Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Surat Misterius

21 9 4
                                        

Hidup sudah terlalu melelahkan. Tolong, jangan tambahi dengan banyak perkara misterius!

---

Di bumi, ada banyak sekali hal-hal menyenangkan. Tidak bisa merekam seluruhnya, maka simpanlah sebagian untuk kenangan dan ingatan di kemudian hari. Airin, Rindu dan Vania suka sekali melakukannya. Mengabadikan tiap momen yang pasti akan mereka rindukan di masa depan. 

"Jangan lupa di-posting! Tag aku," perintah Airin yang selalu bercita-cita menjadi selebgram, tetapi malas sekali disuruh membuat postingan. Dia hanya senang meng-upload nya di story, yang kemudian hilang setelah 24 jam. Meski hilang, kenangan itu akan menjadi arsip yang bisa ia lihat setelahnya. Akan tetapi, beberapa saat kemarin, Airin merasa kesal karena Instagram tiba-tiba menghapus beberapa kenangannya di arsip.

"Lo aja yang posting, Ai." Rindu bersiap meninggalkan tempat duduknya, begitu juga dengan Airin dan Vania. Tugas sudah selesai mereka kerjakan. Saatnya kembali melanjutkan kelas di mata kuliah berikutnya.

"Ah, kalian dulu." Airin bersungut. Hal yang ia kesalkan dari kedua temannya ini adalah malas posting. Foto banyak sekali di-take, tetapi satu pun tidak di-posting

"Ya, udah. Nanti aja kalau gue rajin ngeditnya," jawab Vania, si ratu estetik. Pemilik gelar cewek bumi, karena suka sekali memakai pakaian berwarna soft. Ciri khas cewek bumi.

"Siap. Tag aku pokoknya."

"Selalu," ucap Rindu dengan gelengan kepala, paham dengan maksud Airin yang selalu minta ditandai. Ia berjalan terlebih dahulu.

Ketiganya sudah sampai di depan loker dengan nama masing-masing. Airin membuka lokernya untuk mengambil buku yang sengaja disimpan untuk mata kuliah yang akan mereka ikuti sebentar lagi.

Sebelum loker terbuka sepenuhnya, sebuah kertas yang dilipat seperti surat terjatuh tepat di bawah kaki Airin. Kening Airin mengerut. Ia merundukkan badan demi mengambil kertas terlipat tersebut.

Airin membolak-balik kertas surat, mencari nama pengirimnya. Nihil. Tidak ada tanda-tanda nama pengirim.

"Surat? Dari siapa?" Airin bermonolog.

Airin bergegas membuka surat yang belum diketahui pengirimnya tersebut. Ia heran mengapa tiba-tiba ada di lokernya.

Tulisan tangan yang tidak terlalu rapi, tetapi bisa jelas terbaca. Isi suratnya singkat.

Jangan terlalu kegirangan!
Tidak ada peringatan hari sial di kalender. Jadi, persiapkan dirimu!

Jangan terlalu mempercayai siapa pun!

Airin hampir saja berteriak, kalau tidak mengingat ia sedang berada di ruang loker. Kedua tangannya sontak menutup mulut, meredam suara yang hampir saja diluaskan. Tanpa sadar, ia meremas kertas itu. Kedua matanya menyorotkan ketakutan yang sangat.

Rindu dan Vania bergegas mendekat saat mendengar suara Airin.

"Lo kenapa, Ai?" tanya Rindu ikutan panik melihat ekspresi ketakutan Airin.

Airin mencoba menyembunyikan kertas yang diremasnya, tetapi sia-sia saja. Vania sudah lebih dulu menyadari keberadaan kertas itu. Kini, kertas berisi peringatan itu sudah berpindah tangan akibat rampasan keras dari Vania.

"Woi! Siapa yang ngirim ini?" tanya Vania dengan suara keras. Beberapa pasang mata menatap bingung. Vania tidak peduli, pun dengan Rindu yang juga sudah menutup mulutnya tidak percaya. Bola matanya melebar, menatap marah surat yang sudah Vania buka.

Pesan Tanpa SuaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang