Amarah akan selalu berhasil membutakan mata dan hati.
---
Malam itu, Bagas meminta izin keluar dari apartemen kepada papanya untuk mencari angin segar. Kakinya terus melangkah mengikuti kata hatinya. Tanpa arah dan tanpa tujuan yang jelas. Linglung dan bingung. Pikirannya sedang mencoba mencerna banyak hal, termasuk permintaan sang papa yang sangat sulit untuk ia amini.
Bukannya menolak, hanya saja ia merasa bahwa kehadirannya nanti hanya akan menambah kerumitan yang sudah cukup memusingkan. Kisah mereka sudah terlalu banyak drama yang kian berliku. Bagai benang kusut yang sulit untuk diperbaiki kembali.
Masa lalu mereka tidak sesimpel Papa, Ibu, dan dirinya saja. Ada sosok lain yang memiliki hubungan erat dengan papanya, orang yang sedang beristirahat di apartemennya. Keluarga yang dia pikir bahagia, nyatanya merupakan opsi kedua dengan tingkat kepura-puraan maksimal. Dia hadir dari ketidaksengajaan yang hingga kini menjadi kebencian di beberapa pihak. Dia adalah kesalahan, begitu mama tirinya mencapnya.
Tersebab tidak fokus, Bagas tidak sadar telah berada dekat dengan jalan raya. Sebuah motor melaju kencang dan hampir menabraknya. Pengendara motor tersebut berhenti dan membuka helmnya, berniat memaki karena kecerobohan si pejalan kaki. Bagaimana jika tadi ia tertabrak, semuanya akan semakin berbelit.
“Hey, kalau jalan harus fokus. Kalau tadi kamu tertabrak, gimana?”
Bagas yang merasa bersalah itu mencoba meminta maaf. Ia mendongakkan wajah menghadap si pengendara motor yang sedang memakinya.
Waktu seakan berhenti saat kedua pandangan itu beradu. Udara di sekeliling seperti tersedot habis, tidak ada sisa. Tidak ada suara sedikit pun selama sepersekian detik mereka beradu pandang. Sampai sebuah desisan terdengar kasar.
"Sial."
Wajah yang Bagas lihat itu sukses menghentikan sejenak detak jantungnya. Ekspresi yang sama ditunjukkan oleh si pengendara. Mereka sama terkejutnya. Tidak menyangka akan kembali dipertemukan dalam suasana yang tidak menyenangkan, seperti beberapa tahun yang lalu saat mereka dipaksa untuk berpisah. Suasana yang sama dengan latar yang berbeda.
“Oh, masih ada muka lo buat kembali ke sini, setelah ibu lo menghancurkan segala apa yang gue punya?”
Sapaan pertama yang keluar dari bibir si pengendara, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Rafandra Aska Syahreza. Cowok yang sedari tadi mengusik pikirannya secara sadar.
“Apa maksud lo? Jangan pernah bawa-bawa ibu gue. Dia enggak salah apa-apa.” Biar seluruh dunia membenci Bagas, tetapi tidak boleh ada sesiapa pun yang menghujat ibunya. Dia mencintai ibunya lebih dari siapa pun di dunia.
“Gak salah apa-apa? Ibu lo itu pelakor. Gue ulangi PELAKOR. Sejak kapan pelakor itu dinyatakan tidak bersalah?” tanya Rafan dengan suara menggebu. Matanya semakin menajam menatap sosok di hadapannya.
“Tamu tidak akan masuk kalau tidak dibukakan pintu.” Bagas tetap kekeuh membela ibunya. Meski ia tahu, dari sisi mana pun, ibunya tetap salah. Ia hanya mencoba untuk sedikit berbakti.
“Setidaknya tamu itu harusnya tahu diri.” Rafan masih sama sarkasnya. Bahkan saat ini, ia sudah mengepalkan tangan emosi. Urat-urat tangan dari kepalan tangannya terlihat jelas. Hanya butuh sedikit gerakan, kepalan tangan itu akan berubah menjadi tinjuan yang akan menghantam sosok di depannya.
“Lo enggak bisa terus-terusan nyalahin ibu gue. Karena dia enggak sepenuhnya salah. Lagian kami sudah pergi dari hidup kalian. Apa itu kurang?” Suara Bagas semakin mengecil. Kepalanya tidak sanggup lagi dia angkat. Berat sekali untuk memandang dunia yang serba menyakitinya.
“Jelas kurang. Hidup gue hancur gara-gara hadirnya ibu lo," jawab Rafan dengan suara menggelegar. Telunjuknya tepat berhadapan dengan kepala Bagas yang menunduk. Jika sedikit saja Bagas mengangkat kepalanya, pasti telunjuk Rafan sudah mengenai wajahnya.
