Kita hanya perlu berdamai. Selebihnya, biar ikhlas yang mengambil alih.
---
"Mama marah banget ke bokap Airin karena tidak memperjuangkannya waktu itu. Mama dan Papa Airin saling mencintai. Tapi, kakek malah menjodohkan Mama dengan Papa yang waktu itu begitu mencintai nyokap lo. Begitulah, cinta selalu memiliki banyak sekali misteri."
Akhirnya, fakta itu terungkap langsung dari sumbernya. Tidak Bagas sangka Rafan akan bersenang hati berbagi dengannya, setelah panjangnya luka dan dendam yang menggerogoti mereka. Tidak dipungkiri bahwa cinta masih memiliki kuasa yang hebat tentang hati yang saling bertaut. Bagaimanapun, keduanya pernah saling menyayangi dengan sangat.
"Jadi, Papa sama Ibu waktu itu pacaran?" tanya Bagas yang tidak pernah mendapat jawaban dari ibunya.
"Benar. Harusnya lo tanya langsung sama nyokap lo."
"Yah, sayang banget nggak sempat dapat jawaban. Orangnya udah jadi ubi," ucap Bagas santai, seolah yang dia ucapkan bukan sesuatu yang besar.
"Tunggu. Apa maksud lo jadi ubi?"
"Udah ditanam," jawab Bagas sambil menatap Rafan yang jelas sekali terkejut.
"Jadi, nyokap lo udah meninggal?" tanya Rafan berhati-hati.
"Iya. Makanya gue balik ke sini. Kuliah di sini."
Hebat sekali takdir mempermainkan mereka. Benar, tidak perlu saling membanggakan luka, keduanya menanggung sakitnya masing-masing. Tidak ada yang harus lebih dikasihani, mereka menjadi kuat seiring waktu.
"Lo udah ketemu Papa?" tanya Rafan. Son always be a son. Darah selalu lebih kental dari air.
"Udah. Papa datang ke apartemen. Tapi nggak nanya soal Ibu. Cuma numpang tidur." Bagas belum siap jujur mengenai papanya yang memintanya untuk pulang ke rumah.
"Hah? Bahkan dia nggak pernah ngunjungin kami." Rafan menyipitkan mata. Gemuruh di dadanya terasa semakin menyakitkan.
"Papa menanggung rasa bersalah yang hebat. Begitu gue melihatnya. Dia takut akan menyakiti kalian lebih dalam lagi. Makanya Papa belum berani bertemu." Bagas takut-takut menjelaskan.
"Sudah lama sekali. Gue bahkan nggak pernah ketemu."
"Mau ketemu?" tanya Bagas spontan, tanpa harapan akan disanggupi.
"Mau tapi belum siap." Tentu saja. Semua ini terlalu tiba-tiba untuk Rafan. Dia belum mempersiapkan diri.
"Kapan terakhir kali kita bicara santai seperti ini?" tanya Rafan setelah jeda yang cukup panjang di antara mereka berdua.
"Udah lama sekali. Gue bahkan nggak pernah memimpikan hal ini, saking mustahilnya," ucap Bagas jujur. Berbicara santai tanpa emosi seperti sekarang, tidak pernah berani Bagas bayangkan. Terasa jauh dan mustahil.
"Gue juga nggak nyangka bakal ketemu sama lo lagi. Gue pikir lo bakal terus ngehindarin gue." Rafan mengembuskan napas kasar.
"Jadi, bagaimana soal Airin? Gue yakin dia nggak tahu apa-apa soal masa lalu orang tuanya."
Hening kembali menghampiri. Rafan seperti memikirkan banyak sekali kemungkinan dalam kepalanya. Matanya menatap jauh.
"Gue mulai nyaman, tapi gue punya cewek."
"Sial! Lo udah punya cewek, tapi malah macarin Airin? Cewek lo tahu?" tanya Bagas dengan menggebu-gebu. Rasa santai yang tadi dirasa, berganti dengan amarah sebab perbuatan gila Rafan.
"Tahu. Dia oke. Mama juga tahu gue udah punya cewek," jawab Rafan mencoba santai.
"Sakit. Mana ada cewek yang rela aja cowoknya macarin cewek lain. Putusin Airin secepatnya! Gue nggak mau dia terluka lebih dalam lagi. Dia beneran jatuh cinta sama lo." Bagas memperingati Rafan agar segera menyelesaikan seluruh drama yang sengaja ia buat untuk menyakiti Airin.
Bagas tahu benar bahwa Airin tidak pernah bermain-main tentang rasanya. Gadis itu tulus dan selalu memberi seluruh hatinya untuk satu sosok yang ia percayai. Begitu yang Rindu sampaikan.
"Nggak bisa. Gue belum selesai. Mama belum nyuruh untuk menyelesaikannya," ucap Rafan tidak yakin.
"Tapi, kan, yang salah bokapnya, kenapa dia yang lo hakimi?" Bagas masih mencoba menyadarkan Rafan.
"Lo pernah dengar, jangan pernah melakukan kejahatan kepada siapa pun. Bisa jadi hal yang sama akan terjadi kepada keluargamu. Itu yang Mama ajarkan."
"Dan ajaran itu yang bakal lo jalani?"
"Apa pun untuk Mama. Karena sebelum itu, Mama juga merasakan sakit yang sama. Mama marah melihat keluarga Airin bahagia, sedang kita hancur berantakan."
"Memang hukum alam itu berlaku. Tapi di sisi lain, balas dendam bukanlah pilihan yang bijak. Kita bisa memilih untuk ikhlas. Dengan begitu, mudah saja menerima seluruh ketetapan."
Bagas sudah bisa berdamai dengan masa lalunya yang menyakitkan. Menghadapi peliknya kehidupan seorang diri, dengan mencari bahagianya secara mandiri. Jelas saja dia pernah marah kepada semesta. Pernah meragukan kuasa pencipta. Namun, semakin diberi kesempatan untuk menilik banyak rahasia semesta, ia mulai menemukan banyak hikmah terbaik untuk luka-lukanya.
"Kita hanya perlu berdamai. Selebihnya, biar ikhlas yang mengambil alih."
🌸🌸🌸
Airin yakin teman-temannya akan marah saat melihat statusnya di WhatsApp. Untuk banyak hal, dia bisa berlaku realistis. Namun tentang cinta, susah sekali ia berpikir bijak. Sekali mencintai seseorang, ia akan benar-benar menjatuhkan hatinya tanpa sadar. Padahal, tangki cinta dari keluarganya tidak pernah kurang.
"Kenapa lagi Kakak masang tampang seperti itu?" Nadin memasuki kamar dengan mata menyelidik. Ia kembali mendapati kakaknya memasang ekspresi paling menyedihkan yang pernah ia lihat.
"Hidup, kok, gini banget, ya?" Airin menghela napas kasar.
"Eleh-eleh, gayanya. Kamu nggak disuruh masak, nggak disuruh ngapa-ngapain, loh, Kak. Cuma disuruh kuliah yang bener, malah sok-sok bilang hidup, kok, gini banget, ya? Makanya jangan kebanyakan nonton drakor dengan sejuta pesona cogan itu. Banyak ngeluh, kan, jadinya," cerocos Nadin menatap jengah kakaknya yang seperti tidak ada rona bahagia di sana.
"Kamu memang sedikit sekali ngertinya. Udahlah. Kamu nggak bakal paham gimana rasanya." Airin kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.
"Makanya jangan kecintaan sama cowok. Jangan apa-apa bucin terus. Produktif dikit, kek. Buat apa, kek, hiasan kamar, gitu."
"Nadin, menurut Kakak kamu segera keluar dari kamar, sebelum bantal ini melayang ke wajahmu yang tidak seberapa itu," ucap Airin yang sudah duduk menatap Nadin tanpa gairah.
"Memang aku mau keluar. Malas banget di sini, ngeliat wajah Kakak. Nggak ada indah-indahnya. Nggak ada kehidupan. Heran banget."
Terdengar langkah kaki menjauh, tanda Nadin sudah keluar dari kamar. Untuk membuktikan perkataan Nadin, Airin bergegas menuju meja hias dengan kaca besar di tengahnya. Dipandanginya wajah yang benar saja seperti yang Nadin katakan. Tidak ada kehidupan di sana.
Wajah sayu, dengan sorot mata menyendu. Bibir pucat tanpa sedikit pun polesan. Belum lagi rambut acak-acakan yang belum sempat disisir seharian. Cinta selalu berhasil mengacak-acak banyak sisi dalam hidup.
"Bener lagi. Kayak nggak ada kehidupan, padahal aku semangat sekali untuk hidup." Ucapan yang jelas kontras dengan fakta. Ucapan itu keluar dari mulut seseorang yang lesu, lemah, lunglai dan letih.
"Padahal aku udah tahu dia yang neror aku. Dia juga nggak terlalu bersemangat tiap nge-date. Kayak dipaksakan banget. Nggak niat. Tapi, kok, aku masih cinta. Aku ikhlas-ikhlas aja. Malah aku nggak berani nanya alasan dia neror aku dari Instagram, karena aku takut dia marah dan ninggalin aku. Tolol banget, ya?" Airin bermonolog dengan dirinya di cermin. Jelas saja tidak ada jawaban. Sosok di cermin akan berlaku sama dengan apa yang ditampilkannya.
"Ini makanya aku malas cinta-cintaan. Aku tahu bakal tolol. Kenapa kemaren aku sok-sokan mau pacaran, sih. Ribet jadinya. Sial!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pesan Tanpa Suara
Storie d'AmoreDi tengah kesibukan sebagai mahasiswa semester lima, Airin dikejutkan dengan surat-surat misterius yang sering muncul di loker pribadinya. Belum lagi pesan-pesan anonim yang terus mengganggu hari-harinya yang sedang berada di titik lelah. Beruntung...
