Part 6

69K 3.6K 102
                                        

Happy reading💗

Jam kini sudah menunjukan pukul satu pagi, namun Nevan terbangun kala merasakan tenggorokannya yang kering, pria itu menoleh ke samping dimana air di gelasnya yang berada di atas nakas sudah habis. Sehingga pria itu mau tak mau harus turun ke dapur untuk mengambil air putih lagi.

Kaki Nevan melangkah di lantai mansion yang kini sangat hening dengan pencerahan juga yang sudah remang-remang, karna memang semua penghuni mansion ini sudah tertidur. Pria itu menghentikan langkahnya kala mendengar isakan tangis seorang wanita yang sangat memilukan, dengan langkah pelan Nevan memutuskan untuk mencari asal suara itu.

Seketika pria itu langsung terdiam kaku kala ternyata asal suara tersebut dari kamar istrinya sendiri, Senandung.

"Cih, apa yang membuat wanita itu menangis?" gumam Nevan pelan. Karena dirinya sama sekali tidak pernah melihat ataupun mendengar wanita itu menangis. Bahkan saat wanita itu ia siksa pun hanya terdiam sembari meringis saja. Sehingga hal itu semakin membuat Nevan murka lantaran yang ia mau adalah tangisan kesakitan wanita itu, agar emosi yang ia rasakan bisa padam jika mendengar tangisan kesakitan Senandung.

Kaki Nevan kini semakin melangkah menunju pintu kamar yang sedikit terbuka itu. Ntah karena apa dirinya merasa penasaran untuk melihat wanita itu, tangannya perlahan-lahan membuka pintu itu dengan pelan.

Pria itu sontak tertegun saat melihat apa yang ada di depan matanya, sebuah punggung putih mulus wanita yang cuma dihiasi tali spaghetti, Nevan meneguk ludahnya sangat kasar. Pikirannya sontak melayang. Benarkah wanita itu istrinya, Senandung.

"Hiks Ibu Ayah, aku merindukanmu!" kata Senandung dengan tangisannya, dan itu jelas terdengar di telinga Nevan.

"Aku benci hidup ini, seharusnya kalian bawa aku saja. Dia yang sudah membunuh kalian tapi malah aku yang disalahkan atas pernikahan ini. Seharusnya dia minta maaf kepada kalian, bukannya malah menyiksa diriku."

Deg

Nevan mematung mendengar itu.

"Bukan cuma dia yang tidak mau pernikahan ini, aku pun juga sama begitunya. Tapi kenapa seolah-olah dia yang merasakan penderitaan akibat pernikahan ini, bukankah jelas aku yang lebih menderita!"

"Kehilangan kedua orang tuaku, dipaksa menikah sebagai balas budi, lantas juga disiksa pria yang kini statusnya suamiku sendiri. Kenapa hidupku menderita seperti ini hiks!"

Nevan tak menyangka malam ini baru pertama kalinya mendengar keluh kesah wanita itu pun tangannya mengepal erat, ia mengalihkan pandangannya dari wanita yang membelakangi nya itu.

Dirinya kini memutuskan untuk kembali ke kamarnya, ia dengan perlahan menutup pintu itu kembali tanpa menimbulkan suara. Rasa hausnya pun seketika hilang, pria itu kembali ke kamarnya dengan pandangan kosong.

Disisi Sena kini ia berbalik menghadap pintu kamarnya, bibirnya lantas tersenyum miring, "Ck, jika bukan karena untuk diriku sendiri mana mungkin aku mau berdrama seperti tadi," ucapnya lantas menghapus pelan air mata palsunya.

***********

Pagi ini Sena sedang asik memasak dan dibantu juga oleh Fera. Sedangkan para pelayan yang melihat itu hanya terdiam tanpa ada niatan membantu Sena, apalagi Bi Rama yang sebagai kepala pelayan pun kini malah tersenyum puas. Itung-itung pekerjaannya pagi ini digantikan oleh nyonya bodohnya itu, karena memang seharusnya ia yang mengatur untuk memasak pagi ini karena akan kedatangan tuan dan nyonya besar.

"Bi Rama, apakah nyonya Sena bisa memasak makanan yang pantas untuk tuan dan nyonya besar?" tanya salah satu pelayan.

"Pertanyaan macam apa itu, sudah jelas jika wanita itu pandai memasak dan pastinya akan menyajikan masakan yang pantas untuk majikan kita. Kau tak lupa bukan jika kedua orang tuanya wanita itu dulunya pemilik restoran terenak yang ada di kota ini!" sarkas Bi Rama pada pelayan itu.

