Bersamamu, aku ingin mewujudkan banyak mimpi yang selama ini hanya mengakar di kepala.
----
"
Ini seluruh rencana dating yang harus kita lakuin. Aku udah nulis semuanya di sini."
Sepulang kuliah, Airin meminta Rafan menjemputnya di parkiran kampus. Rindu dan Vania yang menangkap keberadaan Rafan, langsung pamit undur diri. Belum ada ajakan resmi dari Airin untuk mempertemukan mereka.
Kafe dekat kampus menjadi tujuan mereka saat ini. Baru saja duduk, Rafan langsung terbelalak melihat notebook kecil yang Airin sodorkan. Sudah tertulis banyak sekali rencana di sana.
"Alphabet dating?" tanya Rafan mengernyitkan kening bingung. Tangannya bergerak mengurut pelipis yang tiba-tiba berdenyut.
"Iya. Alphabet dating. Aku udah mikirin ini semalaman. Gak perlu buru-buru, kita punya banyak waktu untuk lakuinnya."
"Terniat banget, Ai," ucap Rafan dengan ekspresi tidak percaya.
"Harus, Bang. Aku itu orangnya tertata banget. Aku suka sekali journaling. Jadi, hal seperti ini bukan sesuatu yang baru dan sulit untuk kulakukan." Airin tersenyum bahagia. Akhirnya, kebiasaan journaling setiap malamnya bisa berguna untuk hubungan yang baru saja dimulai.
Rafan tertawa mendengar ucapan Airin. "Serius kamu se-effort ini?"
"Ih, Abang jangan ketawa gitu. Aku serius. Ibaratnya, aku itu pengen wujudin semua impian aku bareng Abang. Fase jombloku kemarin adalah waktu untuk ngumpulin ide dating yang harus terlaksana saat aku punya pasangan. Aku mau sikat semua trend bucin yang ada di Tiktok. Mau, kan, Abang?" tanya Airin dengan tangan menyatu di depan dada. Matanya mengedip manja di hadapan Rafan yang terpaku melihat perlakuan Airin.
Tawa Rafan menghilang, berganti ekspresi dingin yang muncul sepersekian detik. Sebelum Airin sempat menyadari, ia langsung mengubah mimik wajah menjadi riang kembali.
Tangan Rafan terangkat menuju ujung kepala Airin. Ia mengusap pelan, membuat Airin nyaman. Kedua mata Airin tertutup sempurna, meresapi hangat yang Rafan tularkan lewat usapan tangannya. Senyum bahagia tidak pernah lepas dari bibir Airin.
"Apa pun untukmu, Cantik," jawab Rafan dengan sorot mata tak terbaca. Pandangannya lurus ke depan dengan tangan masih berada di ujung kepala Airin.
"Senang banget."
Airin bergerak di bangkunya, membuat Rafan kembali menarik tangannya kaku.
Sial. Kenapa mendadak act of service gini?
Beruntung waiter datang dengan kertas berisi menu makanan dan minuman yang bisa mereka pesan. Rafan menyodorkan kertas menu kepada Airin.
"Aku mesan chocolatte aja, Bang," jawab Airin dengan semangat.
"Makanannya?" tanya Rafan sambil menulis pesanan Airin.
"Males makan," jawab Airin disertai rengekan.
"Kamu harus makan. Emang gak laper abis kelas tadi?" Rafan menatap tajam ke arah Airin.
"Ya, udah. Mie gacoan aja."
"Oke."
Rafan menyodorkan kembali kertas pesanan kepada waiter untuk diproses.
"Ah, ternyata semenyenangkan ini punya pacar." Airin merentangkan tangan. Lega sekali menyadari pasangannya adalah orang baik. Setidaknya itu yang dia ketahui.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pesan Tanpa Suara
RomanceDi tengah kesibukan sebagai mahasiswa semester lima, Airin dikejutkan dengan surat-surat misterius yang sering muncul di loker pribadinya. Belum lagi pesan-pesan anonim yang terus mengganggu hari-harinya yang sedang berada di titik lelah. Beruntung...
