Hari ini gak sih?
Pertanyaan yang berturut-turut Haya tanyakan semenjak mereka menginjakkan kaki di Osaka. Ansel telah beri petunjuk mengenai lamaran di Jepang sebelumnya dan pria itu cukup pintar untuk tutup mulut saat ditanya kapan tepatnya Haya akan dilamar (lagi).
"Pokoknya saat matahari terbit dari Timur dan tenggelam di Barat," respons yang lebih tua jenaka ketika Haya coba mengorek lebih lanjut di telepon. Diam-diam tentu saja ketika William pergi mandi.
"Serius ih, Mas Ansel. Katanya sebelum musim sakura selesai, tapi ini di Kyoto bunga udah pada rontok tahu. Kita juga dua hari lagi pulang."
"Ya mana gue tahu." Di seberang, Ansel menjawab enteng. Haya hampir dapat membayangkan bahu pria itu naik dengan tangan terangkat seolah lepas tangan.
"Bokis lo, Mas."
Haya tahu Ansel tahu lebih banyak daripada yang mampu ia bagikan. Ada alasan mengapa kemarin sepanjang sore ia dengar William dan Ansel berdiskusi tentang One Piece di telepon—dan Haya yakin mereka tidak sedang membicarakan One Piece.
"Suer terkewer-kewer, i don't have any idea, Hay. Kalau lu mau tahu, kenapa gak lu tanya aja suami tersayang lu itu? He will spill if you were the one askin."
"Ya kali, Mas. Yang punya acara kan Will—"
Tut. Sambungan ke Ansel dimatikan.
Sebab bertepatan dengan itu, William keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggang. Tampaknya habis keramas sebab rambutnya basah disisir ke belakang dengan tubuh yang masih setengah kering. Selalu seksi dan tampan, mengundang sepasang bola mata untuk memandanginya kagum dalam lekat. Fokus Haya sempat terpecah sebelum akal sehatnya kembali duduk di tempat.
Bukan otot punggung yang keras, urat-urat yang timbul jelas di tangan, ataupun bentuk bokongnya yang maskulin yang perlu menjadi pusat perhatian Haya saat itu, melainkan celana bahan hitam serta kemeja garis putih yang tampak terlalu formal yang William ambil dari lemari.
Setelan lamaran!
"This is it!" Haya berseru dalam hati.
Petunjuknya amat jelas membuat ia melangkah ringan turun dari kasur tanpa beban, hendak ke kamar mandi untuk bersiap-siap, sembari terus jelalatan memandangi William yang berpakaian, yang kini—mungkin karena ditatap terlalu intens seperti hendak dimangsa—mulai curiga dan bertanya, "Kenapa, Sayang? Something wrong with me?"
"Nothing." Haya buru-buru menggeleng, sembari tangannya terangkat memindai William dari atas ke bawah. "You look extremely good."
"By being naked?" William nyengir.
"Both." Haya menyender di daun pintu. "Ya kamu mau diapain aja ganteng menurutku."
Tidak biasa diinginkan begitu pagi, William tidak menyia-nyiakan kesempatan. Badannya condong ke arah Haya saat menyarankan dengan suara berat dipenuhi hasrat, "Kamu mau mandi bareng?"
Bokser yang telah melekat di pinggang hendak ia turunkan kembali jika saja sang wanita mengiyakan. Sang kekasih bermain api dengan mengulurkan telunjuknya memberi gestur come here.
Undangan diterima, William melangkah berani. Suara Haya memanggil kembali tanpa suara, ujung lidah digigit, dan rambut sengaja dipelintir secara sensual.
Sayangnya, semua pertunjukkan tersebut dilakukan hanya untuk kemudian sang gadis menutup pintu ketika William sudah persis di depannya.
"Kamu kan udah mandi tadi," sahut Haya. Gelak tawanya terdengar mengejek di balik pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Kondangan
FanfictionPenggalan kisah cinta antara William dan Haya, si penikmat buffet kondangan dan fake extrovert yang gak bisa apa-apa tanpa teman kondangannya. *Contain Harsh Word *Rating might change to 18 - 21 ke atas (This story based on AU from X. For full story...
