Di semua kemungkinan dalam hidup, aku tidak pernah memikirkan hal seremeh ini. Kamu yakin aku penyebabnya?
---
Rindu terdiam kaku membaca pesan yang Bagas kirimkan. Pesan itu sengaja Rindu diamkan tanpa berniat membalasnya.
Bagas tidak mau Airin terluka dan kalimat itu dengan mudah dia kirimkan ke Rindu yang notabene adalah kekasihnya? Jika Bagas tidak mau Airin terluka, apa itu artinya dia rela saja Rindu yang terluka? Apa yang sudah Bagas pikirkan?
Mood Rindu langsung rusak. Apa usahanya untuk merebut hati Bagas sebenarnya sia-sia saja dan Airinlah cewek yang Bagas suka?
Rindu tidak bisa mengenali suaranya sedikit pun. Sejauh apa pun dia berpikir, tidak ada hal yang dapat dia terka dengan baik.
Berkali pun Rindu membaca pesan tersebut, nyatanya kata-kata yang tertera tetaplah sama. Bagas tidak berniat untuk meralatnya.
Tidakkah Bagas berpikir bahwa kata-katanya terlalu menyakiti Rindu?
Tanpa sadar, air mata Rindu menetes perlahan. Rindu tidak berniat menyeka atau menahannya. Diresapinya tiap tetes air mata yang mengalir, memberi kesan pilu yang dalam di hatinya.
Sakit sekali, Bagas.
Bunyi notifikasi yang muncul membuatnya tersadar. Rindu sempat membaca pesan tersebut dari layar atas ponselnya.
Airin mengonfirmasi jadwal temu mereka, yaitu di hari weekend ini. Rindu semakin tergugu. Bagaimana dia bisa menghadapi Bagas dan Airin setelah ini?
Rindu memutuskan untuk tidak membuka pesan itu dan mengabaikannya. Biar saja Airin dan Vania yang melanjutkan rencana itu. Rindu tidak memiliki semangat untuk membujuk Bagas. Hatinya terlanjur patah dan dia sudah memikirkan banyak kemungkinan rumit di kepalanya.
Sepuluh menit Rindu habiskan dengan menangis. Sakit sekali rasanya jika ternyata cowok yang dikira sudah dimiliki, ternyata hatinya telah terikat pada cewek lain dan cewek itu adalah sahabat sendiri.
Apa dalam kisah ini sahabat adalah maut benar adanya?
Terdengar bunyi nyaring dari ponsel yang ia abaikan sejak sepuluh menit yang lalu. Nama Airin terpampang jelas di layar. Tentu saja Airin akan heran, Rindu yang biasanya selalu fast respon, kali ini tidak ada jawaban padahal sedang online.
Rindu menatap layar ponselnya. Tidak ada niat sedikit pun untuk mengangkat panggilan itu sampai tidak ada lagi bunyi nyaring dari ponsel yang terletak di atas nakas.
Seolah tidak menyerah, Airin kembali menghubungi Rindu dan Rindu tetap pada pendiriannya untuk mengabaikan panggilan itu sekali lagi. Rindu menolak peduli.
Tanpa sadar, air mata kembali menggenang. Pesan yang Bagas kirimkan, kembali memenuhi pikirannya.
"Bagas, kok, kamu jahat banget, sih?" teriak Rindu frustasi. Beruntung hanya ada Rindu di rumah ini, sedang orang tuanya entah sedang berada di mana.
Boneka yang terletak di atas kasurnya menjadi sasaran kemarahan Rindu. Hadiah dari Bagas di ulang tahun Rindu yang ke-19 tahun.
Rindu teringat perkataan Bagas waktu itu. "Kalau kamu lagi kesal sama aku, kamu boleh lampiasin marahmu ke boneka ini. Namun, sebisa mungkin aku gak bakal buat kamu marah sama aku. Aku bakal berusaha buat selalu bahagiain kamu."
"Bohong! Bagas pembohong!" Rindu marah sekali kepada Bagas. Boneka yang tidak bersalah itu dipukuli tanpa ampun sampai Rindu merasa lelah. Di sisa suara yang masih sanggup ia keluarkan, Rindu berkata, "Ai, aku sayang kamu. Banget. Namun ternyata, rasa sayang aku buat Bagas jauh lebih besar. Aku gak tahu bakal gimana ngadepin kamu sekarang. Aku yakin kamu gak tahu apa-apa soal ini, tapi aku gak bisa tutup mata. Tuhan, aku bingung."