Sedangkan pelayan yang tadi bertanya itu menundukkan kepalanya takut, ia lantas izin melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

Satu jam berlalu dan kini berbagai jenis makanan telah di hidangkan di meja makan. Sena tersenyum melihat itu, "Akhirnya kita selesai juga Fer," ucap Sena yang di angguki oleh Fera.

"Benar nona, saya juga masih tidak menyangka kalau ternyata anda sangat hebat dalam memasak!" kata Fera antusias.

Mendengar itu Sena tersenyum tipis, "Sudahlah aku mau bersih-bersih dulu, dan kamu sebaiknya segera panggil Nevan untuk segera turun karena aku yakin kedua orang tuanya sebentar lagi akan sampai."

"Baik nona!"

Sena lantas segera menuju kamarnya, di sepanjang perjalanannya ia selalu tersenyum tipis pada para pelayan yang di lihatnya. Walaupun banyak yang mengabaikan dirinya, dan tak jarang pula kini sedikit-dikit ada yang membalas senyumannya.

Di kamar Nevan kini ia sudah terbangun dalam keadaan kepala yang sangat pusing lantaran semalam pria itu tidak bisa tidur karena memikirkan segala perkataan Senandung. Dirinya bisa tidur saat jam sudah menunjukan pukul lima dan kini ia terpaksa bangun di jam tujuh.

Nevan melirik ponselnya yang sedari tadi terus berbunyi, tertera panggilan dari yang menelfon.

Markisa♡

Pria itu memilih abai dan malah berjalan memasuki kamar mandi.

*********

Prang

Prang

Markisa melempar semua make up nya dan berbagai skincarenya ke sembarang arah. Ia marah lantaran sudah beberapa kali menelfon Nevan tidak di angkat oleh pria itu. Padahal ia ingin mengajak Nevan untuk berangkat bersama ke kantor. Markisa ingin menunjukan pada semua orang jika Nevan adalah miliknya, dia kekasihnya dan semua orang akan segan kepadanya.

Tapi tidak jadi lantaran pria itu sama sekali tidak menjawab panggilannya.

"Ada apa dengan pria itu, tidak biasanya dia mengabaikan diriku seperti ini?" gumam Markisa dengan kedua tangannya yang mengepal erat.

**********

Semua pelayan sontak berbaris rapi menyabut kedatangan sang Tuan dan nyonya besar mereka yang telah tiba di mansion ini.

"Selamat datang Tuan, Nyonya!" ucap bi Rama sembari menundukkan kepalanya sopan.

"Terimakasih bi, bukankah saya juga sudah mengatakan jika tidak usah berlebihan seperti ini jika kita datang!" sahut Rosa, ibunya Nevan.

"Sudah menjadi kewajiban kita nyonya!" kata Bi Rama, yang membuat Rosa menghela nafas pelan.

Sedangkan James hanya menatap datar pada semua pelayan, "apakah selama saya dan istri saya pergi keadaan mansion ini baik-baik saja?" tanya James.

Bi Rama menganggukkan kepalanya."Baik Tuan, tidak ada yang perlu di khawatirkan!" jawabnya mantap.

"Baguslah, karena mulai saat ini saya dan istri saya akan tinggal disini."

Mendengar hal itu para pelayan dan Bi Rama menegang. Mereka jelas takut jika sampai ketahuan tentang perilakunya selama ini kepada nyonya muda. Apalagi jika sampai Sena mengadukan sendiri kepada tuan besarnya itu.

Walaupun mereka tidak pernah kasar pada Sena, tapi tetap saja karena selama ini mereka mengabaikan wanita itu. Bahkan terang-terangan menatap sinis nyonya mudanya itu, seakan-akan dia bukan majikan mereka dan hal itu tidak di ketahui oleh Tuan dan Nyonya besar mereka.

"Kalian dengar bukan yang dibilang suami saya, jadi segera bersihkan kamar yang akan kita tempati!" kata Rosa tegas, yang di angguki beberapa pelayan.

"Dan Bi Rama tolong kamu panggilkan menantu saya dan anak saya!" lanjutnya.

"Itu Nyonya, kata tuan muda kalian disuruh ke ruang makan dahulu karena mereka akan segera menyusul, tadi soalnya saya sudah ke kamar tuan muda," kata Bi Rama yang di angguki paham oleh Rosa.

"Yaudah mas, ayok kita ke ruang makan." Rosa menarik lembut tangan suaminya itu untuk menunju ruang makan.

Bi Rama yang melihat kepergian tuan dan nyonya besarnya itu menghela nafas pelan.

"Semoga saja nanti wanita bodoh itu tidak mengadu apa-apa kepada Tuan dan Nyonya!" gumam Bi Rama.

_________________

Tbc

SENANDUNGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang