Penggalan kisah cinta antara William dan Haya, si penikmat buffet kondangan dan fake extrovert yang gak bisa apa-apa tanpa teman kondangannya.
*Contain Harsh Word
*Rating might change to 18 - 21 ke atas
(This story based on AU from X. For full story...
Haya ragu—kalau tidak mau dibilang takut—bahwa ke depannya ia dapat bergaul di antara keluarga besar Boen yang sungguh besar. Dari segi jumlah, keluarga kecilnya yang terdiri dari mama, Kak Cia, Qesya, dan Bang Reza jelas tidak dapat menandingi keluarga Boen yang jumlahnya tidak dapat dihitung oleh jari. Katakanlah, mereka dapat dengan mudah tenggelam dalam foto keluarga—itupun jika nantinya mereka jadi "keluarga".
Bicara tentang aspek itu, keluarga besar Boen juga amat solid. Ada semacam kebanggaan yang mereka tanggung dari nama Boen yang tersemat di belakang setiap nama, seolah keturunan mereka didaftarkan baik-baik jejaknya. Dari cara William mengabsen keponakan dan sepupu yang datang, Haya tahu jika tidak ada satu pun dari keluarga Boen yang absen pada Sincia tahun itu. Kuncinya mungkin ada pada Ama, sosok tetua yang kini tinggal di kediaman keluarga William.
Perempuan itu bersyukur ia menolak ajakan dari William dan Tante Ajeng untuk mengajak keluarganya di pertemuan kali ini. Sebab benci mengakui, ia ditelan rasa inferior. Tidak ada seorang pun di keluarga William yang tampil sederhana. Mereka seperti sekumpulan tamu di pernikahan Batak. Semuanya datang dengan mobil mewah, tas tangan desainer, dan dandanan lengkap. Mereka memperlakukan pertemuan ini seolah mereka telah diundang makan oleh presiden.
Mau tidak mau, pemandangan itu membuat Haya tersadar mengapa William ngotot memberikannya barang-barang mahal. Ia menyesal tidak mendengarkan perkataan William untuk menggunakan gaun merah high end yang pria itu belikan bulan lalu. Karena bahkan dress merah yang begitu pas memeluk tubuh dan tas tangan 1 jutanya tidak bisa bersanding di keramaian.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haya bukan tipikal manusia yang suka membanding-bandingkan status, tapi untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan adanya jarak, seperti ia tidak akan pernah cukup untuk keluarga ini.
Dan orang terakhir yang ia ingin merasakan hal tersebut adalah keluarganya.
Perempuan itu datang dengan niat ingin bergaul, tetapi karena jumlah keluarga Boen yang begitu banyak, yang sejujurnya sibuk bicara sendiri satu sama lain, tidak ada satu pun yang memperhatikannya. Jadi yang Haya dapat lakukan lakukan hanya menempel di samping kekasihnya yang saat ini sedang membagikan angpau ke semua keponakan dan sepupunya yang masih kecil, sembari mempersiapkan mental ketika nanti tiba saatnya ia diperkenalkan ke semua orang.
Di antara keponakan William, ada dua orang—kemungkinan besar kembar—yang melihatnya terus menerus sembari bisik-bisik. Haya melambaikan tangan bersahabat, tetapi lalu mereka melengos kabur begitu disapa. Entah apa maksudnya, yang pasti tingkah keduanya membuat perempuan itu makin was-was.
"Nih, buat kamu sama Qesya."
Kedua angpau terakhir William berikan pada Haya. Tak lupa dengan pelukan dan stempel kecup panjang di pelipis gadis kesayangannya itu. Peka pada perasaan Haya, William ingin memastikan setidaknya di keramaian ini Haya punya ia untuk bergantung.