Sabtu, 24 Februari 2024
"You're so good looking, to the point that it's almost annoying."
Sebuah pernyataan yang terburu-buru dari Haya ketika wanita itu mengatakan ia baik-baik saja. Sebab tidak sampai 24 jam dari pembicaraan sebelumnya, William sudah berhadapan dengan versi bacok-senggol kekasihnya itu. Pemicunya terlalu konyol untuk diceritakan; William tampan hari itu dan Haya jengah melihatnya.
Bibit ketersinggungan Haya sudah tampak sejak mereka hendak berangkat ke kondangan Sarah. Atau barangkali dari sejak keduanya bangun, William tidak yakin jelas mengingat sang wanita menolak dicium, menolak mandi bersama, dan menolak perhatian lainnya atas nama "aku aja".
Pernyataan tadi merupakan kalimat utuh pertama, bukan sekadar gelengan atau gumaman judes, yang keluar dari bibir Haya pagi itu. William yang sedari tadi sibuk mencari makanan ringan di kursi belakang untuk diberikan pada kekasihnya—yang setahunya belum makan dari pagi—telat menanggapi beberapa detik, sehingga ketika fokusnya sudah kembali pada Haya, ia balik bertanya, memastikan pendengarannya masih sehat, "Kenapa, Sayang?"
Tidak disangka, dijawab ketus bukan main. "Nothing."
"Tadi kamu ngomong apa? Aku dengar ada sebut ganteng-ganteng gitu."
"Gak ada siaran ulang."
"Sayang~" William mengembungkan pipi, berusaha terlihat menggemaskan agar yang dipandang luluh. Pikirnya, calon istrinya itu mungkin marah karena mereka hendak ke nikahan sang mantan, biasalah wanita dan rasa cemburunya yang terkadang sulit ditebak.
William tidak lihat apa yang Haya lihat.
Jas hitam legam, turtleneck senada berbahan sutra, dengan rambut yang disisir ke belakang memperlihatkan jidat. Di mata gadis itu, prianya sedang pamer proporsinya yang sempurna, dibalut dalam aura aristokrat nan anggun yang dimilikinya sejak lahir.
Demikian, bahkan meski William jungkir balik saat ini yang diberi tanda tidak kunjung meleleh, membuatnya perlu mendekap pinggang mungil itu dari samping sembari bibirnya memberikan ciuman bertubi-tubi di kuping dan leher sang kekasih, yang hari ini juga terlihat tak kalah fenomenalnya. Sempat urung niat William untuk berangkat, mengingat bermanja-manja di dada kekasihnya tampaknya jauh lebih sepadan.
"Kamu tuh muji jangan setengah-setengah, Cantik."
"Jangan ih." Haya, terutama lehernya, mengelak sejauh-jauhnya dari bibir William, yang karena perbedaan ukuran badan keduanya diperlukan adegan jambak-menjambak. "Ini udah susah-susah aku conceal tahu. Kamu nih gak bisa dibilangin ya, Koh!"
Ada banyak cerita tentang mengapa sang wanita punya banyak bekas cupang di leher bagian kanannya, tetapi saat ini lebih penting untuk membahas alasan di balik sikap ketusnya barusan, yang William sendiri masih menerka-nerka sumbernya.
"Jangan galak-galak, Sayang. Kondangannya belum dimulai."
Teguran William yang lemah lembut dibalas dengan ancaman. "Kalau gitu rambut kamu aku acak-acak nanti setelah selesai."
Tak gentar, William meringsut maju. Di depan wajah Haya persis, cengiran terbit dan matanya bergerak nakal saat menyarankan, "Di hotel ya?"
"Enggak ya! Kemarin kan udah. Sekarang waktunya aku istirahat."
Haya melengos, tangan melipat di bawah dada, postur kaku menghadap ke depan. William melirik ke sana secara alamiah selagi membaca mood kekasihnya hari itu. Well, baju Haya hari ini agak terbuka dan ia, seperti pacar pada umumnya, lumayan terganggu—berusaha untuk tidak terlalu bawel.
Lagi pula siapa sih yang beli baju itu sedari awal kalau bukan dirinya sendiri?
"Nih!" William menyodorkan kepalanya di depan Haya, dengan sengaja ndusel di dada atas sang wanita. "Acak-acak aja sekarang enggak papa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Kondangan
FanfictionPenggalan kisah cinta antara William dan Haya, si penikmat buffet kondangan dan fake extrovert yang gak bisa apa-apa tanpa teman kondangannya. *Contain Harsh Word *Rating might change to 18 - 21 ke atas (This story based on AU from X. For full story...
