Mentari pagi sudah menyapu wajah cantik rupawan Shani sejak dua jam lalu ia duduk dibangku taman halaman rumahnya.
Merenungi kejadian semalam yang telah terjadi.
Bertanya-tanya dalam hatinya apakah Gracia masih menyimpan rasa yang sama untuknya hingga saat ini?
Perenungan itu sukses menyita pusat pikiran Shani hingga ia tak menyadari bahwa orang yang ia pikirkan saat ini ada disampingnya bersama dua cangkir teh chamomile favorit mereka berdua.
"Sudahi dulu resahmu besti.. Tenangin pikiran dan lupakan galau. "Wanita mungil itu menyapa dengan senyuman.
Shani terkesima menatap sorot mata indah Gracia dalam senyuman.
Merasa ditatap intens, Gracia terusik dari kegiatannya men scrolling layar ponselnya.
" kenapa sih kamu ci? Ada yang salah sama pahatan wajah aku? " tanyanya bingung.
Shani tak langsung menjawab dan memilih meneguk teh ditangannya yang kepulan asapnya masih menguap.
Kecerobohan Shani yang langsung meminumnya tanpa mengecek suhunya terlebih dahulu sukses membuat tenggorokannya tersedak.
"Astaga ci Shani!! " pekik Gracia saat melihat Shani yang sudah tak karuan karena tumpahan minumannya itu.
"Kamu kenapa sih Ci?? Masih mikirin Vino ya sampai-sampai kehilangan fokus? Itu minuman kamu masih ngebul tau!! " celoteh Gracia sambil mengelapi bibir Shani dengan tisu.
Shani menahan gerakan tangan Gracia dengan genggaman lembut.
Kedua mata dua wanita itu saling bertemu, namun Gracia tak mampu menatap lama bola mata Shani yang baginya sangat menawan dan indah ditatap.
"Kenapa berpaling?? Waktu kecil kita suka berlomba tatapan paling lama. " tanya Shani.
Gracia terkekeh kecil tak tahu ingin menjawab apa. Tak berani menjawab jujur kalau bola mata Shani memicu detak jantungnya bekerja ekstra.
"Gee... "
"Hmm? "
"Aku denger gumaman kamu semalam. Aku tahu apa yang kamu rasain dan lalu kamu sembunyiin dari aku. " Shani akhirnya membuka topik yang Gracia tak berani untuk bahas.
Sontak saja Gracia terkejut dan lalu melepaskan genggaman tangan Shani darinya.
Ia menatap tak percaya pada Shani.
Namun sorot mata Shani menyatakan kebenaran.
"Seberapa besar luka yang aku buat di hati kamu Ge? " Shani bertanya dalam raut sendu dan wajah tertunduk.
"Pasti dalam sekali ya sakitnya Ge.. "
Gracia tanpa sadar meneteskan airmata.
"Aku yakin rasa sakit yang Vino ciptakan dihati aku gak sebanding dengan luka dari perasaan hati kamu yang kamu pendam itu kan Ge.. "
Gracia menahan isaknya dan mencoba meredam tangisnya.
Dalam hembusan nafasnya terdengar seberapa sesak hatinya. Shani pun tahu itu.
