Sudah sepatutnya rapat internal divisi ini menjadi agenda rutin masing-masing divisi pada setiap bulannya, tidak terkecuali dengan divisi Litbang. Divisi yang bisa dikatakan paling adem ayem dari awal formaturan. Divisi yang ramenya hanya karena pertengkaran dari kadiv dan wakadivnya itu. Ya, mau bagaimana lagi, divisi yang hanya memiliki enam anggota itu masalahnya hanya karena pertengkaran rumah tangga antara Naren dengan Caca-- yang biasanya disebut sebagai ayah dan bundanya litbang.
Saat ini, terlihat keenam anggota litbang ditambah staf acara semnas sedang berkumpul di gazebo taman dekanat. Rencana awalnya sih mau cross-check untuk terakhir kalinya masalah Seminar Nasional.
"Serius h-1 banget ini?" ucap Naren dengan nada yang sedikit kesal sedangkan manusia-manusia di depannya hanya diam menunduk.
"Maaf Mas, tapi dari asisten Pak Hanan emang slow respon banget, h-3 udah coba dihubungi sama Vika tapi gaada balasan sampe tiba-tiba semalem ngabarin kalo Pak Hanan masih dinas di Samarinda dan balik Jogjanya nanti malem. Asistennya bilang ngga bisa mastiin Pak Hanan berkenan hadir atau ngga," jelas Zeva selaku pic semnas tahun ini.
Melihat raut muka Zeva dan teman-teman acara yang terlihat lelah sekali membuat Naren berusaha menekan egonya. Bagaimana tidak khawatir, narasumber utama yang menjadi sorotan karena digadang-gadang menjadi narasumber yang susah sekali diundang di acara seminar kampus menyetujui menjadi narasumber di semnas AP tahun ini. Hanan Athallah merupakan seorang pengamat politik terkenal sekaligus dosen di salah satu universitas terbaik Indonesia. Wajar jika saat ini divisi litbang khawatir akan jalannya semnas besok. Iya, tinggal perhitungan jam sampai besok dan narasumber utama terancam batal.
Naren hanya bisa menghela nafas lelah, "Tapi ini seorang Hanan Athallah gais, banyak peserta milih dateng karena pengen liat beliau kan. Harusnya anak acara jangan cuma cross-check sekali doang, minimal 2 sampai 3 lkali lah buat fiks in beliau dateng. Zev, lu juga gue lihat-lihat agak slow respon akhir-akhir ini. Sibuk pacaran sama Kadewa apa gimana sih."
Caca yang sedari tadi memilih diam tidak bisa lagi menahan emosinya dan membanting buku yang ia pegang sedari tadi hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Naren dan yang lain sontak terdiam sedangkan Zeva tidak bisa lagi membendung tangisnya.
"Lo kalo mau nyalahin orang doang pergi dari sini Ren. Kita di sini sebagai SC, bapak ibu mereka yang harusnya kasih solusi bukan nyalahin" Caca menghela nafas sebentar, "Pamflet juga udah disebar yang mau ngga mau kita harus take a risk kalo Pak Hanan beneran ngga bisa dateng. Acara ada solusi lain ngga?"
"Anak acara sama Zeva sebenernya udah sempet diskusi semalem Mba abis bedah juknis. Ada dua solusi yang sebenernya dikasih sama asisten Pak Hanan yaitu beliau berkenan hadir tapi telat atau mau dialihkan lewat Zoom," jelas Friska staf litbang yang menjadi koor acara.
"Emm tapi kalo misal lewat Zoom bakalan ribet lagi ya, anak pdd juga belum dikasih tau kan?" tanya Caca sekali lagi. Friska hanya bisa mengangguk lesu.
"I..zin.. ma..suk..mas..mba" ucap Zeva yang masih sedikit terisak-isak membuat Caca segera berpindah tempat duduk di samping gadis itu,
"Tenangin diri dulu baru ngomong Zev, nggak pa-pa, kamu nggak sendiri kok."
Zeva menghela nafas setelah tangisnya perlahan mulai reda, "Sebelumnya mau minta maaf kalo selama jadi pic kurang membersamai semua divisi, terutama acara. Maaf ya Fris, kemaren sempet slow respon banget karena aslam tiba-tiba aja kambuh. Maaf juga buat Mba Caca dan Mas Narena karena aku nggak bilang ke kalian gimana kendala semnas padahal udah mepet banget gini."
"Gue minta maaf Zev dan semuanya juga tadi sempet emosi dikit, gue cuma mau semnas tahun ini berjalan lancar aja" ucap Naren dengan tatapan bersalah ke Zeva yang pada saat itu hanya dapat Zeva balas dengan anggukan saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
MODERASI
FanfictionAll about himpunan yang katanya 'asik' nyatanya 'bisa survive' aja udah syukur.
