Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Life After BreakUp

6 0 0
                                        

Salah satu fase paling menyakitkan dalam kisah cinta manusia adalah fase setelah putus. Namun, tidak semua hal menyakitkan akan memberikan luka. Terkadang, ada juga kebaikan di dalamnya.

---

Hal yang paling Airin takutnya akhirnya terjadi. Kata putus itu dengan berani Rafan layangkan saat Airin dengan sekuat tenaga meredam seluruh emosi jiwanya. Saat dia mengesampingkan seluruh amarahnya hanya agar Rafan tetap bersamanya. Namun, Rafan sebaliknya. 

Untuk ingin yang berseberangan, selesai terkadang menjadi jalan pintas. Sakit, tetapi fakta membuktikan hal tersebut.

Airin masuk ke dalam rumah dengan lelehan air mata yang terus membanjiri wajahnya. Seluruh anggota keluarga yang berkumpul jelas sekali terkejut. Tadi, heboh sekali Airin pamer kepada semua orang kalau Rafan mengajaknya bertemu. Suatu kejadian langka yang perlu diapresiasi. Ekspresi yang sangat kontras terjadi saat ini. 

"Loh, kamu kenapa, Ai?" tanya Mama Ema panik. Anak perempuannya itu jarang sekali menangis. 

"Jangan ajak Airin bicara dulu untuk beberapa saat. Airin lagi males ngomong sama siapa pun," pinta Airin sebelum langkah kakinya masuk ke dalam kamar. Semua memaklumi dan membiarkan Airin menenangkan diri. Jika ia butuh teman cerita, ia pasti akan mendatangi mamanya.

Airin menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal. Meredam suara tangisan yang jelas saja akan terdengar sampai ke ruang keluarga. Ia tidak mau membuat keributan.  Biarlah fase life after breakup ini ia jalani dengan sunyi. Namun, sepertinya keinginan itu tidak akan terwujud, karena kini, sosok adik paling sibuk sudah memasuki kamar. 

"Dih, dramatis banget. Abis putus lu?" tanya Nadin spontan saja yang membuat tangisan Airin semakin keras terdengar.

"Sudah kuduga. Baru juga dibilangin, jangan kecintaan sama cowok. Disakiti, kan? Lagian, udah tenang banget jomblo waktu itu, malah sok-sokan pacaran. Ya, begini, kan." Nadin masih asik bercerocos saat pandangan matanya menangkap sorot kesedihan di mata kakaknya. Ia lantas mendekat lalu mendekap sang kakak. 

Airin yang diperlakukan dengan manis oleh adiknya, langsung meraung. "Lagi nggak butuh diceramahin. Diem aja kayak gini," pinta Airin yang disetujui oleh Nadin. Keduanya berpelukan di atas kasur. Suatu hal langka yang jarang sekali terjadi.

"Jahat banget dia. Dia jadiin aku tempat balas dendam, tapi gak tau alasan dendamnya. Katanya aku nggak usah nyari tahu, karena bisa jadi rumahku bakal berbeda. Aku nggak ngerti. Aku pengen nyari tahu, tapi aku nggak siap sama perubahan yang dia sampaikan." Airin memutuskan untuk berbagi cerita dengan adiknya itu. Meski bermulut pedas, terkadang Nadin sangat bisa diandalkan. 

"Aku sayang banget sama dia. Beneran butterfly era banget aku kemarin. Nggak nyangka bakal kayak gini. Jahat banget."

"Kak, ingusmu meluber kemana-mana." Nadin berteriak tiba-tiba saat Airin dengan sengaja menggosokkan hidungnya ke bahu Nadin.

"Kakak lagi sedih, loh, Dek. Udah jangan banyak protes," pinta Airin yang kembali menangis, membuat Nadin memutar bola mata jengah.

"Sekali lagi nggak usah ngide buat pacar-pacaran. Nggak guna. Mending gunain waktu buat belajar yang rajin. Kuliah yang bener. Udah tahu nggak ada pengalaman pacaran, malah pacaran. Heran." Nadin masih asik memberi ceramah kepada sang Kakak.

"Ya, udah, sih. Namanya juga pengen ngerasain butterfly era," ucap Airin mencari pembenaran.

"Makan, tuh, butterfly era. Sick era yang ada."

"Dek, jangan ulti terus. Sakit, loh."

"Yang bilang enak siapa? Ya, udah, nikmati ajalah. Paling juga tiga hari udah baikan. Gak papa uring-uringan tiga hari, tapi habis itu janji nggak uring-uringan lagi," tegas Nadin menatap tajam sang kakak. 

Teman-teman Airin sudah menjelaskan perihal niat Rafan kepada Nadin. Adiknya itu sebenarnya sudah tahu, makanya dia meminta Airin untuk jangan terlalu cinta terhadap lelaki yang menjadi kekasihnya itu. Namun terlambat, kakaknya itu sudah jatuh terlalu dalam.

"Kalau aku nggak bisa move on, gimana, Dek?" rengek Airin yang membuat Nadin merasa jengah.

"Ya, nggak gimana. Paling juga mellow terus."

Airin memukul bahu Nadin sebab jawaban ngasalnya. "Nggak ngebantu banget."

"Ya, lagian. Gini, ya, Kakakku sayang, yang kalau udah bucin, tololnya nggak ketulungan. Move on itu memang nggak mudah, tapi nggak selamanya sulit. Butuh waktu. Nggak bakal langsung. Jadi, untuk bisa move on, Kakak perlu melakukan banyak hal-hal yang berguna. Biar nggak keingat dia terus. Elah, begini doang harus diajarin."

"Sedih, tau."

"Memang. Makanya nikmati aja rasanya. Nanti pasti bakal bisa ikhlas. Pelan-pelan. Nggak ada yang instan."

Tidak ada jawaban. Airin masih berkutat dengan lukanya.

---

Sesuai permintaan papanya, kini mereka bertiga sudah sampai di depan rumah yang selama ini menjadi tempat Rafan dan mamanya tinggal. Rafan sudah memikirkan ini matang-matang. Dia tahu bahwa mama dan papanya belum sah cerai di mata negara. Belum ada ucapan talak dari papanya. Mereka masih suami-istri.

"Ayo, masuk, Pa, Bagas. Kayaknya Mama lagi di nonton," ucap Rafan takut-takut. Ketiganya lalu berjalan perlahan. Mereka takut membuat Mama Rafan terkejut. 

"Kamu sudah balik, Nak?" tanya Mamanya yang sudah menatap ke arah Rafan. Namun, matanya membelalak kaget, karena bukan hanya putranya yang ada di sana. Ada dua sosok lain, yang begitu ia kenali dulu.

"Kamu," teriak Sarah kala memandang wajah Syahreza. Telunjuknya terarah secara jelas ke Syahreza. "Ngapain kamu ke sini? Rafan, ngapain kamu bawa mereka?"

"Ma, tenang dulu, ya. Rafan mohon." Rafan mendekat kepada Mamanya yang tampak tidak tenang. Rafan mengelus bahu sang mama. Bersyukur mamanya tampak sedikit tenang.

"Kita duduk dulu, ya, Ma." Rafan menuntun sang mama untuk duduk diikuti oleh Bagas dan papanya yang memilih duduk berseberangan dengan mamanya.

"Papa mau ngomong sama Mama. Boleh, ya?" pinta Rafan dengan suara rendah. Dia memberi banyak harap agar sang mama menyetujui. Hening yang begitu mencekam. Tidak ada jawaban. Mamanya masih menatap tajam Papanya yang tidak berani mengangkat wajah.

"Mau ngapain lagi kamu?" Akhirnya suara itu kembali terdengar. 

Syahreza tersenyum pilu. "Sarah. Mungkin maafku tidak akan pernah bisa menghapus seluruh luka yang sudah kutanam di hatimu."

"Tentu saja," sambar Sarah yang membuat Syahreza tersenyum. Ia tidak sedikit pun merasa terganggu.

"Namun, tetap saja aku ingin meminta maaf. Aku ingin memperbaiki diriku. Aku merasa sangat hancur saat satu persatu kalian pergi dari hidupku."

Hening kembali mencekam. Tidak ada yang berani bersuara. Mereka semua menunggu respon dari wanita satu-satunya di sana.

"Beri aku waktu untuk memaafkan. Lukanya terlalu menganga. Sakit sekali."

"Baiklah. Tidak masalah. Dengan kamu bersedia berbicara denganku, sudah membuatku merasa lebih baik. Semoga selalu berbahagia, Sarah."

---

Menjalani hari-hari setelah fase breakup, jelas saja tidak menyenangkan. Namun, Airin mencoba untuk mengalihkan rasa galaunya dengan terus melakukan banyak kegiatan bermanfaat. Airin mulai menulis buku, seperti hobinya dulu. Ia juga mulai rajin mengikuti banyak organisasi dan kegiatan di kampus. Segala hal dilakukan agar pikirannya dapat teralihkan.

Seperti yang Nadin sampaikan, tentu hal tersebut tidak akan mudah, tetapi tidak selalu sulit. Nyatanya, sendiri membuat Airin mendapat banyak hal baru di hidupnya. Ia sendiri, tetapi tidak pernah kesepian. Teman-teman dan keluarga selalu bersedia membersamainya. Mereka berusaha agar Airin tidak pernah merasa sepi. Untuk itu, Airin sangat merasa diberkati. Meski tidak ada pesan yang ditunggu lagi, juga alphabet dating yang masih beberapa yang dilakukan, Airin tetap mencoba untuk tidak bersedih lagi.

Hubungan yang gagal tidak selalu mendatangkan luka. Terkadang, terselip juga kebaikan di dalamnya. Airin jadi semakin bisa meng-eksplor banyak hal. Ia mulai berani keluar dari zona nyaman.

Terima kasih untuk kisah cinta yang gagal. Ternyata, sendiri tidak selalu menyedihkan. 

---

Selesai

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 05, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Pesan Tanpa SuaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang