Movie Date

2 0 0
                                        

Ternyata benar. Luka paling hebat bisa muncul dari sosok yang paling dekat dengan motif paling nekad.

---

Sekarang, di sinilah mereka berada. Di sebuah bioskop mal yang sebentar lagi akan menayangkan film yang sepakat untuk mereka tonton bersama. Alphabet dating masih akan terus berlanjut. Kali ini giliran huruf 'M' yang mendapat bagian, yaitu movie date.

Awalnya, mereka hanya sekedar jalan-jalan di mal, sampai kemudian mata Airin melihat bioskop di hadapannya dan menarik tangan Rafan agar masuk ke dalam. Alhasil, tanpa tahu ingin menonton apa, mereka nekad masuk ke dalam bioskop.

"Mau nonton apa?" tanya Rafan yang sedang menatap jadwal film yang akan ditayangkan.

"Aku juga nggak tahu. Eh, ini filmnya Raditya Dika, kayaknya lucu, deh," tunjuk Airin ke sebuah poster yang sebentar lagi akan tayang. Catatan Harian Menantu Sinting judulnya.

Rafan menyetujui saja. Dia juga butuh refreshing. Semoga dengan menonton film komedi, bisa meredakan sedikit kepusingan tentang banyak hal yang baru saja terjadi di hidupnya.

Keduanya masuk ke dalam bioskop. Hawa dingin langsung menyapa. Saat sudah menempati bangku sesuai nomor yang diberikan, Rafan menitipkan ponsel dan tasnya kepada Airin.

"Dek, nitip ini dulu, ya. Abang mau ke toilet sebentar."

Berhubung film belum dimulai, Airin mengambil ponselnya dan membuka aplikasi Tiktok. Trailer dari film-film lain diputar. Airin menatap ponsel Rafan di tangannya. Seketika Airin penasaran dengan isi ponsel dari Rafan.

"Buka sikit gak papa kali, ya? Izin, ya, Bang," ucap Airin sopan, seolah ada Rafan di hadapannya.

Aplikasi pertama yang ia periksa adalah WhatsApp. Tidak ada yang mencurigakan. Pesannya hanya diisi oleh teman-temannya yang tidak Airin kenali. Airin beralih kepada aplikasi Instagram. Airin melihat pesan Instagram, juga tidak ada yang mencurigakan hingga tidak sengaja tangannya menekan username di pojok kiri atas. Tampaklah akun-akun yang tersimpan di ponsel Rafan.

Jantung Airin mencelos. Napasnya memburu. Ketakutan terlihat jelas di matanya. Keramaian di sekitarnya seolah membungkam. Tidak didapatinya banyak orang, yang tersisa hanya dirinya sendiri padahal film belum dimulai. Tentu Airin kenal sekali dengan username yang sedang dibukanya dari ponsel Rafan itu. Akun yang sama dengan yang menerornya beberapa kali.

Ucapan Bagas kembali terngiang. Ia jadi teringat perihal getolnya Bagas memintanya untuk menjauhi Rafan dan jangan memercayainya. Apa kali ini Airin memang harus mendengarkan perkataan Bagas?

"Apa salahku?" tanya Airin tidak percaya. Matanya menatap kosong ke arah Rafan yang muncul dari pintu. Senyumnya melebar mendapati Airin yang menatap ke arahnya. Pencahayaan yang temaram membuat Rafan tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah Airin.

"Eh, filmnya udah mau mulai, Dek," ucap Rafan bersemangat. Ekspresi yang sangat kontras dengan wajah Airin kini.

Airin mengembuskan napas berkali-kali sebagai upaya menenangkan diri dari fakta hebat yang baru saja ia ketahui. Akankah cintanya kembali kandas kali ini? Percayalah, ia ingin egois untuk mempertahankan kenyamanan yang didapatnya dari Rafan.

Rafan terlihat sangat menikmati film yang masih berputar, sedang Airin sedang bertarung dengan jiwa jahat dan baiknya. Ia ingin egois, tetapi di sisi lain, ia juga membutuhkan penjelasan. Untuk saat ini, bungkam adalah pilihan.

"Ah, akhirnya selesai. Ayo, keluar." Rafan menggandeng tangan Airin yang terasa dingin. Wajar saja, pendingin udara di dalam ruangan bioskop bekerja sangat baik. Dingin sekali. Namun, genggaman tiba-tiba yang Rafan berikan, sukses membuat Airin tersentak kaget.

Pesan Tanpa SuaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang