Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Kedatangan Papa

2 0 0
                                        

Sulit untuk menerima sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi ikhlas adalah jalan terbaik.

---

Semburat jingga di ufuk barat, menjadi penanda hadirnya waktu malam. Saat badan lelah setelah berkegiatan seharian, Tuhan beri waktu untuk beristirahat. Menanggalkan seluruh nuansa ramai dan riuh di luar rumah, menuju sepi yang tak jarang menguliti jiwa yang rapuh.

Bagas memasuki apartemen dengan langkah gontai. Menatap Rafan meski dari jarang pandang yang cukup jauh, berhasil membuat rindu yang mengendap kembali muncul. Munafik jika dia tidak merindukan sosok pemilik mata tajam itu. Naif rasanya jika dia berniat menghancurkan Rafan. Tidak. Untuk jujur kepada Airin perihal niat buruk Rafan pun, Bagas butuh waktu yang lama sekali. Dia perlu berpikir untuk setiap baik dan buruknya.

Bagas memandangi apartemen yang sudah dia tempati selama kurang lebih tiga tahun. Apartemen kecil yang menjadi saksi bahwa dia pernah merasakan apa artinya keluarga cemara. Saat di mana dia belum memahami makna dari kata 'pelakor'. Bagas menyayangkan, ternyata bahagianya waktu itu hanya semu yang berhasil menyakiti pihak lain.

Ketika membuka pintu, hal yang pertama menyambutnya adalah meja kayu dengan dua buah sofa yang mengitarinya. Meski dia tahu, jarang sekali ada tamu yang akan menduduki sofa itu. Kesendirian adalah miliknya. Selalu.

Masuk ke bagian dalam, ada kitchen set minimalis yang dulu selalu menjadi tempat mereka bercanda tawa. Ibunya meracik kopi, sedang papanya mengerjakan pekerjaan yang dibawanya dari kantor atau sekedar membaca koran di sore hari. Bagas, tentu saja berlarian mengitari ruang keluarga itu.

Bagas bergerak menuju kamar dan bersiap untuk membersihkan diri. Jika kenangan masa lalu itu semakin dikorek, lukanya akan semakin menganga. Dia sudah cukup berdamai selama ini. Tidak untuk mengulang kembali kenangan menyakitkan itu.

Raga dan batin Bagas sama lelahnya. Tidak ada yang perlu dikasihani. Keduanya memiliki potensi yang sama untuk merasa lelah dan terluka.

Handuk yang tergantung di balik pintu kamar diambilnya, kemudian bergegas menuju kamar mandi. Seluruh peralatan mandi tersedia secara lengkap. Sebagai manusia yang hidup seorang diri, sudah sepatutnya Bagas melengkapi seluruh keperluannya. Tidak akan ada yang bisa dimintai tolong untuk setiap barang yang tidak tersedia di apartemennya.

Hanya butuh dua puluh menit untuk Bagas menyelesaikan kegiatan bebersihnya. Dengan bersenandung tipis, Bagas mengambil pakaian di lemari besar di kamarnya. Lemari yang hanya berisi seperempatnya.

Baru saja ia selesai berpakaian, suara bel terdengar nyaring di apartemen itu. Dia mengerutkan keningnya heran. Siapa kiranya orang yang tumben-tumbenan bertamu ke apartemennya. Tidak biasanya. Dengan rasa penasaran yang menggebu, dia berjalan ke arah pintu dan membukanya.

Betapa terkejutnya ia melihat orang yang sedang berdiri tegak di depan pintu apartemennya. Seseorang yang sudah lama ingin dia kunjungi, tetapi ragu untuk dipenuhi, sehingga yang bisa ia lakukan hanya memperhatikan orang tersebut dari jauh, dan meyakini kalau orang itu akan selalu baik-baik saja. Hanya dengan begitu saja, ia sudah merasa lega.

“Papa.”

Sapaan pertama yang keluar dari mulut Bagas setelah pulih dari rasa keterkejutannya. Pria yang berdiri di hadapannya kini, sukses membuat jantungnya berdetak tak karuan. Pertanyaan demi pertanyaan berkelebat dalam pikirannya.

Pesan Tanpa SuaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang