Untuk setiap ekspektasi yang berani diberikan kepada manusia, maka sisakan ruang untuk kecewa.
---
Tidak biasanya Airin bangun sepagi itu di hari weekend. Mama Ema sampai mengerutkan dahi heran. Sebuah kejadian langka yang patut dipertanyakan. Bukan hanya bangun cepat, Airin juga mandi pagi. Makin mencurigakan.
"Mau kemana, tuh?" tanya Mama Ema dengan mata menyelidik.
"Gak boleh banget anak Mama ini mandi cepat?"
"Bukan nggak boleh, tapi ini beneran langka. Seorang Airin mau menarik bokong dari kasur pada hari minggu pagi dan bergerak untuk mandi? Patut dicurigai," ucap Mama Ema dengan wajah menatap Airin penuh.
"He-he, biasalah, Ma. Anak muda. Mama kayak nggak pernah muda aja," jawab Airin menyengir.
"Ah, pantesan. Biasanya juga ogah bangkit dari kasur kalau gak jam sepuluh." Setelah mendapat jawaban atas rasa curiganya, Mama Ema akhirnya bergegas menuju dapur. Melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda karena anak gadisnya yang berlaku tidak biasa.
Sesuai janji, nanti pukul sembilan, Rafan dan Airin akan memulai petualangan alphabet dating yang sudah dirancang. Kali ini, Airin tidak mau gagal lagi. Cukup rencana triple date yang gagal karena keegoisan Bagas. Airin masih kesal mengingat perlakuan aneh cowok itu.
"Ah, biarinlah Bagas itu. Biar dia jelasin ke Rindu. Mau aku yang jelasin juga belum tentu Rindu percaya." Airin bermonolog sambil berdandan dan mematut diri di cermin. Airin yang jarang sekali memakai make up yang dibelinya sendiri itu, kali ini lihai sekali memolesnya ke wajah. Blush on yang tidak terlalu tebal berwarna pink menambah anggun wajah Airin. Ditambah dengan liptint berwarna serupa, membuat penampilan Airin semakin memukai. Tidak lupa maskara dan eye liner yang lumayan sulit Airin pakai.
"Nah, sempurna."
Setelah perjuangan menghapus pasang eye liner, akhirnya Airin puas melihat tampilan wajahnya. "Ah, cantik banget. Gak sia-sia Vania ngajarin aku cara supaya centil. Terpakai juga ilmunya sedikit-sedikit," ucap Airin sambil berteriak.
Nadin yang masih tertidur, merasa terganggu. "Kak, suaramu. Ganggu orang tidur aja!"
"Astaga, Nadin! Kamu nggak lihat matahari sudah menyapa bumi? Sinarnya itu hangat sekali. Cocok untuk keluar rumah dan kamu malah milih buat bersembunyi di balik selimut?" cerocos Airin yang membuat Nadin melemparkan bantal guling ke arah Airin.
"Pergi, Kak! Sebelum aku angkat kasur ini dan membuangnya ke badan Kakak," marah Nadin dengan sorot mata serius. Airin yang menatap wajah murka adiknya, bergegas keluar kamar.
"Punya Adik gitu amat."
🌸🌸🌸
Waktu masih menunjukkan pukul 08.43 WIB, saat Airin sudah duduk cantik di depan rumah. Masih ada waktu kurang lebih 17 menit untuk kembali memperhatikan penampilan. Mengecek apakah masih ada kekurangan dalam menyambut kehadiran Rafan yang berjanji akan menjemputnya.
Sudah hampir setengah jam Airin menunggu, belum ada tanda-tanda Rafan akan muncul. Airin mulai bergerak gelisah. Pikiran buruk mulai bermunculan di benaknya. Kuku jari Airin menjadi sasaran keresahannya. Selalu seperti itu. Airin akan menggigiti kukunya saat sedang merasa resah dan gelisah.
"Loh, kamu belum berangkat? Udah hampir tengah sepuluh." Suara Mama Ema membuat Airin bergerak tidak nyaman dalam duduknya.
"Orangnya belum datang," jawab Airin dengan wajah ditekuk sempurna.
"Ya, ditanya, atuh. Chat dulu."
Sebelum Airin sempat mengirim pesan, sebuah notifikasi tampak di layar atas ponsel Airin. Panjang umur sekali. Rafan mengiriminya pesan.
Bang Rafan
Dek, ke galerinya tunda dulu ya
Abang mendadak ada kerjaan
Bahu Airin merosot setelah membaca pesan yang Rafan kirimkan. Airin tersenyum miris. Kenapa cowok mudah sekali membatalkan janji tepat setelah waktu temu yang seharusnya?
"Mama tebak, pasti gak jadi, ya," ucap Mama memandang Airin sendu. Dia tahu sekali bagaimana rasanya. Masa-masa muda seperti ini juga pernah ia rasakan.
"Begitulah manusia. Mudah sekali memberi harap lalu melanggarnya begitu saja. Mana tahu dia kalau putri Mama ini sudah berdandan sejak pagi buta. Yang biasanya bangun jam sepuluh, ini demi-demian bangun jam setengah tujuh. Eh, malah kecewa hadiahnya." Mama Ema kembali melancarkan aksi ceramahnya.
"Ma, aku boleh marah, kan, ya?" gumam Airin yang masih bisa Mama Ema dengar.
"Boleh-boleh saja. Tapi, apa dengan marah dia bakal datang ke sini buat jemput kamu?"
"Setidaknya dia tahu effort aku buat jalan sama dia."
"Seandainya dia tahu pun, ujungnya pasti minta maaf, kan? Apa ada jaminan kalau dia gak akan ngulang hal yang sama?"
Airin terdiam. Namun, dalam hatinya jelas sekali ingin marah. Teringat bagaimana sibuknya dia sedari tadi. Mencari baju yang pas untuk dipakai dating. Berdandan agar terlihat cantik oleh Rafan. Padahal, berdandan bukanlah kesenangannya. Demi Rafan, dia mau saja melakukannya.
"Nak, kita gak bisa nuntut orang lain untuk mengikuti semua keinginan kita. Pada akhirnya, yang harus diperbesar itu bukan tuntutan, tetapi rasa rela dan ikhlas di hati. Kecewa sejatinya muncul karena harapan yang menggebu di dalam hatimu. Coba kalau kamu tidak menetapkan sedikit pun ekspetasi, kejadian seperti ini jelas bukan suatu hal yang besar. Mudah saja kamu menerimanya. Sayangnya, sedari awal kamu sudah menetapkan kesenangan yang besar. Ketika anganmu itu dipatahkan, wah, rasa marahmu juga akan teramat besar. Setuju sama Mama?" Mama Ema memandangi Airin tepat di matanya. Airin menunduk kaku. Menyetujui semua ucapan sang Mama. Jelas saja. Semua bermuara kepada ekspektasi yang dipatahkan.
"Ayo, jawab pesannya. Kalau memang mau marah, silakan! Mama rasa kamu juga punya hak untuk marah, meski seperti yang Mama bilang tadi. Tetap tidak ada jaminan dia tidak akan mengulangi hal yang sama. Jadi, sebelum menetapkan harapan kepada seseorang, kontrol dulu hati perihal rasa ikhlas. Udah, Mama mau ke dalam dulu."
Seluruh ucapan Mama Ema terekam sempurna di benak Airin, meski tidak seluruhnya bisa dia terima. Airin masih ingin melampiaskan amarahnya kepada Rafan. Sebagai cewek, wajar saja Airin merasa kecewa saat janjinya diingkari begitu saja.
Airin
Kok gak sekalian besok aja ngabarinnya?
Tidak ada panggilan Abang seperti biasa. Bukti bahwa Airin benar marah dan kecewa. Pesan yang membuat Rafan tersenyum sinis.
Bang Rafan
Maaf dek
Kerjanya mendadak
Airin mengembuskan napas kesal. Memang, marah juga tidak akan ada gunanya. Saatnya masuk ke dalam kamar dan melanjutkan emosi yang tertahan. Biar saja Nadin kembali meluncurkan protesnya. Airin butuh melampiaskan emosinya.
"Ah, kesal banget. Gila!"
Sesampainya di kamar, Airin langsung melemparkan dirinya ke kasur. Boneka yang berada di kasurnya menjadi sasaran kemarahan. Boneka itu diibaratkan samsak yang harus menanggung emosinya.
Tanpa Airin ketahui, di tempatnya berada, Rafan sedang tertawa bahagia. Tidak ada pekerjaan seperti yang disebutkan.
Baru permulaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pesan Tanpa Suara
RomanceDi tengah kesibukan sebagai mahasiswa semester lima, Airin dikejutkan dengan surat-surat misterius yang sering muncul di loker pribadinya. Belum lagi pesan-pesan anonim yang terus mengganggu hari-harinya yang sedang berada di titik lelah. Beruntung...
