Part 18

56.9K 3.2K 89
                                        

Happy reading🐸

Markisa menatap Nevan tak percaya, namun wanita itu juga sedikit berbinar kala melihat Nevan yang menyodorkan uang banyak didepannya.

Namun buru-buru mimik wajah Markisa dibuat semenyedihkan mungkin, seolah-olah kecewa atas perlakuan Nevan.

"Hiks maksudmu apa Nevan, kamu pikir aku wanita seperti apa hah!"

"Aku sama sekali tidak mengharapkan uangmu dan aku bukan tipe wanita mata duitan, tapi kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini hiks." lanjut Markisa, menatap kecewa Nevan.

Alis Nevan mengernyit heran, padahal tadi ia tidak salah lihat kala ada binar kagum saat dirinya mengeluarkan uangnya, namun kenapa tiba-tiba wanita itu menolak uangnya.

"Seharusnya kamu tanggung jawab karena sudah membuatku mencintaimu. Padahal dulu aku sudah beberapa kali menolak keberadaan mu, tapi kamu masih tetap kekeuh mengejarku. Dan setelah aku menerimamu kenapa kamu langsung mencampakkan diriku!" Marah Markisa, dengan wajahnya yang sudah dibanjiri air mata.

Nevan menghela nafas lelah mendengar semua itu. Dirinya memang mengakui jika tindakannya itu salah, namun sebenarnya ia mendekati Markisa hanya karena sebagai balas budi dan rasa tertarik karena wanita itu menolak semua uang yang sebelumnya sudah Nevan tawarkan untuk membalas jasa pertolongannya.

"Maafkan saya."

"Kenapa kamu begitu gampangnya meminta maaf hah, aku sebenarnya salah apa sama kamu hiksss!!"

"Terus mau kau apa?" lelah Nevan, kala mendengar tangisan Markisa sedari tadi.

Mendengar perkataan Nevan pun Markisa sontak menatap pria itu serius, dan menghentikan tangisannya.

"Aku mau kita tetap menjadi sepasang kekasih!"

***********

Disisi Sena kini wanita itu akan mulai mengelola restoran peninggalan kedua orang tuanya itu. Dan kini dirinya pagi-pagi sudah sampai disini.

Beberapa karyawan yang melihat kehadiran Sena pun menyapa wanita itu. Mereka sebenarnya sedikit kaget karena perubahan yang dibawa anak dari mendiang bos mereka. Setau mereka Sena itu adalah pribadi yang tertutup dan anti sosial. Namun kini wanita itu sudah benar-benar berubah apalagi dari segi penampilannya.

"Apakah Kak Nita sudah datang?" tanya Sena pada salah satu karyawannya. Nita wanita berumur 25 tahun, manager restoran ini yang sebelumnya dipilih Sagara untuk mengurusi segala hal operasional dan aspek-aspek lainnya.

"Sudah nona," sahut karyawan itu, Sena tersenyum dan tak lupa mengucapkan terimakasih.

Di ruangannya Nita sedang mengelola keuangan Minggu ini, ia sedikit terkejut kala melihat Sena memasuki ruangannya.

Sebenarnya Nita masih tak percaya jika Sena dan Nevan tidak memiliki hubungan apa-apa.

Kemarin sewaktu Sena kesini, wanita itu mengatakan bahwa Nevan adalah anak dari teman kedua orang tuanya. Sehingga kemarin-kemarin pria itu yang membantu mengelolanya dikarenakan Sena yang masih sedang bersedih karena kehilangan kedua orang tuannya.

Walaupun Nita tak percaya, dan merasa curiga pun namun ia hanya pura-pura mengangguk mempercayai penjelasan Sena.

"Kak Nita, aku ingin berbicara kepadamu!" kata Sena setelah berada di depan wanita itu.

Nita tersenyum, "Iya silahkan Bu bos," sahutnya bercanda.

Membuat Sena mengulum senyum geli, mendengarnya. "Bukankah aku sudah bilang, kalau panggil aku nama saja seperti biasanya." pungkasnya.

"Haha, Kakak lagi pengen aja sih!" Ntah walaupun Nita baru mengenal Sena, tapi dirinya merasa nyaman dengan wanita itu. Bahkan Nita seperti langsung menganggap Sena sebagi adiknya.

"Huft, terserah kak Nita deh kalau itu bisa bikin kakak senang," sahut Sena tersenyum.

Kemudian ia mulai berbicara serius kepada Nita. Sena berencana akan mengubah dekor restoran ini agar lebih menarik lagi. Karena menurut Sena dekor yang saat ini terlalu kuno, sehingga ia akan mengubahnya. Sedangkan Nita pun setuju-setuju aja dan juga mendukung keputusan Sena, membuat wanita itu tersenyum senang.

Sena akan memilih atau menggambar nanti dekor yang akan ia buat untuk restorannya ini.

Setelah hampir sejam puas mengobrol dengan Nita pun Sena kini memilih pulang, sebelumnya akan mampir ke butik terlebih dahulu. Karena Sena akan membeli beberapa gaun lagi, untuk acara dua hari lagi.

Ulang tahun perusahaan Nevan.

Memang sebenarnya Nevan belum mengatakan apapun pada Sena. Ntah karena memang tidak ingin dirinya hadir dalam acaranya atau memang lupa. Sena tidak tau.

***********

Leo kini masuk ke dalam ruangan tuannya guna untuk mengatakan beberapa hal yang penting. Tapi saat melihat wajah tuan nya yang keruh bahkan seperti orang yang frustasi pun membuat Leo penasaran. Apa yang sebenarnya sedang di pikiran oleh tuannya itu, kenapa dia seperti memiliki pikiran beban yang sangat berat.

"Tuan," panggil Leo, sedangkan Nevan hanya mengangkat alisnya sebagai tanda bertanya apa.

"Begini tuan untuk acara perusahaan semua persiapannya sudah hampir selesai dan sempurna!"

Mendengar itu Nevan hanya mengangguk, "lalu?"

"Bukankah tuan dan nyonya besar sedang tidak ada di negara ini, lantas apakah itu tidak apa-apa jika acara ini tanpa kehadiran mereka beliau?"

"Mama dan Papa saya tidak mempermasalahkan hal itu, mereka mempercayakan semuanya kepadaku saat acara berlangsung."

Mendengar itu Leo menghela nafas lega, ia kira acaranya akan di tunda menunggu kepulangan sang tuan dan nyonya besar.

Namun mengingat ada satu hal lagi yang menurut Leo penting pun, ia menatap Nevan takut-takut, ragu untuk bertanya.

Nevan yang melihat wajah bodoh dari asistennya itu mendengus kesal. "Cepat katakan saja, jangan membuang-buang waktuku hanya untuk melihat wajah bodoh mu itu!"

Leo tersentak, buru-buru ia meminta maaf pada Nevan. "Maaf tuan, sa-saya hanya ingin bertanya tentang perihal nyonya muda."

Mendengar itu Nevan langsung menatap tajam asistennya itu, ntah kenapa ia langsung tak suka kala ada yang ingin bertanya ataupun mengetahui tentang istrinya itu.

Melihat tatapan tajam tuannya itu, Leo meneguk ludahnya kasar, "maksud saya, ini tentang anda juga tuan, apakah di acara itu anda akan membawa nyonya muda ikut serta?"

Hening.

Tidak ada jawaban dari Nevan, pria itu langsung terdiam dan termenung kembali setelah mendengar perkataan dari asistennya itu.

Sampai suara Leo terdengar kembali, "Maaf tuan, jika saya lancang. Namun saya hanya ingin memberi masukan jika sebaiknya tuan bawa Nyonya walaupun semua publik belum mengetahui jika tuan sudah punya istri. Masalah untuk tuan belum siap mengenalkannya sebagai istri pun anda juga bisa mengakuinya sebagai kekasih. Tapi alangkah baiknya anda mengakui saja jika nyonya muda itu istri anda, umumkan saat acara itu."

Nevan hanya diam sedari tadi, dan itu membuat Leo menghela nafas pelan. Lantas ia segera memilih pamit, pergi meninggalkan tuannya yang sedang asik dengan pikirannya sendiri.

Namun Leo juga berharap agar perkataannya tadi di dengar tuannya. Karena bagaimanapun dia sudah mengabdi pada Nevan selama enam tahun.

Leo takut jika tuannya bertindak bodoh, dan mengabaikan istrinya terlalu lama akan menjadi bumerang untuk tuannya sendiri.

Ia takut nanti tuannya hancur akan kebodohannya sendiri.


TBC

_____________________________

SENANDUNGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang