SPESIAL PART (6)

203 4 2
                                        


Terakhir kali Jeno datang mengujungi Karina membuatnya harus menerima amarah dari Donghae. Pasalnya Donghae selama ini mengawasinya 24 jam dan karna focus Jeno hanya pada Karina, ia sampai tak sadar bahwa selalu ada orang yang mengawasinya.

"Udah Dady bilang untuk menjauh dari Karina, JENOOO!!"ucap Donghae penuh penekanan dan menatap Jeno yang terduduk lemas dengan tajam.

"Dady udah tau juga kalau Karina bisa kaya gitu gegara dady yang ngirim kami ke INDONESIA DAN DIA HAMPIR MATI KARNA DADY!!!"balas Jeno tak kalah kerasnya dari Donghae.

"Mau berapa banyak uang lagi yang kamu habiskan? BERAPA BANYAK DADY HARUS MENANGGUNG KEBODOHAN KAMU ITU JENOO!!?"Donghae sudah mencapai puncak emosinya. Pasalnya selama ini Jeno selalu mengajukan hutang disana sini sehingga harus Donghae yang melunasinya.

"Jeno cinta dady sama Karinaa"ucap Jeno lemah dengan kepala tertunduk hingga ia tersenyum karna darah menetes dari bibirnya karna ulah dadynya itu.

Donghae melihat bagaimana keadaan anaknya ini hanya bisa menghela nafas panjanya sambil menutup matanya dan tak secara tak sadar air matanya luruh membasahi pipinya.

"Jeno udah kehilangan bunda dan Jeno gamau kehilangan satu perempuan yang penting di hidup Jeno lagi dady"ucap Jeno lirih sampai hampir tak terdengar karna tenaganya yang mulai hilang.

"Apakah Karina memiliki tempat yang sama dengan Bunda,Jen?"tanya Donghae dengan tatapan mulai menghangat melihat anak semata wayangnya ini dititik down.

Jeno hanya mengangguk lemah sambil tersenyum kecut mengingat bagaimana ia melihat sosok Irene di diri Karina, bagaimana ia mengira bahwa takdir dadynya mendapat sosok Irene telah terulang di diri Jeno dan bagaimana Jeno berfikir bahwa takdirnya dengan dadynya sama. Sama sama tak memiliki waktu yang cukup lama untuk saling mencintai dengan sosok Wanita yang paling dicintai.

"Jen"panggil Donghae sambil duduk didekat Jeno dan meneletangkan tangannya di sofa yang nyaman itu.

Jeno hanya menengok ke dadynya dengan tatapan lemah. Sudah tak ada yang ia pedulikan saat ini. Uang, harta, bahkan hidupnya sendiri jika bisa digantikan dengan kehidupan Karina yang baru.

"Kalo dady punya uang 271 Triliun, cukup ga buat perawatan Karina"tutur Donghae sambil memejamkan matanya yang membuat Jeno membelalak tak percaya.

"Maksud dady?"tanya Jeno sambil menghadap ke Donghae.

"Dady bisa jual perusahaan dady"jawab Donghae dengan posisi yang sama.

"Dady?"panggil Jeno lirih tak tau maksud Donghae. Perusahaan yang selama ini mati matian diperjuangkan oleh dadynya itu dan tiba tiba dadynya mengatakan bahwa ingin menjual perusahaannya.

"Ayo Jen, hidup sederhana"ajak Donghae sambil membenarkan duduknya menghadap balik anaknya dan terlihat ekspresi Jeno yang bingung. "Setelah dady pikir seharian kemarin, ternyata lebih baik kita hidup dengan seseorang yang kita cintai dari pada hidup dengan harta namun sendirian"lanjut Donghae yang tersenyum kecut dan pandangan yang kosong.

"Dad?"ucap Jeno lirih yang masih mencerna penjelasan Donghae.

"Kita bisa buka kedai Jen, kamu berkeluarga dengan Karina dan Dady bisa membuka kedai kecil untuk diri dady sendiri"ucap Donghae menatap anaknya itu dengan tatapan yakin.

"Dady ga bercanda kan dad? Perusahaan yang Dady perjuangkan separuh hidup dady?"tanya Jeno tak yakin dengan Keputusan Donghae.

Donghae melihat keraguan di mata anak semata wayangnya itu berusaha menyakinkan dirinya. "Dady udah pikirin baik baik Jen, ayo kita obtain Karina biar dia sehat. Dady gamau kamu kehilangan Karina sama seperti Dady kehilangan Irene"jawab Donghae dengan senyum menyakinkan Jeno.

Jawab Donghae itu sukses membuat air mata Jeno jatuh tanpa sadar. Jeno langsung memeluk Donghae dengan perasaan campur aduk. "Terimakasih Dady"ucap Jeno yang dibalas anggukan oleh Donghae.

***

Setelah kejadian tangis tangisan itu, benar saja Donghae telah bertemu dengan seorang yang hendak mengambil alih perusahaan.

"Saya tau bahwa anda memiliki hubungan dengan Mr Jaehyun"ucap Donghae.

"Dia memiliki banyak hutang dengan saya"sahut Sehun di hadapan Donghae. "Jadi bagaimana menurutmu mr Donghae?"tanya Sehun enteng.

"Saya setuju dengan nominal yang anda ajukan mr Sehun, namun dengan satu syarat"jawab Donghae tak kalah entengnya namun dengan tetap eskpresi datar dan tajam.

Sehun yang mendengar jawab itu memincingkan satu alisnya penasaran. "Syarat?"tanya Sehun.

"Lepaskan segala hutang dan tututan anda dari mr Jaehyun"ucap Donghae.

"Cih"Sehun berdecih tak percaya karna masih ada orang baik yang merelakan segenap uangnya untuk membantu orang lain.

"Bagaimana? Bukankah ini sangat menguntungkan anda?"tanya Donghae memastikan.

"Baiklah saya setuju"jawab Sehun lalu mereka berjabat tangan tanda terjadinya kesepakatan.

**

"KOK BISAAA?"teriak Haechan penasaran dengan hutang yang menggunung itu tiba tiba dihapuskan.

"Gue juga bingung"ucap Jaehyun dengan muka tak tenang.

"Siapa yang mau ngelunasin utang lo yang seabrek itu?"tanya Haechan ikut bingung namun wajahnya tak bisa berbohong. Ia sangat Bahagia ada seorang malaikat yang membantunya.

"Kayanya gue tauu"ucap Jaehyun lalu berdiri meninggalkan Haechan yang masih kebingungan.

"TAUU ITU SIAPA??"teriak Haechan yang berjalan dengan cepat meninggalkan dirinya dengan seribu pertanyaan.

Disela kebingungannya itu Haechan benar benar sangat Bahagia mengetahui kabar ini. Ia tak sabar untuk meminjam uang lagi kelain tempat untuk pengobatan Karina, namun di tengah kebingungannya ini masih ada manusia yang terus menempel padanya padahal ia dititik miskin banget.

"Bang keknya gue tau dehh"celetuk seorang pria yang tiba tiba berada di samping telinga Haechan.

"Kaget Bangsatt!"gerutu Haechan sambil mengusap telinganya. "Dari tadi manusia dua ini bilang tau tau. Emang siapa sihh? Kok gue yang goblok gini gabisa nebak siapapun"lanjut Haechan penasaran.

"Jeno"jawab Jaemin yakin sambil duduk disamping Haechan.

"KOK ISOO?? Dia aja udah ketauan sama bokapnya"ucap Haechan tak setuju dengan Jaemin.

"Bukan Jenonyaa bang,ckk"ucap Jaemin berdecak kesal ini Haechan kaga paham juga.

"Ya gue kaga paham, lo bilang Jeno terus ini bukan Jeno! Gimana sih"balas Haechan.

Jaemin yang melihat Haechan ini jadi bingung juga pasalnya ekspresi Haechan ini ditengah Bahagia, bingung, penasaran dan kaya bodo amat gitu yang penting udah lunas hutangnya. "Gini bang"ucap Jaemin mengawali gossip.

"Gimana tuh?"tanya Haechan penasaran.

"Kemarin gue denger dari Jeno, perusahaannya Donghae dijual"jawab Jaemin sambil menaik turunkan alisnya yang membuat Haechan sukses menganga tak percaya.

"WHATTTT!!?"teriak Haechan yang membuat Jaemin terpelonjak kaget dan reflek melempari Haechan bantal. "Anjingg, kok bisaa? Kenapa??"tanya haechan sambil membuang asal bantal dari Jaemin.

"Untuk kenapa sih gue juga belum tau"jawab Jaemin enteng karna kemarin ia hanya dikabari sebatas itu saja.

"Terus hubungannya sama uangnya Jaehyun?"tanya Haechan itu membuat Jaemin reflek kagett.

"Ohh iyaa, kaga tau juga sih bang"jawab Jaemin yang menerima balasan bantal dari Haechan.

"Emmm dasar Kangkungg!!"cetus Haechan.


***

Next? last spesial part!! :)

Mau diuplod kapan? komen cobaaa!! 

DESTINY By Nana JaeminCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang