Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Art Gallery Dating

19 12 24
                                        

Ketika disatukan, kita menjadi indah. Ayo, terus seperti ini!
---

Di sinilah mereka berada, di sebuah galeri seni seperti yang dijanjikan kemarin. Akhirnya Airin berhasil mengalahkan egonya dan mencoba memaafkan Rafan. Mungkin saja memang pekerjaan Rafan sedang urgent.

"Bang, ayo, foto di sini." Airin menarik tangan Rafan dan memaksanya untuk berpose di depan sebuah lukisan abstrak yang sulit untuk mereka pahami maknanya secara gamblang. Sepertinya si pelukis ingin semua orang bisa memaknai karyanya secara bebas. Meski pada akhirnya makna sebenarnya adalah milik si pelukis.

Dengan terpaksa Rafan memamerkan senyum Pepsodent-nya di depan kamera Fujifilm Instax Mini milik Airin yang dibelinya dari hasil menabung selama satu tahun. Mereka berdua menunggu hasil foto dalam bentuk polaroid.

"Ah, bagusnya," seru Airin memandangi polaroid yang sudah menampilkan foto yang diambil barusan. Tanpa sadar, Rafan juga ikut tersenyum. Perlahan hatinya menghangat melihat senyum manis Airin yang ditampilkan tepat di hadapannya. Namun, tidak berapa lama, ia langsung menepis senyum yang ditampilkan. Seolah senyum itu adalah suatu ekspresi yang sangat salah.

Setelah puas mengambil foto berdua, Airin meminta Rafan untuk memotretnya sendiri. Sedikit malu, tetapi Airin enyahkan demi foto yang bagus.

"Sekarang giliran Abang," titah Airin tanpa ingin dibantah.

"Kamu aja." Tentu saja Rafan akan menolak. Dia benci harus berpose sendiri. Berdua saja dia tidak terlalu menyukainya.

"Ayolah. Biar fotonya bisa kita pajang di sana." Airin menunjuk sebuah dinding yang khusus diperuntukkan untuk para pengunjung yang telah mengabadikan momen di galeri tersebut. Sudah terpajang banyak sekali foto, baik sendiri, berpasangan bahkan dengan keluarga besar.

"Pajang yang berdua tadi aja."

"Tapi aku mau ada foto yang sendiri juga," tegas Airin.

Airin terus memaksa Rafan membuka wajah, tersebab Rafan yang selalu menolak berpose. Kamera sudah siap Airin posisikan di depan satu mata, membidik Rafan yang masih menutup wajah. Sampai kemudian, Rafan membuka wajah dan membuat pose dua jari dengan senyum yang manis sekali. Kembali, Airin jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Beruntung momen itu ditangkap sempurna oleh kamera Airin.

Polaroid keluar dengan sedikit tersendat-sendat. Airin tidak sabar untuk melihatnya. Pasti indah sekali. Rafan dan kamera seharusnya cocok sekali disatukan. Namun, entah kenapa, Rafan tidak terlalu menyukai kamera.

"Ah, gantengnya!" teriak Airin sebelum banyak pasang mata memandangnya dengan sinis. Terganggu dengan kebisingan yang sengaja diciptakan Airin.

"Ayo, ke sana. Mau nempel ini, kan?" tunjuk Rafan ke arah foto polaroid yang sudah berada di genggamannya.

"Iya. Foto Abang yang ini, aku yang nyimpan," putus Airin menyimpan foto Rafan yang tadi dia potret.

"Atur, Dek."

---

---

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pesan Tanpa SuaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang