Efek Bola Salju (21+)

4.5K 176 16
                                        

Jumat, 23 Februari 2024 (02.50)

Malam hari, barangkali pagi, Haya tidak yakin jelas. Pasalnya, jendela ditutup gorden abu-abu tebal yang keduanya baru beli di IKEA bulan lalu.

Yang pasti William ada di atas kasur. Berbaring. Telanjang. Sepenuhnya submisif pada dominasi perempuan di atasnya.

"William, faster! Fuck my cunt! Fill me up! I want your cum, Baby."

Haya mengipasi pipinya yang bersemu merah, mendecih kecil, bertanya-tanya sejak kapan ia jadi seliar itu. Tetapi semakin ia berusaha mencari jawabannya, semakin ia berusaha melihat dari dekat.

Dan semakin ia lihat dari dekat, pemandangannya berubah menjadi semakin ganjil.

Wanita itu punya tangan yang lebih panjang darinya.

Sejauh ini, women on top memang bukan posisi favorit keduanya, tetapi sesekali ia pernah mencoba. Dan Haya hapal betul, dalam posisi duduk tegak-dada melengkung ke depan seperti itu, mustahil tangannya mampu menggapai leher William dengan begitu mudah.

Wanita itu punya kaki yang lebih panjang darinya.

Mungkin sepanjang kaki William kalau ia perkirakan. Hal itu menguatkan dugaan, sebab tidak seperti yang ia lihat saat ini, biasanya ujung kaki keduanya tidak pernah saling mencium dalam posisi tersebut.

Bulu kuduknya meremang. Sebilah pedang tiba-tiba menancap di dada, yang bilamana ia mendekat mengorek lukanya semakin dalam. Logikanya berkata ia perlu mundur, mencabut barang tajam tersebut dan mencoba lagi, tetapi kakinya berjalan dengan sendirinya ke depan. Ia butuh melihat hal itu dari dekat.

"Jangan berisik, Sayang. Nanti Haya dengar." Dan suara yang dikeluarkan oleh William mengonfirmasi.

Wanita itu bukan dirinya.

"Dia udah dengar kok. She enjoyed watching us. Iya kan, Haya?"

Deg!

Haya bangun terhenyak. Matanya melotot, keringatnya bercucur di tengkuk dan dahi, napasnya megap-megap seolah kepalanya baru saja ditenggelamkan di tengah samudra.

Penuh urgensi, tangannya merayap ke samping meraih calon suaminya yang tidur terlentang. Ia meraba dada William mencari pegangan, mengejar suhu tubuh yang hangat, memburu detak jantung. Apa pun! Untuk memberikannya petunjuk tentang apa yang nyata dan yang tidak.

William sedang tidur. Begitu manis, tenang, dan tanpa dosa. Kontras dengan kekacauan di dalam pikiran Haya saat itu.

Apa tadi barusan?

Mata perempuan itu berkeliling ke seluruh sudut ruangan, berusaha mencari perbedaan antara apa yang ia lihat dengan kamar tidur mereka.

Sama persis. Tidak ada perbedaan.

Gordennya masih abu-abu; seprainya masih putih gading; TV ada di seberang kamar, memantulkan bayangan keduanya di atas kasur.

Suasana senyap. Hanya ada suara napasnya yang memburu bingung dan samar-samar bunyi kipas AC. William, seperti biasa, tidur begitu agung tanpa suara.

Atau mungkin tidak.

"Jangan..." Pria itu tiba-tiba bergumam, tampaknya ngigo. Atau mungkin tidak.

"Huh? What did you say?"

Haya sigap mendekat, berusaha menangkap bisikan yang dikeluarkan dari bibir William yang sedikit terbuka. Lirih sekali, ia tangkap kata sayang, yang karenanya buru-buru ia kejar.

"Sayang? Siapa? Aku? Or someone else?"

Jantungnya berdegup teramat kencang, sedikit lagi mungkin meletus. Tegang, tanpa sadar ia menahan napas.

Teman KondanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang