Waktu terus berlalu, semua masalah luka dan duka tenggelam dalam lautan direlung hati.
Namun Gracia tak peduli pada perjalanan waktu. Ia masih disini tinggal diruang rawat Shani yang sedikit meninggalkan kenangan akan wanita itu.
Shani yang menjaganya
Shani yang mengayominya
Shani yang memeluknya
Kini Shani telah benar-benar tak lagi bersamanya dan tak akan kembali walaupun sedetik.
Hari dimana mereka berbaring bersama, menjadi hari terakhir mereka saling menatap dan berpelukan.
Ketika ia terbangun dipagi hari, ia mendapati Shani terpejam dalam senyuman tanpa ada lagi selang infus yang bertengger di telapak tangannya.
Wajahnya begitu pucat namun terlihat damai.
Gracia mencoba menyapanya namun tak ada balasan.
Dalam derai air mata Gracia pun tersenyum.
Kamu sudah pulang ya, ci.
Sakitnya sudah hilang, kan..
Bahagialah ci..
Cici bebas dari aku yang menyakitimu .
Feni yang berniat untuk menjenguk pun ikut hancur dan berkabung.
Dipeluknya erat sahabatnya itu agar tak sampai tumbang.
Feni tahu Gracia sangat rapuh seperti sebatang kayu yang sudah lapuk dalamnya.
"Kemarin dia merengek minta pulang kan Gre.. Aku yakin dia seneng karena rumah untuknya pulang kembali dia temukan saat kamu datang. Kamulah tempatnya untuk pulang dengan damai Gre.. "
.
.
.
.
Gracie pov
Waktu senja langit seindah surga.
Begitu kata orang mengatakan kedamaian dalam senja.
Aku jadi ingat lagu Greenflash yang pernah ibu nyanyikan saat beliau masih menjadi seorang idol dimasa mudanya.
Sekarang tubuhnya sudah menua, tak mampu lagi menarikan lagu UZA atau Aitakatta sepertinya.
Meski begitu, percayalah kalau kecantikannya masih ada meski beberapa keriput menghias wajahnya.
Sebelum senja berakhir, ibu selalu menyempatkan diri untuk duduk bersandar di kursi yang ada di lounge sambil membawa sebuah kotak berisi ribuan potret. Ibu mejaganya seperti sebuah harta karun.
Aku tahu apa isi didalamnya.
Itu lebih berharga dari harta apapun.
Ayah, tante Zee dan Tante Christy sering bercerita padaku tentang sosok yang ada didalam foto-foto usang itu.
Dia adalah tante Shani yang tak pernah aku temui.
Kisah yang kudengar tentangnya dari sahabat dekat ibu, membuat aku kagum.
"Ibu sudah mulai malam. Cuaca dingin tidak baik untuk ibu. Mari masuk dan istirahat ibu. "
Kusampirkan mantel hangat pada tubuh ibu. Ibu pun menuruti ucapanku.
"Apa ibu merindukannya lagi??" tanyaku saat melihat raut sendu yang ibu buat.
"Semalam ibu memimpikannya. Ibu jadi ingin mendengar suaranya lagi. Tapi.. Pemutar suaranya rusak nak. "
