Happy reading💗
Masih berada di posisi yang tegang sebelumnya, kini disisi Markisa sudah merubah wajahnya terlihat sesendu mungkin. Wanita itu menatap Anies, "Kenapa Tante menghina saya seperti itu!"
"Saya memang tidak kaya seperti kalian, tapi seharusnya Tante tidak berbicara seperti itu pada saya. Karena apa yang saya katakan itu benar, buktinya anak Tanta serta nyonya Sena dan tuan Nevan tidak ada yang mengelak!" kata Markisa yang menambah api bagi semua orang agar terus menyudutkan Sena.
"Mereka hanya diam, jadi jelas apa yang saya katakan itu memang benar. Itulah mengapa alasan sebelumnya tuan Nevan yang mengabaikan istrinya, karena memang Nyonya Sena sendirilah yang berselingkuh dengan putra anda." lanjut Markisa.
Damn
"Sena..?" lirih Nevan menatap wajah istrinya itu khawatir. Pria itu lantas melepaskan genggamannya pada Sena, Nevan bergerak cepat menuju Markisa. Wanita ini benar-benar sudah melampaui batasnya.
"Omong kosong apa yang kau ucapkan hah!" bentaknya pada wanita itu.
Markisa malah tersenyum manis, "Bukankah yang saya katakan memang benar tuan, istri anda memang sepertinya berselingkuh dengan tuan Cavuer. Buktinya wanita itu hanya diam tak mengelak apapun."
"Brengsek, saya sama sekali tidak berselingkuh dengan Sena, bahkan saya baru bertemu dengannya dua kali!!" sahut Cavuer yang sudah muak mendengar segala perkataan wanita ini. Sumpah demi apapun Cavuer tak menyangka, wanita yang ia kira baik di depannya ini ternyata mempunyai bibir beracun. Bisa-bisanya memprovokasi semua orang di tempat publik seperti ini.
Sena tersenyum kemudian mulai berjalan dengan anggun menunju mereka. Semua orang yang melihat wajah tenang Sena dan malah tersenyum pun membuat mereka heran. Bukankah seharusnya wanita itu malu, karena sudah ketahuan.
"Ehm, permisi."
Nevan, Cavuer dan kedua orang tuanya serta Markisa pun sontak terdiam dan menatap ke arah Sena yang kini berdiri tepat di samping Nevan.
"Sebelumnya maaf, anda itu bukannya seorang office girls di perusahaan suami saya ya?" Sena berkata dengan wajah dibuat seperti memikir.
Mata Markisa melotot melihatnya, sial. Kenapa wanita itu membawa-bawa pekerjaannya yang sebagai office girls, dalam bicaranya.
Sontak Anies menatap Markisa itu sinis dan heran juga. Jika memang wanita ini office girls lantas kenapa bisa memasuki acara mewah ini.
Dengan perasaan malu, Markisa mencoba tenang, "iya, saya memang office girls di perusahaan suami anda. Namun apa masalahnya, kenapa anda bertanya seperti itu pada saya?"
Sena tersenyum tipis, "Ah ternyata memang benar, kirain saya salah orang. Karena penampilanmu yang terlihat berbeda. Saya cuma heran karena banyak office girls yang disini namun mereka membantu menyajikan makanan dalam pesta ini. Hanya kamu saja yang ikut kesini dengan penampilan yang seperti tamu undangan."
Bisik-bisik tamu undangan kini mulai berbalik membicarakan Markisa. Hal itu membuat Markisa mengepalkan kedua tangannya erat.
Nevan dan Cavuer hanya diam begitupun dengan Anies serta suaminya. Mereka hanya akan menyimak saja perkataan kedua wanita itu.
"Memangnya kenapa jika saya ikut dalam acara ini, lagipula tuan Nevan sendiri tidak mempermasalahkan kehadiran saya!" ujar Markisa membela diri.
Sena mengangguk paham sembari tersenyum, "oh begitu rupanya, ternyata suamiku sangat baik ya. Tapi saya sedikit kecewa lantaran dia ternyata pilih kasih terhadap karyawannya. Mengizinkanmu untuk kesini menikmati pesta, namun teman-temanmu yang lain masih dalam tugas pekerjaannya," kata Sena, dengan mimik wajah kini yang menyiratkan kasihan saat melihat beberapa office girls perusahaan Nevan yang masih terlihat membantu beberapa pelayan disini.
Deg
Tubuh Nevan menegang, ntah kenapa perasaan takut kembali menjalar dihatinya.
"Saya tidak merasa mengizinkan dia untuk bertindak bebas seperti ini," sahut Nevan, menatap istrinya dengan tatapan sungguh-sungguh.
"Kalau begitu jadi seharusnya kau pecat saja karyawan seperti itu!" timpal Anies menatap merendahkan ke arah Markisa.
"Bagaimana bisa hanya seorang office girl lancang bertindak seperti itu, apalagi tadi sempat berani ikut campur dan memfitnah atasannya sendiri, bahkan anak saya saja di bawa-bawa." lanjutnya sarkas.
Markisa melotot marah, "Saya tidak memfitnah mereka. Memang nyatanya mereka selingkuh, jika tidak mengapa mereka berdua diam dan tak menyangkalnya."
"Apalagi nyonya Sena kini malah mengalihkan pembicaraan seperti ini. Itu bukannya sudah menjadi bukti jika dia takut!"
Sena terkekeh kecil mendengar itu, membuat Markisa yang ingin koar-koar kembali kini langsung diam dan menatap Sena bingung.
"Saya bukannya mengalihkan pembicaraan, tadi saya hanya sekedar bertanya karena rasa penasaran saya." jawab Sena tenang.
"Tentang kau yang mengatakan bahwa saya dan tuan Cavuer berselingkuh itu salah. Karena kami tadi kebetulan sampai di sini bersama, sehingga kami memutuskan untuk masuk bersama juga." lanjut Sena.
Mendengar itu Nevan menghela nafas lega, ntah mengapa ia senang mendengar ternyata Sena yang bernama Cavuer itu hanya kebetulan.
Markisa berkeringat dingin, dirinya kini gugup kala semua mata menatapnya, "Ta-tapi bisa saja anda berbohong. Karena bagaimanapun pelaku tidak akan mengakui tindakannya."
"Apa yang dibicarakan Sena itu adalah benar, karena memang nyatanya kami berdua hanya kebetulan sampai disini saat bersamaan," jelas Cavuer, ia sungguh terlalu muak pada wanita itu yang sepertinya memang ingin menyudutkan Sena.
Sebenarnya ada apa diantara dia dan Sena, begitupun Nevan. Karena Cavuer melihat gelagat Nevan yang sepertinya kenal dekat dengan office girl itu.
Cavuer penasaran.
"Ternyata kau lucu juga ya?" Sena berkata dengan nada geli.
"Maksud nyonya apa hah, tidak ada yang lucu dalam perkataan saya!"
"Lucu, karena dari tadi sepertinya kau memang ingin menyudutkan saya. Mengiring opini buruk pada tamu yang datang kesini dan memprovokasi mereka agar membenci saya." kata Sena tenang.
Markisa menggeleng kuat, "Tidak bu-bukan--,”
"Saya akan membuktikannya, kamu bisa lihat dilayar itu!" tunjuk Sena pada layar yang kini menyala di belakang podium.
Dimana dapat mereka lihat Sena yang turun mobil, lantas kemudian tak sengaja bertemu Cavuer dan mereka memutuskan masuk bersama. Seharusnya jika mereka memang selingkuh akan nampak mesra saat pertemuannya, atau tidak mereka akan berangkat kesini bersama.
"Dan kalau kau bertanya mengapa saya tidak berangkat bersama suami saya itu karena dia yang tidak mengajak saya berangkat bersama. Untuk alasannya bisa tanyakan pada dia sendiri, karena saya yang sebagai istrinya pun juga tidak tau." ucap Sena, seraya menatap sekilas pada Nevan.
Nevan menghela nafas pelan, lantas menatap Markisa tajam. "Lebih baik kau pergi dari sini, karena memang dasarnya semua perkataanmu tadi itu hanya omong kosong!"
Markisa marah, "Nevan kau tidak bisa seperti ini padaku hah! Apakah kamu lupa jika aku yang sudah menyelamatkan mu!" katanya tak terima.
Jelas perkataan itu langsung membuat semua orang heboh, karna Markisa sudah tidak lagi berbicara formal pada Nevan.
Sena tersenyum kecil mendengar itu. Ia lantas memutuskan pergi terlebih dulu tanpa pamit.
Karena Sena sudah tau apa yang akan terjadi, dan biarkan semua orang berspekulasi tentang hubungan Nevan dengan Markisa seperti apa.
Tinggal tunggu saja besok kabarnya.
Cavuer yang melihat Sena pergi pun langsung ikut pergi juga. Begitupun kedua orang tua Cavuer yang berlalu pergi karena sudah muak mendengar drama murahan itu.
Bersambung
__________________________
KAMU SEDANG MEMBACA
SENANDUNG
RandomSenandung Rengganis adalah sosok karakter figuran dalam novel yang sangat menyedihkan, ia digambarkan dengan wajah yang buruk rupa serta sifatnya yang lemah mudah ditindas. Sosok tersebut juga selalu menjadi rasa pelampiasan amarah karakter protagon...
