Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Kebencian

3 0 0
                                        

Kebencian itu tidak nyata. Dia hanya simbol penolakan perihal masa lalu yang menyakitkan.

---

Sepulang dari pertemuan kembalinya dengan Bagas, Rafan merasa begitu nyeri di bagian ulu hatinya. Seperti ada benda tak kasat mata yang mencoba untuk menerobos masuk dan menyakitinya. Meremas kuat hatinya. Sesak yang begitu mengganggu.

Pertemuan mereka kembali, sangat mengejutkannya. Dia belum mempersiapkan apa pun untuk ‘menyambut’ sosok yang coba ia benci itu. Ya, ia hanya mencoba mengekalkan dendam itu dalam hatinya, meski sampai saat ini, ia belum sanggup total dalam membenci. Untuk membenci seseorang yang dulu sangat kita sayang adalah pekerjaan paling menyakitkan juga memberatkan, bukan?

Rafan sudah lama tahu perihal Bagas. Di mana dia tinggal dan siapa kekasihnya. Tentu saja dia harus mencari tahu. Sangat mengesalkan bahwa ternyata kekasih dari Bagas adalah sahabat dari Airin, cewek yang waktu itu ingin ia dekati. Tentu Bagas akan mengungkap perihal dirinya kepada Airin, tentang dendam yang ingin ia lampiaskan. Namun, lagi, mamanya selalu menempati tahta tertinggi di hatinya. Tidak akan tergeser sedikit pun. Titahnya laksana kewajiban yang haram untuk ditolak.

Rafan membaringkan badannya ke kasur. Matanya memandang langit-langit kamar yang memiliki warna abu-abu yang mendominasi. Pria itu memang pecinta abu-abu. Menurutnya, abu-abu itu menarik dan terkesan misterius.

"Abang sesuka itu, ya, sama warna abu-abu, sampai seluruh kamar Abang warnanya abu-abu. Belum lagi mainan Abang juga kebanyakan abu-abu."

Ingatan masa lalu kembali mengganggunya. Ini yang tidak ia sukai dari pertemuannya dengan Bagas. Akan ada banyak sekali kenangan yang terus berputar di otaknya.

"Warna abu-abu itu indah. Mengesankan."

“Kenapa pertemuan ini harus terjadi di saat aku sudah mencoba mengikhlaskan semuanya?” Rafan bermonolog sambil menerawang perihal masa lalu. Bagaimana ia dengan Bagas harus terpisah karena takdir. Di detik yang sama juga, ia menobatkan Bagas sebagai sosok yang paling ia benci setelah ibunya Bagas. Fakta yang terkuak, sukses menghancurkan kedamaian yang sejak lama mereka bangun. Mereka saling membenci, meski hanya akan saling menyakiti.

Bagas dan masa lalu adalah dua hal yang paling ingin ia hindari. Karena keduanya adalah kenyataan yang paling sulit untuk hatinya terima. Walau ia tahu, menghindar adalah pekerjaan yang sia-sia. Bagaimanapun, keduanya akan terus mengintainya tanpa ampun, sampai dia siap menerima bersama dengan masa depan yang menunggu untuk digapai. Memaafkan dan mengikhlaskan adalah dua hal tersulit untuk ia perbuat. Namun, jika telah siap, hikmah demi hikmah kehidupan akan terus membanjirinya.

“Ah, Bagas. Aku membencimu.”

Matanya lalu menatap ponsel yang masih menampilkan pesan dari kekasihnya. Belum ada balasan yang bisa ia berikan. Gadis itu ingin mengenalkan Bagas padanya. Rafan mendecih.

Rafan
Boleh dek

🌸🌸🌸

Bagas mencoba realistis dengan apa yang ia alami. Tentang kehancuran hidupnya dimulai. Bagaimana kesulitan demi kesulitan terus membanjirinya tanpa ampun. Jika ia membandingkan hidupnya dengan Rafan, tentu dia jauh lebih sengsara. Namun, ia tidak ingin mengatakan itu kepada siapa pun, termasuk orang yang ia panggil Papa itu. Dia rasa, tidak akan ada yang mengerti. Terkadang, mereka hanya ingin tahu, tanpa ada niat membantu. Itulah mengapa, Bagas tidak pernah menggantungkan harap kepada siapa pun.

Saat baru saja sampai di apartemen, papanya tidak tampak di ruang tengah. Mungkin saja papanya sudah beristirahat di kamar tamu yang terletak di samping kamarnya.

Pertemuan bersama Rafan kembali terngiang di benaknya. Rafan terlihat begitu menaruh dendam terhadap dirinya. Padahal jika dipikir-pikir, tidak ada yang perlu dipermasalahkan di sini. Mereka mendapat kesulitan yang sama karena itu. Bagas hanya bisa menerima saja apa pun yang akan Rafan lakukan. Dia tidak bisa membela diri. Sekuat apa pun ia berusaha, dia akan tetap terlihat bersalah.

“Andaikan Mama di sini bersama Bagas, mungkin Bagas tidak akan seterpuruk ini sekarang.” Bagas bermonolog. Ia mulai mengingat semua kenangan bersama sang mama. Bagaimana mereka menjalani kehidupan bersama dengan kesusahan yang setiap waktu kian meningkat. Jika diceritakan, mungkin banyak orang yang tidak akan percaya dengan kisahnya. Terlalu pedih untuk dirasakan dan terlalu sulit untuk diceritakan.

“Rindu, ingin sekali kubagi kisah ini denganmu, tapi aku enggan membuatmu berpikir aku sangat menyedihkan dan aku tidak mau membebanimu."

Bagas memandangi foto di ponselnya. Gadis manis yang sedang menatapnya itu terlihat sangat bahagia di foto itu. Itu foto pertama saat mereka dating setelah meresmikan hubungan. Bagas akhirnya bersedia memberikan hatinya, setelah melihat perjuangan dari Rindu yang tidak lelah mendekatinya. Awalnya dia begitu takut memulai hubungan karena dia tumbuh dari cinta yang salah.

Rindu banyak bercerita soal hidupnya, sedang tentang Bagas tidak sedikit pun Rindu ketahui. Fakta bahwa ia menceritakan kehidupannya kepada Rindu waktu itu tentu membuat gadisnya merasa senang. Susah sekali membuat Bagas bercerita banyak hal kepadanya, apalagi tentang hidupnya. Syukurnya Rindu tidak pernah memaksanya untuk bercerita. Meski tak jarang Rindu memberi kode agar Bagas mau bercerita. Namun, Bagas kerap bungkam. Dia belum siap untuk berbagi.

"Kamu itu terlalu misterius. Sulit sekali memintamu untuk membuka mulut. Entah karena aku yang tidak bisa dipercaya atau kamu yang belum nyaman bercerita denganku," sungut Rindu kala itu. Bagas lalu menggenggam tangan Rindu dan menggeleng keras. Asumsi Rindu jelas sekali salah. Bukan Rindu yang menjadi masalah, tetapi dirinya.

"Bukan. Bukan kamu masalahnya. Aku hanya belum siap. Nanti kalau aku siap, aku janji bakal cerita semuanya ke kamu. Aku harap sampai hari itu tiba kamu masih tetap bersamaku. Di sampingku," pinta Bagas tulus. Matanya menatap dalam netra indah Rindu.

Rindu kembali memaklumi. Kali ini ia kembali mengalah. Ia hanya berharap semoga hatinya tidak pernah menyerah untuk terus membersamai lelaki di hadapannya itu.

Bagas menutup ponsel yang masih menampilkan foto dirinya dengan Rindu. Rasa bersalah kembali menggerogotinya. Gadis itu amat sangat penyabar. Jarang sekali menuntut. Ia takut gadis itu merasa lelah dan menyerah karena sikap dan sifatnya.

Bagas berjalan menuju balkon kamar. Udara segar langsung menyambutnya. Inilah hal yang selalu ia syukuri hingga hari ini, napas yang masih Tuhan berikan. Tidak sepatutnya ia mengeluh, sedang nikmat terus menerus mendatanginya. Jika tidak ada satu manusia pun yang bisa menjadi teman, ada Allah yang selalu siap menjadi tujuan.

Matanya menatap ke arah langit. Tidak ada bintang malam ini. Langit menggulita, seolah memahami suasana hati dari lelaki yang sedang termenung itu.

"Tuhan, kalau boleh, aku minta Rindu buat terus bareng sama aku. Meski kadang aku sulit sekali mengutarakan perasaanku, tetapi jauh di lubuk hatiku, dia gadis yang sangat kusayangi. Kuharap dia bisa mengerti, tanpa harus dijelaskan."

"Wah, ternyata kamu sudah punya pacar? Siapa dia?"

Sebuah suara terdengar dari arah belakang. Saking asyiknya memandangi langit, Bagas tidak mendengar suara langkah kaki papanya yang memasuki kamar.

"Ah, Papa belum tidur?" tanya Bagas basa-basi.

"Udah sebentar. Terus kebangun waktu dengar kamu masuk. Nah, sekarang Papa pengen liat foto gadis itu."

Bagas tersenyum malu-malu. Sepertinya dia memang harus mengenalkan Rindu kepada papanya. Mungkin ini akan menjadi awal dari keterbukaannya kepada Rindu.

"Ini, Pa." Bagas menyodorkan ponselnya yang sudah menampakkan foto Rindu yang sedang memegang bunga pemberiannya.

"Cantik. Papa suka. Kenalin ke Papa, dong," ucap papanya sangat antusias.

"Aman, Pa. Nanti kita atur jadwal."

"Orang penting banget ini."

Bagas tertawa. Malam ini, di sebalik resah perihal pertemuannya dengan Rafan, ia juga merasakan bahagia sebab berada dalam satu ruang yang sama dengan papanya. Orang yang banyak mengusahakannya di masa lalu.

Tuhan, jikalau boleh, aku juga berharap agar sosok pria di hadapanku ini selalu sehat dan mendapat banyak bahagia di hidupnya.

Pesan Tanpa SuaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang