(12 November 2023: 23.00)
"Will, kamu ada itu gak?"
"Itu apa?"
"Pengaman..."
"Huh? Aman kok aman. Gak ada yang lihat."
"Bukan itu maksud aku ihhh. Kamu ada...kondom gak?"
Pertanyaan malu-malu dari Haya tersebut adalah awal mula bagaimana William akhirnya ngantri di Indomaret, 200 meter dari parkiran bar. Di depannya, tiga pria datang lebih dulu. Lima menit tanpa adanya pergerakan dari orang pertama, kakinya mengetuk gusar. Antrian lambat bukan main, membuat ia curiga jika ketiganya datang dengan alasan yang sama: beli kondom.
Jika bukan karena kepalang tanggung ingin melukis di dada atas wanitanya, seperti yang bibirnya lakukan beberapa menit yang lalu, barangkali ia sudah keluar dari minimarket tersebut dengan angkuh, mengutuk seperti jagoan dan berteriak "Gak butuh! Lelet lo!" pada sang kasir yang tidak berdosa.
Ia melirik ke arah luar, berusaha mengintip apa yang Haya tengah lakukan di dalam mobil. Kalau bukan karena antisipasinya yang besar pada kesempatan berbagi cinta yang panas malam ini, ia tidak rela jauh-jauh. Jangan salahkan William bila raga dan jiwanya lengket ingin menyatu. Ciuman dari Haya begitu lembut dan menggebu, buat orang waras manapun jadi hilang akal. Tetapi meski telah berjanji akan cepat kembali, takdir malam ini memaksanya untuk menunggu.
Tidak sabar, ia tepuk bahu pria di depannya lantas bertanya, "Itu kenapa, Mas? Kasirnya rusak?" dengan wajah yang menunjukkan jelas bahwa ia frustasi secara seksual.
Seseorang yang dipanggilnya Mas itu lebih pendek 25 senti darinya sehingga perlu mendongak saat berbisik di bahunya. "Kayaknya newbie, Mas."
"Maksudnya newbie?"
"Baru pertama kali beli itu, Mas."
"Ohhh," gumam William panjang, mengangguk-angguk bijak seolah ia paham, menyembunyikan fakta bahwa itu juga pengalaman pertamanya beli kondom.
Shocking, rite?
Meski usianya sudah 32 tahun, William belum pernah beli kondom, bahkan ketika sedang nakal-nakalnya di usia 20-an. Sebagian besar karena nama besar orang tuanya: ibunya mantan artis, ayahnya pengusaha yang dekat dengan pemerintah. Sebagai pewaris satu-satunya di keluarga Boen, ia punya beban moral untuk selalu berhati-hati ketika berurusan dengan perempuan. Pertanggungjawabannya tinggi, baik di mata agama, masyarakat, maupun di mata negara.
Namun, selayaknya anak muda berprivilise kebanyakan, ia bukan tipikal yang bertekad untuk menjaga dirinya sebelum menikah. Teman-temannya juga begitu. Party, mabuk, dan seks bebas merupakan fenomena lumrah-lumrah saja bagi William. Tetapi bahkan pada masa di mana ia aktif pacaran, hal terjauh yang ia lakukan (kalau ingatannya bisa dipercaya) hanya ciuman panas di sofa.
Itu karena sebagai manusia ia sangat sulit untuk dipuaskan.
Pada hubungan-hubungan sebelum Haya, lebih tepatnya di masa ia kuliah sarjana, William tidak pernah jadi pihak yang mengejar intimasi. Setiap mantan pacarnya berusaha mengundangnya untuk naik tingkat, lebih dari sekedar ciuman barangkali, selalu saja ada alasan bagi pria itu untuk menghancurkan tangganya. Tidak suka baunya; suaranya annoying; ekspresinya aneh; belum terkoneksi secara seksual; dan macam-macam alasan lain yang menurut Ansel bukan lagi sebuah preferensi melainkan kutukan.
Atas permasalahan tersebut, Ansel pernah menyarankannya untuk coba beli kondom di minimarket, kalau-kalau bisa jadi semacam jimat untuk menimbulkan hasrat seksualnya yang nyaris mati. Lagi pula, menurut pria yang biasa dipanggil Mpu Ewe di tongkrongan tersebut, membeli kondom merupakan satu peristiwa kolektif paling memalukan bagi umat pria. Hampir setara dengan perasaan diarak sekampung setelah sunat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Kondangan
FanfictionPenggalan kisah cinta antara William dan Haya, si penikmat buffet kondangan dan fake extrovert yang gak bisa apa-apa tanpa teman kondangannya. *Contain Harsh Word *Rating might change to 18 - 21 ke atas (This story based on AU from X. For full story...