🍀🍀🍀
"Ah, Rindu kemana, sih? Kok, tumben gak ada kabar?" tanya Airin menggerutu.
Sedari tadi dia sibuk sekali menghubungi Rindu, tetapi tidak satu pun panggilan yang Rindu terima. Panggilan itu selalu berakhir dengan pengabaian.
Airin juga meminta Vania untuk menghubungi Rindu, tetapi jawabannya tetap sama. Tidak ada respon dari Rindu. Vania mencoba menenangkan Airin yang panik karena Rindu yang tidak ada kabar sejak tadi.
"Mungkin Rindu ketiduran. Biarin ajalah. Nanti juga dia pasti ngasih jawaban. Kalau gak, kamu hubungi Bagas dulu. Tanya gimana pendapatnya soal triple date ini," saran Vania yang disetujui oleh Airin.
Airin bergegas menghubungi Bagas. Menanyakan apakah Rindu sudah memberitahunya soal rencana triple date. Di luar dugaan, Bagas memberi jawaban yang membuat Airin merasa bersalah luar biasa kepada Rindu.
"Jangan sama dia, Ai. Aku mohon sama kamu. Dengerin kata-kata aku. Ini buat kebaikan kamu dan gak usah, deh, ada rencana triple date kayak gini."
Dari jawaban yang Bagas berikan, pikiran Airin langsung tertuju kepada Rindu. Pasti Rindu merasa salah paham dengan jawaban Bagas. Airin sendiri pun merasa heran dengan ucapan Bagas barusan.
"Maksud kamu apa, Gas?" tanya Airin.
Tidak ada jawaban. Bagas tidak mau bersusah payah membuat Airin mengerti dengan perkataannya, pun dengan Rindu yang pastinya juga tidak Bagas beri pengertian agar tidak salah paham.
"Gawat! Pasti Airin salah paham banget ini. Lagian, apa, sih, maksud Bagas? Emang kenapa kalau aku sama Bang Rafan? Bukannya senang temennya punya pacar, ini malah dilarang. Padahal waktu itu dia yang minta-minta aku buat nyari cowok. Giliran dapat, dia malah gak suka. Aneh banget," cerocos Airin yang tentu tidak sampai kepada Bagas maupun Rindu.
Tersebab sudah mengetahui alasan Rindu yang selalu menolak panggilannya, Airin tidak berani lagi untuk menghubungi Rindu. Biarlah nanti dia yang menjelaskan sendiri, walau dia pun tidak tahu, bagian mana yang harus dia jelaskan. Dia sendiri tidak paham sedikit pun maksud perkataan Bagas.
"Kenapa jadi rumit begini, sih? Aku gak tahu apa-apa, ya, Allah." Airin menarik rambut frustrasi. Bagas benar-benar tidak mau memberikan sedikit saja pengertian. Dia tidak membalas pesan yang Airin berikan.
"Ini gak mungkin Bagas suka sama aku, kan?" tanya Airin bermonolog. Dia tertawa dengan pemikirannya sendiri.
"Gak mungkin. Konyol banget. Jelas-jelas Bagas bucin banget sama Rindu. Ih, jangan, dong. Gak mau jadi pelakor. Lagian aku udah punya pacar."
Tidak pernah Airin bayangkan kejadian seperti ini mampir di kehidupan asmaranya. Sedikit pun dia tidak berniat untuk menyangkut pautkan hidupnya dengan sahabat dan kekasihnya. Ini di luar ekspektasinya sekali.
"Ah, capek banget. Mana surat misterius sama pesan anonim yang dikirim ke aku belum ketahuan siapa pelakunya. Ini malah nambah masalah baru. Hidup, kok, rumit banget, ya? Perasaan aku belum terlalu dewasa, deh."
Terlalu lelah memikirkan banyak hal di kepalanya, Airin memutuskan untuk membuka buku. Dia butuh melakukan journaling untuk menyegarkan pikirannya. Mungkin saja setelah menulis, dia bisa mendapatkan ketenangan.
Sampai kemudian Airin mendengar ponselnya berbunyi, tanda pesan masuk. Airin langsung memeriksa.
Rindu
Maaf. Gue gak bisa ikut acara triple date lo itu.
Airin tersenyum miris. Triple date lo itu? Haruskah sekejam itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Pesan Tanpa Suara
RomanceDi tengah kesibukan sebagai mahasiswa semester lima, Airin dikejutkan dengan surat-surat misterius yang sering muncul di loker pribadinya. Belum lagi pesan-pesan anonim yang terus mengganggu hari-harinya yang sedang berada di titik lelah. Beruntung...