“Oke, gue minta maaf," ucap Bagas pasrah pada akhirnya. Dia tidak memiliki tenaga untuk menjawab Rafan, apalagi meladeni amarahnya.
“Lo pikir maaf bisa merubah segalanya? Enggak," bentak Rafan dengan wajah memerah. Tidak peduli dengan banyaknya kendaraan yang sengaja berhenti untuk menikmati pemandangan di pinggir jalan, juga dengan suara bisikan dari seluruh pengendara yang menatap ingin tahu.
“Jadi, gue harus gimana?” Akhirnya, Bagas mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap sosok di hadapannya. Dada Rafan kembang kempis dengan deru napas yang berembus cepat. Amarah benar-benar menggerogotinya.
“Gue harus ngebuat lo lebih hancur lagi. Lebih dari apa yang gue rasakan.” Ancaman penuh minat dari seorang Rafan hanya ditanggapi santai oleh Bagas. Dia tidak tahu harus merespons bagaimana. Dia terlalu lelah untuk menghadapi segala drama kehidupan yang menderanya kini.
“Just do it.” Bagas pasrah dengan seluruh niat Rafan yang ingin menghancurkannya.
“Oke, persiapkan diri lo. Gue bakal ngelakuin hal yang gak akan pernah lo bayangkan.”
Bahkan gue udah lebih dari hancur untuk berada di sini, Bang.
🌸🌸🌸
Rafan memarkirkan motornya di samping rumah. Amarah yang tadi dirasakannya, tidak boleh sampai diketahui oleh mamanya. Cukup bahagia yang dia bagi, tidak untuk seluruh kecewa, amarah juga air mata. Dia masih sanggup untuk menyimpannya seorang diri.
"Anak Mama udah pulang. Gimana nge-date-nya, lancar?" Suara mamanya menyambut. Tentu saja dia paham maksud dari lancar yang mamanya tanyakan.
"Aman terkendali, Ma," jawab Rafan setelah mencium tangan mamanya.
"Bagus. Kamu harus buat dia kecintaan sama kamu, terus kamu tinggalin, deh. Itu cara paling ampuh untuk membuat seseorang patah hati," ucap mamanya dengan senyum cerah.
Rafan hanya menanggapi dengan senyum tipis. Mamanya pernah mengalami masa lalu yang pahit sekali. Itulah mengapa Rafan sebisa mungkin selalu menuruti apa pun yang mamanya perintahkan. Apa saja. Cukup dulu dia menjadi saksi betapa terpuruk wanita yang melahirkannya itu. Telinganya sudah cukup mendengar tangisan setiap malam dari kamar mamanya.
"Rafan akan mengusahakan apa pun tentang Mama." Itu janji yang selalu Rafan pegang hingga kini, termasuk tentang gadis yang kini pasti sudah mengiriminya pesan. Menanyakan apakah dia sudah sampai rumah.
Dia hanya menjawab singkat, meski dia yakin, gadis itu tidak akan cukup dengan jawaban singkat seperti itu.
Airin
Maafin teman-temanku tadi ya bang.
Kayaknya abang rada kurang nyaman.
Lagian prank mereka gak lucu sama sekali. Annoying banget.
Meski berisik, di satu waktu, gadis itu berhasil membuatnya tersenyum tanpa sadar. Hatinya seolah merasakan ketulusan dari gadis yang ingin disakitinya itu. Namun, sebisa mungkin dia akan langsung menghalau perasaan itu. Di atas apa pun, bahagia mamanya adalah hal mutlak.
Rafan
Gak papa kok dek.
Aman.
Wajar aja mereka begitu. Namanya juga sahabat. Pasti mereka mau yang terbaik untuk sahabatnya.
Airin
Syukur deh
Oh, iya. Kapan-kapan aku kenalin abang sama Bagas ya. Dia pacar Rindu.
Tangan Rafan yang menggenggam ponsel, mendadak kaku setelah membaca pesan yang Airin kirimkan. Pikirannya kemudian beralih kepada kejadian di jalan tadi.
Gue kenal dia lebih dari lo semua kenal manusia itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pesan Tanpa Suara
RomanceDi tengah kesibukan sebagai mahasiswa semester lima, Airin dikejutkan dengan surat-surat misterius yang sering muncul di loker pribadinya. Belum lagi pesan-pesan anonim yang terus mengganggu hari-harinya yang sedang berada di titik lelah. Beruntung...
