Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Ingatan Masa Lalu

1 0 0
                                        

Masa lalu banyak mengajarkan perihal luka. Masa kini mengajarkan tentang keikhlasan. Masa depan memberi banyak makna mengenai harapan.

---

Suara bel terdengar nyaring di rumah mewah nan elit milik keluarga Syahreza. Rumah yang hanya dihuni oleh Syahreza Adipati bersama dengan para asistennya. Tidak ada istri ataupun putranya yang seharusnya ada di sana. Dia berharap salah satu dari merekalah yang menekan bel dan menunggunya keluar.

Benar saja. Senyumnya langsung merekah saat tahu bahwa harapan yang baru saja terlintas di pikiran, akhirnya terkabul. Bukan hanya satu, tetapi dua putranya. Tanpa menunggu lama, ia langsung memeluk keduanya dan menangis haru. Tak ayal, keduanya ikut meneteskan air mata. Meski pernah menyakiti hati begitu dalam di masa lalu, sosok pria di hadapan mereka ini tetaplah orang tua yang harus disayangi dan dihormati. Papanya adalah manusia biasa yang takkan luput dari dosa dan kesalahan.

Pikiran Rafan langsung mengarah kepada ketidakberaniannya untuk menemui papanya di masa lalu. Beberapa kali ia pernah singgah di depan gerbang rumah hanya untuk menatap gerbang  yang selalu tertutup rapat. Hanya ada satpam yang menjaga. Satpam itu tidak mengenalinya, tentu saja. Tadi, saat mereka ingin masuk, satpam langsung menginterogasi keduanya. Wajah keduanya asing dan tidak pernah ia lihat singgah di sana. Wajar saja, satpam itu masih baru beberapa bulan bekerja.

"Ini kalian berdua, Nak?" tanya Syahreza dengan air mata yang semakin meluruh.

Saking bahagianya, tanpa sadar Syahreza sudah jatuh terduduk di kaki kedua putranya. Keduanya terkejut dan tanpa pikir panjang langsung meminta papanya untuk berdiri. Mereka membawanya ke dalam rumah lalu mendudukkannya di sofa merah maroon di ruang keluarga.

"Papa tidak sedang bermimpi, kan?" Syahreza masih belum memercayai sosok di hadapannya.

"Enggak, Pa. Ini memang kami." Bagas yang menjawab. Rafan masih membeku. Belum berani membuka suara. Amarah dan rasa rindu masih bercokol di dadanya. 

"Maafin Papa, Nak. Papa yang salah. Papa jahat. Papa khilaf." Syahreza semakin luruh dalam tangis yang memilukan. Seluruh asisten yang ikut menyaksikan pertemuan ayah dan kedua putranya itu, tanpa sadar ikut meneteskan air mata. 

Matanya mulai menerawang di beberapa tahun silam. Di mana penyesalan itu bermula. Masa lalu yang begitu ingin dia hapus dari skenario hidupnya. Masa lalu yang memberi dampak besar pada kehidupan masa depannya. 

Saat itu, tanpa ingin dibantah, ayah Syahreza menetapkan titah bahwa ia harus menikahi anak koleganya yang katanya sudah mereka jodohkan sejak kecil, yaitu Sarah, ibu dari Rafan yang saat itu juga memiliki kekasih. Segala cara sudah Syahreza lakukan agar pernikahan itu tidak akan pernah terjadi. Namun, sekuat apa pun ia menolak, kuasa ayahnya tetap yang terkuat. Pernikahan itu terjadi. 

Alasannya jelas. Syahreza juga sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai. Satu-satunya yang ia beri janji untuk segera dia nikahi. Namun, semesta selalu memiliki banyak cara untuk menampilkan kejutan satu demi satu. Akhirnya, demi mengagungkan rasa cintanya, dia masih melanjutkan hubungan dengan sang kekasih saat akad sudah dia tunaikan. 

Tidak seperti kehidupan pernikahan tanpa cinta, keduanya berlaku seperti pasangan paling berbahagia. Syahreza memperlakukan Sarah dengan sangat baik. Sarah merasa dicintai. Sedikit demi sedikit ia mulai melupakan sang kekasih. 

Perlahan, cinta mulai tumbuh seiring dengan kebersamaan keduanya yang semakin intens. Namun, bukan cinta kedua belah pihak. Hanya Sarah yang merasakannya, sedang Syahreza masih penuh dengan kepura-puraan. 

Di saat Sarah percaya bahwa Syahreza sedang lembur, di saat yang sama ia sedang bersama dengan kekasihnya di sebuah apartemen yang sengaja ia beli untuk ditinggali oleh Ratna, sang kekasih. Sampai kemudian Sarah hamil dan rasa perhatian Syahreza semakin menjadi-jadi. Ia terlihat begitu menyayangi Sarah. 

Tujuannya adalah harta. 

Janji sang ayah jelas dalam titahnya, "Jika kamu bersedia menikahi Sarah dan berhasil memberi keturunan, kamu berhak atas perusahaan dan harta."

Demi menuruti hasratnya untuk memiliki harta dan tahta, ia berusaha untuk memperlakukan Sarah dengan baik sampai kemudian Sarah hamil. Syahreza tidak pernah lembuh semenjak istrinya mengandung. Ia sering berada di rumah. Namun, beberapa kali ia pergi ke luar negeri dengan alasan pekerjaan. Tanpa Sarah ketahui, Ratna ikut serta di dalamnya.

Saat anaknya sudah berusia lima tahun, tanpa sebab yang jelas, Syahreza memecat seorang asisten rumah tangga dan membawa perempuan yang sudah memiliki seorang anak sebagai pengganti. Dengan dalih kasihan, ia meminta agar Sarah mengizinkan perempuan itu untuk tinggal di sana menggantikan asisten rumah tangga yang ia pecat. 

Lagi-lagi, Syahreza selalu punya cara untuk berkelit. Ia memohon kepada Sarah agar tempat tinggal Ratna bukan di tempat khusus asisten seperti biasa, tetapi di rumah utama dengan alasan putranya yang masih kecil. Tanpa sedikit pun merasa curiga, Sarah menyetujui.

Hari demi hari berlalu, kedekatan antara kedua anak laki-laki itu semakin erat. Mereka layaknya dua saudara kandung. Rafan sering mengajari Bagas tentang banyak hal. Ia juga kerap meminjami Bagas banyak permainan miliknya. 

Rafan merasa bahagia dengan keberadaan Bagas. Ia tidak merasa kesepian lagi. Ratna juga rajin dan suka berbagi cerita dengan Sarah. Sarah menyukai Ratna yang cantik dan baik. Ia menganggap Ratna seperti adiknya sendiri. Hingga tiba-tiba Sarah bertanya saat mereka berkumpul di belakang rumah pada malam hari.

"Bagas tampan sekali. Pasti mirip ayahnya. Ayahnya di mana, Dek?" ucap Sarah yang membuat kedua orang di sana terdiam kaku selama sepersekian detik. Ratna menatap Syahreza dari ekor matanya. 

"Ah, iya, Kak. Ayahnya memang tampan sekali. Sangat tampan. Sayang sekali dia sudah tidak berada di sini lagi," jawab Ratna menatap Syahreza yang sudah memberikan tatapan tajam kepadanya.

Seolah mengerti, Sarah merasa sungkan dan merasa bersalah atas pertanyaannya. "Maaf banget. Aku nggak tahu. Pasti sulit sekali rasanya membesarkan anak seorang diri. Beruntung Mas Reza selalu bersedia membantuku untuk mendidik Rafan. Dia sayang sekali kepada putranya itu, sampai kadang aku diabaikan begitu saja." Sarah menampilkan ekspresi sedih yang dibuat-buat. Ia menggenggam tangan Syahreza yang sudah mendingin. 

"Tangan kamu dingin banget, Mas. Ayo, kita masuk aja." 

 Sarah berjalan masuk ke dalam rumah membawa Rafan dan Bagas. Meninggalkan Syahreza dan Ratna di sana. Syahreza langsung menarik tangan Ratna dan mendorongnya ke samping rumah. 

"Apa maksud ucapan kamu tadi? Aku ayahnya. Masih di sini." Syahreza merasa marah atas jawaban yang Ratna berikan.

"Apa, sih, Mas. Emang kamu mau aku jujur kalau ayah tampan Bagas itu kamu?" tantang Ratna dengan ekspresi menggoda. Tangannya meraup dagu Syahreza, membuatnya semakin jengkel. 

"Kamu ini semakin nakal saja," ucap Syahreza yang sudah tertawa menatap wajah kekasihnya. Wajahnya mendekat. Tanpa sadar, langkah kaki juga turut mendekat.

"Mas? Kamu ngapain sama Ratna?" Teriakan Sarah terdengar di seluruh penjuru belakang rumah. Ia terkejut luar biasa menatap suaminya dengan asisten yang sudah ia anggap adik itu.

Sarah tidak sanggup menahan keterkejutannya. Ia tergeletak ke atas tanah. Rafan langsung menangis melihat mamanya yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri. Syahreza mengangkat Sarah dan membawanya ke rumah sakit.

Saat sadar, ia mulai memahami banyak hal. Mulai dari Syahreza yang mengatakan sudah memiliki kekasih dan menentang keras pernikahan mereka, tetapi tiba-tiba menyetujui. Tentang Syahreza yang sering sekali lembur. Tentang asisten rumah tangga yang tiba-tiba dipecat dan membawa Ratna sebagai pengganti.

Ia mulai membayangkan wajah Bagas. Mulai menyadari bahwa anak itu mirip sekali dengan suaminya. Mengapa selama ini ia tidak menyadari hal tersebut?

"Jujur sama aku. Bagas anak kamu, kan?" tanya Sarah saat ia sudah sampai di rumah. "Jangan bohong! Aku udah tahu kalau Bagas itu memang anak kamu dan perempuan ini." Sarah menunjuk Ratna yang saat itu sudah menunduk ketakutan.

"Benar. Dia memang anakku," ucap Syahreza pada akhirnya. 

Sejak saat itu, Sarah memilih meninggalkan rumah dan tidak pernah ia temui lagi.

"Pa."

Pesan Tanpa SuaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang