Meminta Penjelasan

2 0 0
                                        

Jangan salahin hidupnya. Mungkin kita aja yang salah dalam ngejalanin hidup itu sendiri. Makanya ada aja cobaan yang harus dicoba.

---

Fakta bahwa Rafanlah pemilik akun yang menerornya di Instagram jelas saja mengusik malamnya yang seharusnya tenang. Biasanya, sebelum mengakhiri hari, Airin masih sempat untuk mengisi jurnalnya. Namun, hari itu tidak. Hatinya jauh dari kata tenang. Sepertinya ia memang harus mendatangi Bagas dan meminta penjelasan terkait hal ini. Dilihat dari getolnya Bagas melarangnya memercayai Rafan, Bagas pasti tahu banyak hal mengenai kekasihnya itu.

Untuk malam itu, Airin terpaksa membuka Tiktok dan mencari konten ASMR untuk membantunya terlelap. Konten tersebut terbukti ampuh untuk bisa membuat mata mengantuk dan lantas terpejam. Seolah ada mantra dalam setiap gesekan benda atau desisan dari suara yang disengaja berbisik.

Keesokan paginya, Airin meminta Rindu dan Vania menemaninya menemui Bagas. Ia tidak mau Rindu salah paham kembali. Bersyukur Rindu dan Vania langsung menyetujui.

Rindu menghubungi Bagas dan meminta untuk datang ke taman kampus. Kebetulan hari itu Bagas tidak ada jadwal mata kuliah, sedangkan ketiga gadis yang sudah setia menunggu kehadirannya di taman itu memutuskan untuk hadir satu jam lebih cepat dari jadwal mata kuliah mereka.

"Aku mau kamu jujur sejujur-jujurnya sama aku. Aku gak mau dengar sedikit pun kebohongan. Entah kenapa aku ngerasa kalau hubungan kamu sama Bang Rafan nggak mungkin sebatas kakak kelas, pasti lebih dari itu. Bener, kan?" Airin langsung memberondong Bagas yang baru saja sampai.

"Eits, slow, dong, Ges. Gue baru banget sampe, loh. Belum sempet napas dengan baik dan benar. Belum juga duduk." Mendengar gerutuan Bagas, Rindu dan Vania terkekeh. Lucu sekali melihat interaksi kedua orang tersebut.

"Oke, aku tungguin."

Vania dan Rindu yang notabenenya sudah tahu perihal hubungan antara Bagas dan Rafan memilih bungkam. Mereka merasa tidak memiliki hak untuk bersuara. Biar saja Bagas yang menjelaskan dan mereka akan membantu jika diperlukan.

"Singkat saja." Tiba-tiba Bagas bersuara setelah hening selama beberapa detik. Ketiga gadis tersebut menatap aneh ke arah Bagas.

"Bro kira beliau Kak Gem," ucap Vania setelah berhasil menemukan jokes yang tepat untuk merespon perkataan tiba-tiba Bagas.

Bagas tertawa. Tidak menyangka akan ada yang mengerti jokes yang ia dapat dari aplikasi yang sering sekali melenakan banyak orang itu. "Becanda-becanda. Hem, bentar. Gue bingung mau mulai ngejelasinnya dari mana."

"Hubungan kamu sama Bang Rafan sebenarnya gimana? Sedekat apa?"

"Kita pernah sedekat nadi."

"Serius, Monyet!" teriak Airin tiba-tiba yang sukses membuat ketiga orang di sana terkejut. Tidak menyangka Airin yang bahkan memakai kata ganti "gue" sebagai penyebutan dirinya saja tidak pernah, tetapi mendadak emosi sampai mengeluarkan umpatan yang tidak manusiawi begitu.

"Buset, kodamnya keluar. Oke, gue serius. Ini beneran intinya." Bagas berdehem. "Kita emang pernah sedekat nadi. Karena kita saudara tiri."

Akhirnya fakta itu terucap. Bukannya takut karena ketahuan, Bagas malah merasa lega, seolah beban berat yang selama ini ditanggungnya, terangkat begitu saja. Berbeda dengan Airin yang terasa sekali keterkejutan dari sorot matanya. Langkahnya mundur dengan tangan menutup mulut sepenuhnya. Matanya membelalak tidak percaya.

"By the way, Ai. Kamu, kok, tiba-tiba curiga gini. Ada apa?" tanya Vania perlahan mendekati Airin. Dia mengelus bahu Airin menenangkan.

"Aku kemarin ngecek Instagram Bang Rafan dan lihat di ponselnya tersimpan akun yang beberapa kali neror aku," jawab Airin setelah berhasil sadar dari keterkejutannya.

"Lo diteror?" tanya ketiganya serempak. Perihal teror di Instagram, Airin memang tidak menceritakannya kepada siapa pun. Airin mengangguk membenarkan.

"Sial. Bener, dia, tuh," ucap Bagas yakin. "Isinya apa?"

Airin lalu memperlihatkan bukti pesan yang dikirim oleh akun Anonim yang kini sudah dia ketahui pemiliknya. Bagas menatap tajam pesan tersebut. Kedua sisi dalam dirinya seolah sedang saling menentang. Perihal dirinya yang patut mengedepankan empati pada temannya atau malah menomorsatukan orang yang dulu begitu dekat dengannya.

"Kamu ada tahu soal ini?" tanya Airin hati-hati.

Bagas dilema. Ia tentu tahu bahwa itu adalah suruhan dari Ibu Rafan karena masa depan mereka. "Menurut gue, untuk hal ini lo harus tanya langsung kepada yang bersangkutan agar lebih jelas dan tidak ada kesalahan."

"Tapi aku nggak mau berantam sama Bang Rafan. Lagian sampai sekarang, aku masih belum percaya kalau dia yang udah neror aku pakai akun anonim."

"Ye, si tolol ini bener-bener. Bukti udah di depan mata. Ketololan dari banyak orang jangan diserap semua. Jadi gini, deh. Gak ketolong bucinnya." Vania meremas tangannya merasa gemas dengan temannya itu.

"Kalian nggak bakal ngerti. Jatuh cintaku kali ini beda. Dia nggak nyuruh aku buat berlaku dewasa, tapi dia nurutin semua inginku. Dia mau kuajak alphabet dating. Mau kuajak bucin bareng. Ini kali pertama buatku. Aku sebahagia ini bareng dia."

"Tapi itu semua palsu Airin. Dia memberikan kebahagiaan yang semu buat kamu. Emang kamu mau menikmati semua ini, meski tahu ending-nya akan bagaimana? Pada akhirnya dia bakal tetap ninggalin kamu. Karena dari awal dia ngajak kamu pacaran, ya, karena mau balas dendam," ucap Rindu bijak. Kali ini ia butuh ikut campur, bukan sekedar diam mendengarkan dan membuat temannya semakin tergelincir dalam lubang kebucinan yang fana.

Airin tertawa sumbang. "Hah, balas dendam? Aku bahkan baru saja kenalan sama dia. Aku nggak kenal sama dia di masa lalu. Bagaimana mungkin aku meninggalkan dendam?" tanya Airin tidak mengerti. Kata balas dendam terasa jahat menurutnya. Seolah dia penjahat yang pantas untuk dibalas, sedang dia sendiri tidak mengetahui kesalahan apa yang sudah dia perbuat di masa lalu.

"Ah, kamu inget waktu itu aku ngomong kalau aku lihat Rafan bareng sama cewek?" tanya Vania tiba-tiba.

"Iya, itu waktu dia pamit tiba-tiba. Katanya temennya butuh bantuan."

"Menurutku, itu pacarnya, deh. Dekat banget. Kayak bukan temen biasa," jelas Vania.

"Bisa jadi, sih." Bagas mengangguk.

"Ih, jahat banget. Padahal aku baru aja ngerasain butterfly era. Hidup, kok, gini banget, ya?"

"Jangan salahin hidupnya. Mungkin kita aja yang salah dalam ngejalanin hidup itu sendiri. Makanya ada aja cobaan yang harus dicoba," ucap Vania sambil memangku tangan. Bagaimanapun mereka harus membuat Airin dan Rafan berpisah. Jangan sampai Rafan semakin menyakiti Airin.

"Eh, kalian udah tahu soal ini, ya?" sentak Airin. Dia luput dengan fakta ini.

"Iya. Bagas udah jelasin ke aku. Makanya kemaren aku deketin kamu lagi," jawab Rindu jujur.

"Ah, pantes ada yang janggal. Kupikir kalian bertengkar, tapi ternyata kamu tiba-tiba nempel ke aku. Syukurlah kita baikan. Aku kesepian banget kemarin."

Vania dan Rindu bergerak memeluk Airin. Ketiganya saling berbagi kehangatan dalam pelukan yang saling diberikan. Untuk sesaat, Airin dapat melupakan keresahannya perihal hubungannya dengan Rafan. Ia belum bisa menentukan langkah selanjutnya.

"Hem, Rin. Sebenarnya dendamnya bukan soal kamu. Tapi orang tua kamu."

Pesan Tanpa SuaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang