Tandai typo!!
__________________
Markisa saat ini tersenyum cerah karena akan ke ruangan Nevan. Ia tadi disuruh pria itu untuk membawakan kopi ke ruangannya. Markisa yakin jika hal itu cuma modus karena Nevan ingin berduaan dengannya, wanita itu berpikir kalau Nevan sudah berubah kembali seperti dulu.
"Eh mau kemana kamu!" Anggun mencoba untuk menghentikan Markisa yang akan ke ruangan tuannya.
Mendengar itu Markisa tersenyum manis, "Maaf ya sekertaris Anggun yang terhormat, saya ingin mengantarkan kopi untuk kekasih saya," ujarnya.
"Ini pasti akal-akalan kamu saja kan. Dasar tidak tau malu, bukannya kamu kemarin sudah tau jika Tuan Nevan sudah mempunyai istri!" sentak Anggun, tak suka pada wanita itu.
Markisa menghela nafas pelan. "Gini ya, Nevan yang sudah punya istri itu bukan urusan saya, dan saya juga sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Karena Nevan sendiri yang ngejar-ngejar saya."
"Jadi tolong kerja samanya, hormati juga saya, karena saya adalah kekasih Tuan anda. Jangan iri," lanjut Markisa, kemudian berlalu pergi meninggalkan Anggun yang mengepalkan tangannya marah.
"Aku yakin kalau mata Tuan Nevan katarak. Karena sudah mempunyai istri yang sangat cantik dan berkelas malah main api sama wanita gatel seperti itu!" gumam Anggun.
***************
"Nevan!" Markisa tersenyum manis setelah masuk ke ruangan Nevan.
Ia meletakan kopi buatannya di meja pria itu, "Ini kopinya!"
Nevan mengalihkan berkasnya yang tadi sempat ia kerjakan. Ia menoleh sekilas ke arah Markisa, "Hm makasih." Kemudian mengambil kopinya itu dan meminumnya.
"Aku tau kamu rindu aku kan, makanya kamu nyuruh aku bikin kopi untukmu karena ingin berduaan denganku." ujar Markisa percaya diri.
Alis Nevan mengernyit heran mendengar itu, ia meletakan kembali cangkir kopinya, "Maksudmu?"
Markisa tersenyum malu-malu, ia lantas dengan berani langsung duduk di pangkuan Nevan.
Hal itu sontak membuat mata Nevan melotot. Dengan cepat ia ingin menyingkirkan Markisa dari pangkuannya, namun keduluan dengan pintu ruangannya yang kini sudah terbuka.
Deg
Jantung Nevan seketika terhenti, melihat siapa yang ternyata masuk ke ruangannya.
"Ah maafkan aku karena datang di waktu yang kurang tepat!" kata wanita itu. Kemudian bergegas keluar menutup pintu ruangannya kembali.
Nevan langsung menyingkirkan Markisa dengan kasar.
Brug
Tubuh Markisa jatuh tersungkur, wanita itu merintih sakit. Namun Nevan sama sekali tidak perduli.
Pria itu kini malah langsung berlari keluar mengejar Sena.
"Sena tunggu dulu!" pekiknya kala melihat Sena yang ingin masuk ke dalam lift.
Mendengar itu Sena menghentikan langkahnya, ia menoleh dan tersenyum ke arah pria itu.
"Sena, itu tidak seperti apa yang kamu lihat. Wanita itu yang tiba-tiba duduk sendiri di pangkuanku." kata Nevan dengan panik, setelah sampai di depan wanita cantik itu. Ntah mengapa rasanya jantung Nevan seperti akan copot saat melihat Sena memasuki ruangannya, dengan keadaan dirinya yang sedang memangku Markisa.
Mendengar itu Sena tersenyum tipis, "Tidak apa-apa aku paham. Bukankah kamu membenciku? Jadi aku memaklumi mu yang ternyata sudah punya kekasih!" kata Sena, dengan tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
SENANDUNG
AléatoireSenandung Rengganis adalah sosok karakter figuran dalam novel yang sangat menyedihkan, ia digambarkan dengan wajah yang buruk rupa serta sifatnya yang lemah mudah ditindas. Sosok tersebut juga selalu menjadi rasa pelampiasan amarah karakter protagon...
