Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Sama Terluka

3 0 0
                                        

Tidak perlu membandingkan kesedihan. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari luka yang ditahan sendiri.

---

"Lah, si tolol. Apaan, dah, caption, nih, anak. Buset! Bukan temen gue." Teriakan histeris terdengar dari sebuah kamar indekos berfasilitas lengkap. Konon si penyewa indekos sangat berjuang untuk mendapatkan tempat tinggal tersebut. Sulit menemukan kamar indekos untuk sendiri di wilayah kampus, membuatnya harus mencarinya jauh dari kampus.

Screen shoot, kirim dan gibahin adalah tradisi yang tidak lepas dari yang namanya grup WhatsApp. Vania yang sudah begitu membara membaca caption dari status WhatsApp yang dilihatnya langsung mengirimkannya ke grup. Sontak saja, balasan amarah dari penghuni grup memenuhi ruang chat.

Rindu
Biar banyak godaan, yang penting kita bersama dalam kebahagiaan

Anjay banget caption-nya. Menyala emosiku.

Bagas
Padahal gue udah jujur banget sama dia. Gue udah bongkar soal hubungan gue sama Rafan. Kok tetep kecantol tuh anak. Heran dah

Vania
Muak gue sumpah

Rafka
Namanya juga bucin. Yaudah biarinlah

Rindu
Gak bisa gitu dong
Rafan itu ada motif terselubung buat deketin Airin. Ya kali dibiarin

Rafka
Satu tipe orang yang gak bakal bisa dinasehatin adalah orang yang lagi jatuh cinta. Lagi jatuh cinta aja susah dinasehatin. Apalagi yang lagi cinta-cintanya.

Vania
Jadi gimana dong?
Masa kita diem aja waktu tau temen kita dimainin gini?

Rafka
Yang penting kan kita udah usaha ngasih tau
Konsekuensinya ya dia yang tanggunglah
Orang dia yang gak mau dengerin

Vania tidak berkedip membaca pesan yang dikirim oleh kekasihnya itu. Tidak biasanya seorang Rafka secuek dan sebodo amat itu. Biasanya dia adalah sosok yang selalu memberi perhatian yang besar kepada temannya. Tanpa menunggu lama, Vania menghubungi kekasihnya itu.

"Maksud kamu apa ngomong kayak gitu?" cecar Vania tanpa basa-basi.

Bukannya suara kesal atau marah yang Airin dengar, tetapi suara kekehan. "Duh, emosinya tolong dijaga, Sayang. Suka banget marah tiba-tiba gitu."

"Ya, lagian. Aneh banget. Nggak biasanya."

"Gimana-gimana, keren, enggak kalau aku tiba-tiba jadi cool gitu?"

"Nggak lucu," sentak Vania kesal.

"Ya, udahlah, Sayang. Nggak usah terlalu khawatir gitu. Airin udah dewasa. Dia tahu yang terbaik buat dirinya. Kalaupun Rafan nanti nyakitin dia, pastikan kita ada buat menghibur dia," jawab Rafka realistis yang mampu membuat Vania diam-diam membenarkan.

"Aku tebak. Pasti saat ini kamu sedang memikirkan kata-kataku dan diam-diam membenarkan. Kamu jadi kagum sama kecerdasanku dan bangga jadi pacarku," ucap Rafka melanjutkan ucapannya setelah menikmati keheningan yang Vania ciptakan.

"Narsisnya enggak pernah hilang. Heran, deh." Vania bersungut, tetapi wajahnya menampilkan sebaliknya. Dia tersenyum.

"Daripada sibuk mengkhawatirkan Rafan yang akan menyakiti Airin, lebih baik kita lebih sering membersamai Airin supaya saat Rafan menyakitinya nanti, Airin tidak terlalu bersedih. Dia selalu punya alasan untuk tersenyum."

Pesan Tanpa SuaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang