Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Mengakhiri

2 0 0
                                        

Putus cinta selalu menyakitkan. Namun, akan selalu ada pelajaran yang dapat diambil dari sebuah hubungan yang gagal.

---

"Pa." Bayangan masa lalu buyar sebab panggilan dua putra yang dirindukannya itu. 

"Bagaimana kabar ibumu, Gas?" 

Hati Rafan mencelos. Apa-apaan papanya ini? Mengapa ia lebih dulu mempertanyakan mama Bagas yang jelas-jelas bukan istrinya daripada mamanya yang notabene istri sahnya? Amarah itu kembali memberontak, tetapi dia berhasil meredamnya. Amarahnya sedang tidak dibutuhkan sekarang. Dia mencoba santai di tengah kecamuk api cemburunya. Siapa pun dia, pasti ingin diprioritaskan, bukan? 

"Papa mau fakta atau rekayasa?" tanya Bagas. 

"Tentu saja fakta."

"Papa pengen dengar kabar bahagia atau sedih?" Bagas belum mau menjelaskan secara gamblang.

"Bahagia pastinya," jawab Syahreza dengan kening mengerut. Putra bungsunya itu terlalu bertele-tele.

"Kalau Bagas cerita mengenai kebahagiaan, berarti Bagas sedang merekayasa fakta, Pa," ucap Bagas dengan senyum sendu membuat kening papanya semakin mengerut. 

"Apa maksud kamu, Bagas?" 

Arhan tersenyum mendengar suara berat sang papa. Setidaknya, ibunya masih berada di dalam hati papanya.

"Bagas cerita jujur, ya, Pa." 

"Itu memang harus, Bagas. Cepat ceritakan. Papa tidak sedang bercanda sekarang. Jadi, Papa mohon serius."

"Ibu sudah lewat, Pa."

"Meninggal maksudmu, Gas?" tanya papanya tidak percaya. 

"Iya, Pa. Makanya Bagas balik ke sini. Karena Bagas udah nggak punya siapa-siapa lagi di sana."

"Emang kalian tinggal di mana selama ini?" Akhirnya suara Rafan terdengar. Dia juga ikut penasaran.

"Amerika. Mama meninggal karena over dosis. Aku lagi nggak di rumah. Tiap malam aku selalu dengar tangisan Mama. Tangisan penyesalan. Dia menyesal sudah menyakiti orang sebaik Tante Sarah. Makanya sebisa mungkin aku selalu ngejaga Mama. Waktu itu aku keluar karena belanja untuk kebutuhan rumah. Dan, ya, Mama over dosis," cerita Rafan dengan sendu.

Lihat, tidak ada yang lebih menderita dibanding yang lainnya. Mereka sama menderitanya. Tidak ada yang bahagia setelah menyakiti orang lain. Lukanya akan abadi.

"Lantas bagaimana dengan mamamu, Rafan?" tanya Syahreza pelan ke arah Rafan. Sedari tadi dia tahu putra sulungnya itu tidak jarang menatapnya dengan sorot permusuhan. Dia memang ayah yang buruk. 

"Mama di rumah setelah menghilang bertahun-tahun. Baru aku tahu kalau ternyata mama ditolong oleh psikiater. Sekarang mama sudah sembuh, meski kuyakin lukanya tidak akan pernah sembuh," jawab Rafan lugas. 

"Mau kamu menemani Papa bertemu dengan mamamu?"

---

Perihal pertemuan dengan Papanya kemarin, itu ide dari Bagas. Ia terus memohon agar Rafan bersedia menemui sang papa. Bagaimanapun, dia ingin mereka saling memaafkan. Hidup sendiri mengajarkan Bagas untuk bisa melapangkan hati untuk berdamai dengan banyak hal.

Setelah bertemu dengan Bagas dan Papanya, Rafan mulai memikirkan banyak hal. Apalagi tentang cerita masa lalu papanya dengan ibu dari Rafan dan Bagas. Pasti sangat menyakitkan dirasakan oleh ibunya. Apakah gadis sebaik Airin berhak diperlakukan dengan tidak baik dan dijadikan ajang balas dendam? 

"Kasihan Airin. Cewek gue juga kasihan." Rafan bermonolog.

Seharusnya sebagai anak, ia bisa menyadarkan mamanya untuk tidak mengekalkan dendam, apalagi sampai melampiaskannya ke orang yang salah. Airin jelas tidak mengetahui apa pun perihal masa lalu orang tuanya. Jelas saja ia tidak berhak mendapatkan hal sekejam itu.

"Kayaknya gue bakal akhiri aja, deh. Kasian kalau makin dalam. Gue emang udah mulai nyaman sama, tuh, anak. Tapi, gimanapun gue udah punya cewek. Menurut lo gimana?" tanya Rafan kepada Bagas yang berada di sampingnya. Saat ini mereka sedang berada di apartemen milik Bagas.

"Ya, memang harus diakhiri. Malah nanya. Gue, kan, udah bilang dari kemaren."

"Gue chat aja kali, ya?" tanya Bagas lagi.

"Buset, mana zaman putus lewat chat. Jahat namanya. Ajak ketemuanlah."

"Tapi kasian."

"Dari awal anak itu emang udah kasian."

"Ya, udah, gue ajak ketemuan aja."

---

Pesan dari Rafan membuat Airin bertanya-tanya. Apa hal yang membuat Rafan tiba-tiba mengajak bertemu. Tidak biasa.

Dia mulai berdandan manis seperti biasa. Tidak ada pikiran buruk soal lelaki itu. Mungkin Rafan sedang merindukannya, makanya ia meminta bertemu. 

Taman dekat sekolah Airin menjadi tempat yang mereka setujui.  Rafan sudah berada di sana saat Airin sampai. Lelaki itu tersenyum, meski Airin tahu senyum itu dipaksakan. Jelas sekali.

"Tumben, Bang. Biasanya harus aku dulu yang merengek minta bertemu."

Rafan bingung harus bagaimana memulainya. Gadis ini masih tersenyum cerah. Tidak adakah sedikit saja rasa benci dalam hatinya untuk lelaki brengsek seperti Rafan ini?

"Kita ke sini bukan buat diem-dieman gini, kan, Bang?" Senyumnya masih secerah matahari.

"Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu."

Airin tersentak mendengar panggilan dari Rafan. Tidak. Rafan tidak pernah menyebut dirinya aku, selalu abang. Ada apa ini? Airin mulai merasa ada yang tidak beres. Ia memainkan tangannya resah.

"Ucapan aku ini bakal nyakitin kamu. Tapi aku nggak mau lagi menunggu lagi, karena lukanya akan semakin sulit disembuhkan. Mungkin Bagas udah ngomong sesuatu tentang aku. Benar, Bagas itu adik tiri aku."

Airin memutuskan untuk diam mendengarkan. Pikirannya sudah kacau. Dia belum siap dengan segala kemungkinan yang ada di otaknya saat ini. 

"Aku deketin kamu karena disuruh Mama aku. Buat balas dendam."

Mata Airin membelalak. Tidak menyangka Rafan akan seberani itu untuk jujur. Tidak ada kalimat yang diperhalus. Dia benar berkata apa adanya.

"Rumit sekali ceritanya. Aku tidak mau kamu marah jika aku berkata lebih jauh lagi. Cukup benci aku karena alasan balas dendam. Tidak usah cari tahu alasannya, karena aku khawatir rumahmu tidak akan sama lagi," ucap Rafan yang membuat setetes air mata mengalir dari sisi kanan pipi Airin. Rafan memejamkan mata. Ikut merasakan luka yang dirasakan gadis di depannya.

"Juga aku sudah punya cewek."

"Orang yang jadi alasan Abang ninggalin aku waktu di galeri?" tanya Airin dengan terbata.

Rafan tersentak kaget. Tidak menyangka Airin melihat kejadian itu. 

"Bukan aku yang lihat, tapi Vania. Aku pikir memang teman. Ternyata pacar." Airin terkekeh. "Makasih udah jujur. Aku sakit banget. Jujur. Nyesek banget rasanya. Sebenarnya, aku udah tahu Abang yang neror aku di Instagram. Awalnya aku mau denial dan diem aja. Nggak mau mempermasalahkannya, karena aku nggak mau Abang ninggalin aku. Ternyata diamku juga nggak ada gunanya." Airin berbicara dengan tersedu-sedu. Air mata terus membanjiri. 

"Maaf banget. Aku yang salah udah bawa kamu sejauh ini. Aku kira dengan menuruti Mama, aku bakal bahagia. Nyatanya, aku ngerasa bersalah banget sama kamu."

"It's okay. Sakitnya nggak bakal lama, kok. Aku yakin. Aku cuma perlu waktu buat ikhlas dan berdamai. Semoga kita bisa sama-sama bahagia di masa depan, ya. Aku pamit." Airin beranjak pergi. Namun, Rafan kembali memanggilnya.

"Ai, di masa depan, jangan terlalu mudah memberi hatimu secara penuh kepada lelaki mana pun, ya. Beri batasan atas perasaanmu. Dalam beberapa keadaan, kita boleh ragu dan tidak terlalu memercayai siapa pun. Banyak sekali orang yang hadir karena rasa penasaran. Saat rasa penasarannya sudah mendapat jawaban, dia pun pergi. Semoga di masa depan, kamu mendapatkan sosok lelaki terbaik untuk hidupmu, ya. Selamat tinggal."

Pesan Tanpa SuaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang