Tempat ternyaman untuk bercerita. Pemilik suara bijak dan menenangkan. Tolong, hidup lebih lama dan terus dampingi tiap langkahku.
---
Airin mendekat kepada Mama Ema yang sedang berbaring di kamar, seperti seekor kucing yang meminta kehangatan pada induknya. Mama Ema seolah paham dengan tindakan putrinya yang pasti sedang ingin bercerita kepadanya.
"Kali ini, kenapa lagi?" tanya Mama Ema menatap malas kepada Airin, meski tangannya tetap mengelus lembut puncak kepala putri sulungnya.
"Aku gak boleh deketin Mama kayak gini?" Bukannya menjawab, Airin malah melontarkan pertanyaan basa-basi yang membuat Mama Ema memutar bola mata bosan.
"Langsung aja, mau cerita apa?" Seolah tidak membiarkan Airin kembali berbasa-basi, Mama Ema meminta Airin langsung menceritakan maksud dan tujuannya memasang ekspresi lesu seperti itu.
"Kalau dikasih pilihan, Mama bakal pilih pacar atau sahabat?" tanya Airin tanpa memperpanjang basa-basi lagi. Sia-sia saja, Mama Ema selalu paham tentang dirinya.
"Kenapa? Ada masalah sama pacar barumu dan kedua sahabatmu?" Tembakan yang tidak terlalu tepat sasaran, tetapi sukses membuat Airin mengembuskan napas kasar.
"Ma, gak boleh banget, loh, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Pertanyaan itu haruslah berpasangan dengan jawaban."
"Lagian gak to the point banget," gerutu Mama Ema.
"Jadi, gimana, Ma?" tanya Airin tidak sabaran. Dia selalu butuh sudut pandang Mama Ema dalam mengatasi tiap permasalahan kehidupan menuju dewasanya.
"Ya, tergantung mana yang harus dipilih dan diperjuangkan," jawab Mama Ema singkat, yang membuat Airin mengerutkan kening. Tidak puas dengan jawaban yang diberikan.
"Ayo, dong, Ma lebih panjang penjelasannya," pinta Airin dengan sorot mata memelas. Melihat ekspresi sedih putrinya, Mama Ema bergegas bangkit dari posisi tidurnya. Sandaran kasur menjadi tempat untuk menopang punggung lelahnya.
"Gini, Ai. Dalam hidup, selalu ada banyak sudut pandang. Tidak bisa hanya menuruti satu sisi saja. Nah, dalam urusan memilih, maka pertimbangkanlah pada seluruh sudut pandang, agar hasilnya adalah yang terbaik. Setiap pilihan, pasti memiliki konsekuensi. Untuk itu, pilihlah yang paling minim konsekuensi buruknya."
Airin fokus mendengarkan nasihat Mama Ema. Sesi deep talk seperti ini selalu menjadi sesuatu yang Airin sukai dan syukuri.
"Nah, apalagi ini menyangkut dua jenis manusia. Sahabat dan pasangan. Wah, ini rumit sekali permasalahannya. Keduanya memiliki tempat masing-masing di hati. Bukan begitu?"
Airin mengangguk membenarkan. Tentu saja. Meski ini tentang Rindu dan Bagas, tetap saja dia butuh meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Apalagi Bagas sempat menyinggung soal kekasihnya, Rafan.
"Sebenarnya, semua hal dalam hidup ini sifatnya relatif, kecuali kebenaran mutlak yang sudah ditetapkan Tuhan. Untuk segala sifat di luar ketetapan, seluruhnya relatif. Sifat baik dalam diri manusia, itu relatif adanya dalam pandangan manusia lain. Tidak semua sifat baik seseorang, bisa diterima oleh seluruh pihak. Kita berkoar-koar pun, yang tidak suka tetap tidak suka. Benar dan baik itu berbeda. Kalau benar, sudah tentu baik, sedangkan baik, belum tentu benar."
Tangan Airin bergerak memijat kaki Mama Ema tanpa sadar. Matanya tetap fokus ke wajah Mama Ema yang sedang berbicara.
"Artinya apa? Jika disuruh memilih seperti itu, jujur saja Mama gak bakal bisa, sebelum mencari tahu yang sebenarnya, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Manusia ini banyak sekali kekurangannya, salah satunya pengetahuan yang terbatas. Jika terus mengagung-agungkan pengetahuan yang terbatas tanpa mau meng-upgrade-nya, boleh jadi akan banyak andai-andai di masa depan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pesan Tanpa Suara
RomanceDi tengah kesibukan sebagai mahasiswa semester lima, Airin dikejutkan dengan surat-surat misterius yang sering muncul di loker pribadinya. Belum lagi pesan-pesan anonim yang terus mengganggu hari-harinya yang sedang berada di titik lelah. Beruntung...
