Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Tim Penolak Aira

4 1 0
                                        

Bersatu kita menghancurkan, bercerai kita gak mungkin. Belum nikah soalnya.

---

Jam menunjukkan pukul 12.28 saat mereka menyelesaikan pembelajaran selama empat sks. Seperti yang tadi disampaikan Rindu bahwa ada yang ingin dia bicarakan dengan Vania, membuat keduanya berjalan beriringan keluar kelas. Mereka memandangi Airin yang pamit untuk pulang duluan, karena sudah ditunggu oleh Rafan. Berhubung jam makan siang sudah tiba, Rafan mengajak Airin untuk makan siang bersama.

Tidak seperti biasa, kali ini Airin tidak terlihat antusias. Dia hanya diam memikirkan banyak kemungkinan di kepalanya. Perihal perkataan Vania dan Rindu yang kini terus berputar di benaknya.

Ah, mereka salah lihat itu. Jelas-jelas Bang Rafan masih sempat ngajak aku makan siang di sela kerjaannya di kantor, batin Airin setelah melihat Rafan yang sudah menunggunya di atas motor.

"Jalan kita?" tanya Rafan memastikan sembari tangannya memberikan helm ke arah Airin.

"Ayo, Bang," jawab Airin yang sudah kembali bersemangat. Untuk kali ini, dia ingin mengedepankan kata hatinya saja.

Tanpa Airin ketahui, Rindu dan Vania memandang kepergian motor Rafan dengan wajah kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan Airin yang masih bersedia untuk pulang bersama Rafan setelah mereka memperingatinya tadi adalah bukti bahwa Airin masih percaya sepenuhnya kepada cowok itu.

"Jadi, kita harus ngelakuin apa?" tanya Vania bingung.

"Ayo kumpul di kafe bareng Rafka sama Bagas," ajak Rindu setelah menghubungi Bagas. Keduanya lalu bergegas menuju parkiran, karena Rafka dan Bagas sudah berada di sana.

Sesampainya di kafe, kedua pasangan itu langsung menulis pesanan mereka dan memberikannya kepada waiter. Rapat dadakan pun dimulai. Rapat yang diketuai oleh Rindu itu berjalan tidak terlalu serius.

"Jadi maksud lo, cowoknya Airin itu Abang tiri lo, Gas?" tanya Rafka membulatkan mata.

"Yaps," jawab Bagas santai, tetapi benaknya masih menyimpan kekhawatiran.

"Dia dekatin Airin karena mau balas dendam, gitu?" tanya Rafka lagi.

"Betul."

"Gile! Udah kayak cerita novel yang sering Adek gue baca, anjay," ucap Rafka sambil menggebrak meja. Banyak pasang mata memandangi kedua pasangan itu dengan sorot mata heran juga terganggu. Vania mewakili Rafka untuk meminta maaf kepada para pembeli yang merasa terganggu. Kemudian memberikan tatapan tajam yang mungkin saja dapat menembus kepala Rafka, karena setelahnya bagian belakang kepala Rafka seperti panas dan terbakar.

"Woi, ngapain lo ngidupin api di belakang kepala gue banget, anjir?" Rafka memukul bahu kanan Bagas kencang, sampai membuat cowok itu meringis dan memegangi bahunya.

Pantas saja kepalanya panas, ternyata Bagas sedang menghidupkan api tepat di belakang kepalanya, bukan karena tatapan tajam Vania.

"Pengen aja, sih."

Sial.

Di mana letak ke-cool-an seorang Bagas yang digadang-gadang sebagai cowok kulkas dua pintu yang susah sekali ditaklukkan? Sepertinya kulkasnya sudah rusak setelah Rindu berhasil mendapatkan hatinya.

"Jadi gimana ini? Sebagai tim penolak Aira alias Airin-Rafan, kita harus membuat rencana untuk memisahkan mereka sebelum Rafan benar-benar menyakiti Airin. Nggak mau gue teman mungil gue itu terluka. Kasian, mana barusan ngerasain butterfly era lagi," celoteh Rindu sambil menekuk wajah.

"Lagian, sekalinya jatuh cinta malah sama yang punya dendam pribadi," celetuk Bagas yang ikut menekuk wajah seperti kekasihnya.

"Baiklah, akan kujalani seluruh aksi untuk menolak hubungan Rafan dan Airin, tapi sambil minum ice coffe latte dulu," ucap Rafka yang sudah menyambut kehadiran waiter yang mengantar pesanan.

"Lagi serius juga." Rindu menatap kesal ke arah Rafka.

"Minum dulu, Rindu. Berpikir juga perlu nutrisi," ucap Bagas menyodorkan segelas es jeruk pesanan Rindu. Tanpa lama, Rindu sudah menghabiskan setengah dari isi gelas pesanannya.

"Tuh, kan, haus. Ngapain protes coba tadi?" cibir Rafka menatap gelas yang kembali diletakkan ke meja.

"Oke, sekarang fokus dulu." Kali ini Vania yang mengetuai.

"Emang masalah Rafan sama Airin itu apa sampai dia mau balas dendam?" tanya Rafka setelah menghabiskan sedikit minumannya.

"Sebenarnya gue nggak tahu pasti, ya. Cuma gue denger dari Mama tiri gue kalau dia suruh Rafan buat deketin Airin, katanya mau balas dendam. Gue cuma denger sampai situ. Alasannya nggak dia kasih tahu," jelas Bagas dengan intonasi yang pelan. Dia takut ada yang mendengar ucapannya. Untuk itu, ketiga orang di hadapannya harus mendekatkan telinga ke sumber suara.

"Kayaknya lo harus dapetin info yang lebih valid, sih," saran Rafka yang diberi anggukan oleh Vania.

"Dengan Rafan patuh sama ucapan mamanya, itu artinya mereka memang udah punya rencana buat Airin. Nah, memang bagian itu yang harus gue korek lagi."

"Kita harus buat grup WhatsApp tanpa Airin untuk memperlancar misi kita ini."

Tanpa berpikir lama, Rindu langsung membuat grup dengan nama "Tim Penolak Aira". Ketiga orang di hadapannya di-invite ke dalam grup.

"Oke, sekecil apa pun usaha di antara kita, harus saling berkabar. Kita usahakan mereka selesai tanpa luka untuk Airin," ucap Rindu.

"Nggak mungkin tanpa luka, sih. Dengan dia tahu bahwa dia sedang dijadikan korban balas dendam aja itu udah jadi luka," balas Vania tidak menyetujui ucapan Rindu barusan.

"Nah, pinter, Sayang." Rafka memberikan dua jempol kepada Vania yang dibalas dengan tatapan tajam. Bukannya merasa tersipu, Vania malah merasa kalau Rafka sedang menghinanya.

"Memang kalau orang udah kepalang bucin, bakal susah banget dikasih tahunya," ucap Bagas yang pasti disetujui oleh Rindu. "Nah, kayak kalian berdua ini contohnya. Sayang-sayangan di depan umum. Nggak menghargai warga negara yang sedang jomblo, hts dan ldr saja."

"Loh, itu bukan urusan kitalah. Siapa suruh mereka memilih jomblo, hts dan ldr di saat memiliki kekasih yang bisa disamperin kapan aja itu lebih seru." Rafka tentu tidak mau disalahkan begitu saja. Dia menaikkan alis ke arah Vania, yang dibalas dengan dengusan kasar.

"Nggak semua orang punya kesempatan buat ngerasain itu," ucap Rindu bijak.

"Setidaknya berusaha."

"Pelan-pelan aja ngasih tahu Airinnya. Kalau kita nasehatin terus-menerus, dia pasti kepikiran. Kita buat dia kepikiran dulu sampai di titik dia percaya sama kita," ucap Rindu sambil menyeruput minumannya kembali.

"Kalau ternyata di saat kita sibuk memengaruhi dia, di situlah waktu Rafan untuk semakin gencar membuat Airin merasa sangat dicintai, gimana?" Vania menatap sangsi. "Kayak tadi yang Bagas bilang, kalau udah kepalang bucin, bakal susah."

"Batu yang terus ditetesi air hujan, lambat laun akan terbelah juga, kan?" Rindu memberikan petuahnya.

"Kalau Batunya dilapisi plastik, gimana? Nah, plastik itu ibaratnya rasa cinta yang Rafan beri."

"Ah, Vania, lo jangan gitu! Pusing, nih, gue," rengek Rindu.

"Udah-udah. Kita coba aja dulu nasehatin terus-menerus. Usaha dulu. Kita ajak sering-sering main, deh. Biar dia nggak sama Rafan terus." Rafka memberi saran.

"Harusnya saran lo itu bagus, sih. Tapi, pernah nggak lo berpikir kalau dia pasti bakal ajak cowoknya? Ya, kali dia mau sendiri di saat dia udah punya gandengan." Rindu menyanggah pendapat Rafka.

"Iya lagi," ucap Vania sambil menyeruput ice cappucino-nya.

"Balik ke yang tadi dulu aja. Kita berempat, terutama Rindu sama Vania coba bicara sesering mungkin dengan Airin. Minta Airin untuk pertimbangin hubungannya dengan Rafan. Untuk misi selanjutnya, kita bicarain di grup."

Pesan Tanpa SuaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang