biar gini aja nggak papa" ucap Gigi diakhiri dengan helaan napas yang cukup panjang.

"Sabar, Gi." Bintang hanya dapat menepuk pundak Gigi, berharap mampu sedikit memberi penenang untuk sosok wakahimnya itu. Ia merasa kasihan, karena mau bagaimanapun Bintang paham betul dengan tabiat Kadewa yang memang baik dan suka memberi perhatian lebih, terlebih orang itu sudah dianggap teman dekat Kadewa. Perasaan Gigi pun tentu valid, tidak bisa disalahkan juga. Mungkin untuk sekarang, Bintang belum bisa membantu banyak. Ia hanya bisa menjadi teman cerita Gigi, karena mau bagaimana pun, Bintang juga salah satu teman dekat Kadewa. Hanya saja, mungkin ia akan mencoba menyadarkan Kadewa dengan kemungkinan yang terjadi atas perhatian yang ia berikan, baik ke Gigi ataupun Zevani.

Percakapan mereka terus berlanjut hingga sore hari, mulai dari membahas proker, ghibah in DPO-nya yang nggak lulus-lulus padahal sudah memasuki semester ke-13 (sebentar lagi kena DO tuh), dan beberapa topik yang sedang hangat dibicarakan di lingkungan Fisip, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk kembali ke kos masing-masing. Tentunya dengan pikiran yang penuh akan kemungkinan dari permasalahan hubungan rumit dari keduanya; ya, begitulah sedikit obrolan dari dua hati yang sedang patah.

MODERASITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang