SALAH PAHAM

106 15 3
                                        


Sementara itu Elang dan anak buahnya tengah membolos berkumpul menghalangi anak tangga, mereka sekarang sedang asik tertawa dan membicarakan tentang keberhasilan rencana mereka membuat Fauji berseteru dengan temannya.

"Rencana kita berhasil bos Hahaha"
"Idenya keren bos Hahaha..."
"Si bos pinter banget kalo soal ngadu domba orang"
"Paling abis ini mereka nyerah terus bikin video klarifikasi Hahaha"

Pujian demi pujian didapat oleh Elang dari anak buahnya, sifat sombong dan liciknya makin meronta-ronta. Tak cukup sampai disitu ternyata ia berlanjutkan rencana lain demi kepuasan hatinya sendiri.

"Bos, setelah ini kita bikin menderita si anak yang bikin kita viral" ucap salah satu anak buah Elang.
"Setuju banget"
"Nah iya gua gedek banget sama yang itu"
"Kalo bisa kick dia dari sini bos"

"Tenang aja, satu persatu dari mereka bakal gua bikin menderita" Elang menjawab itu dengan santainya.

"Menderita gimana maksudnya?" Tak disangka Agatya datang dari atas anak tangga, ia sudah mendengar semua ucapan dan rencana mereka selanjutnya.

Kedatangan Agatya membuat Elang dan anak buahnya terkejut, sontak mereka langsung berdiri dan belagak seakan-akan mereka tidak mengerti tentang ucapan Aga.

Aga menatap semua orang yang ada didepannya dan tatapannya berhenti di Elang "Lang, berenti bikin onar dan bully orang sana sini, bahkan tanpa lo sadari lo bikin sekolah ini makin dipandang jelek sama orang luar" kata Aga.

"Lo mending stop ikut campur urusan gua, ini sekolah bokap gua yang pegang jadi apapun yang gua lakuin semuanya bakal aman aja dan ini juga urusan personal gua sama mereka jadi gak ada yang berhak ikut campur" Elang membalas.

Aga tetap tenang menanggapi celotehan Elang "Meskipun bokap lo kepala sekolah gak semestinya lo semena-mena gini. Percuma visi dan misi bokap lo dipajang depan sekolah kalo kerjanya terus terusan ngelindungin kelakuan anaknya yang kayak setan" ujar Aga.

"Ngaca!"
"Lo sendiri sebagai Ketua OSIS udah ngerasa sempurna?"
"Bahkan lo sebagai Ketua OSIS yang Ka-Ta-Nya visi dan misi nya itu memberantas bullying, gak bisa menuhin visi misi lo sendiri" Kata Elang sambil menunjuk kearah wajah Aga.

Aga sedikit mengepalkan tangan pertanda ia tak setuju dengan ucapan Elang "Dengerin gua, visi misi gua ga bisa terpenuhi karna disini ada orang kayak lo yang terus terusan bikin masalah tapi malah tetep dilindungin, Ngerti?!!" Aga sedikit memplintir tangan Elang dan beranjak pergi meninggalkan mereka.

Langkah Aga terhenti dan kembali membalik badan "Oh iya satu lagi, Gak usah terlalu beranggapan diri lo selamanya aman karna kepala sekolah itu cuman bokap tiri lo, sewaktu-waktu dia juga bakal cape sama kelakuan lo yang kayak sampah" Aga melanjutkan langkahnya.

Elang yang mendengar ucapan Aga tak berkutik sedikitpun, "Jangan percaya, dia bohong soal itu cuman mau bikin malu gua doang" Ujar Elang kepada anak buahnya itu.

Bell pulang sekolah sudah berbunyi, pertanda pembelajaran hari ini telah berakhir semua anak berlari keluar kelas tidak terkecuali Sultan dan teman-temannya. Sultan masih teringat saran dari Bayu untuk mencoba berbicara dengan Fauji, ia pun berinisiatif mengajak kedua temannya Farhan dan Nabil untuk kembali berdamai dengan Fauji.

"Han, Bil"
"Apa sebaiknya kita ngobrol dan nanyain alasan Fauji marah-marah pas siang tadi?" Tanya Sultan.

"Menurut lo gimana han?" Nabil ikut bertanya kepada Farhan.

"Gua gak mau" Jawaban singkat dari Farhan yang sendari awal memang sudah muak dengan kelakuan Fauji yang terlalu egois. Lelaki itu berpaling melangkah meninggalkan teman-temannya.

Jawaban Farhan itu membuat Sultan dan Nabil hanya bisa diam karena mereka tahu bahwa Farhan dan Fauji memiliki sifat yang tidak beda jauh. Mereka berdua memiliki sifat egois yang tinggi beserta sifat pemarahnya, yang menjadi perbedaan adalah cara mereka menyampaian emosi didiri mereka, Fauji lebih mudah meledak-ledak dan mengeluarkan semua isi hatinya sedangkan Farhan lebih memilih untuk mendiamkan semua orang sampai emosinya reda dengan sendirinya.

"Bil, lo berdiri disitu terus ngapain?"
"mau pulang kagak?"
"gua tinggal nih" kata Farhan sembari melanjutkan langkahnya.

Nabil langsung beranjak pergi mengikuti Farhan
"Sorry Sul, kali ini ga bisa ikut" ujar Nabil.

Sultan hanya mengangguk dan membiarkan Nabil pergi bersama Farhan.

Nabil dan Farhan adalah sepasang sepupu bahkan Nabil menganggap Farhan adalah kakaknya sendiri, karena Nabil yang notabenya adalah seorang anak penakut jadi Farhan lebih sering melindungi Nabil. Bahkan sering kali ia tidak segan untuk menyerang orang-orang yang Nabil tidak nyaman.

Sultan memutuskan kembali kekelas untuk menemui Fauji yang saat itu sedang melaksanakan piket kelas ternyata dikelas hanya ada Fauji sendiri, meski sudah memiliki firasat yang kurang mengenakan Sultan tetap menunggu sampai pekerjaan Fauji selesai didepan kelas. Fauji yang menyadari kedatangan Sultan memilih untuk berlaku cuek dan tak melirik sedikitpun.

Melihat pekerjaan Fauji yang sedikit lagi selesai, lelaki itu memilih untuk mulai membahas masalah mereka.

"Ji, gua mau ngomong-"

"Ngapain?"
"Lo mending pulang, Gua muak liat lo disini"Belum selesai Sultan bicara tapi Fauji langsung memotong omongan Sultan.

"Ji, dengerin gua dulu" dengan nada rendah Sultan tetap memohon untuk didengar

"Pergi!" Meskipun Sultan sudah memohon tetapi Fauji malah mengusirnya.

Sultan masih bersikeras meminta Fauji untuk mendengarkan perkataannya karena ini adalah jalan satu satunya agar mereka semua kembali berkumpul "Ji, Gua mohon dengerin gua. Lo salah paham soal ini, Gua sama sekali ga pernah ngomongin kejelekan lo ke orang lain apalagi sampe koar-koar, Demi Tuhan gua gak pernah kayak gitu" kata sultan dengan mengangkat tangannya sembari nenunjuk ke atas.

"Lo pikir dengan lo bawa bawa Tuhan gua bakal percaya?"

"Kalo emang lo gak pernah koar-koar kenapa orang-orang pada ngelirik sinis ke gua, seakan-akan mereka tau sesuatu tentang gua yang bahkan gua sendiri gak tahu itu" ujar Fauji

"Siapa yang ngasih tau lo soal itu?" Tanya Sultan

Pertanyaan itu membuat Fauji tidak bisa menjawab karena sebelumnya ia di ancam oleh Elang untuk tidak memberitahu dari mana ia mendapatkan informasi itu.

Sultan yang menyadari bahwa temannya itu tidak bisa menjawab pertanyaannya, dia mendekat dan sedikit memelankan suaranya "Jawab Ji".

Bukannya menjawab pertanyaan itu Fauji malah mendorong tubuh Sultan untuk menjauh dari nya, dia segera mengambil tas dan pergi berlari keluar kelas. Melihat itu Sultan hanya bisa diam karena ia tak bisa menahan ego temannya yang sangat keras kepala itu.

 Melihat itu Sultan hanya bisa diam karena ia tak bisa menahan ego temannya yang sangat keras kepala itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

HELLOOOO BESTIE~
JANGAN LUPA VOTE YA KARNA VOTE ITU GRATIS⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️

GULITA [END] || ZUO HANGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang