Pertemuan dan Perpisahan

3.2K 214 20
                                        

Oh ini toh Sarah

Begitulah respons Haya ketika pertama kali melihat Sarah berjalan berdampingan dengan William keluar dari pintu arrival Bandara Soekarno Hatta. Gambaran ini mendorong ingatan gadis itu loncat ke masa lalu.

Pada malam-malam ketika ia begitu rindu pada William, yang mulai sulit untuk dihubungi maupun terlihat di media sosial, postingan dari teman-teman kuliahnya adalah satu-satunya cara Haya untuk tahu kabar pria itu. Di satu postingan dengan jumlah likes yang baginya luar biasa, pria itu di-tag.

Haya masih ingat betul komentar-komentar teman kuliah William pada postingan itu. Mana mungkin ia lupa. Ada begitu banyak orang di dalam foto tersebut, tapi hanya dua orang yang dibicarakan: Sarah dan William.

Dan karena ia tidak punya kuasa maupun hak atas perasaan apapun, Haya hanya melihat foto tersebut sambil tersenyum. Memang serasi betul. Bohong kalau ia bilang sebaliknya. 

Pun, saat bulan berganti bulan, dan ia kembali melihat pasangan itu tiba-tiba muncul di rekomendasi video di akun YouTube-nya, ia masih dengan penilaian yang sama: mereka cocok.

Sarah tinggi semampai. Rambutnya pirang dicepol, tampak jelas dicat. Haya tidak yakin betul tepatnya shade apa, tetapi rambutnya jelas terawat. Meskipun saat ini ia masih tergolong influencer, di dahinya seakan-akan ada tulisan SELEB bertengger. 

Lebih dari cantik, dia eye catching. Haya sampai lupa untuk sepersekian detik memperhatikan bahwa William juga ada di sana.

Ngomong-ngomong tentang William. Pria itu rasanya lebih besar daripada yang bisa ia ingat. Mungkin karena jaket bomber abu-abunya yang kebesaran. Atau bisa jadi karena ia mulai body building. Haya dengar dari Ansel kemarin, di Jepang William kerja sambilan sebagai model menswear, dan mungkin oleh sebab itu ia lebih-lebih giat datang ke gym.

Haya tidak tahu mana yang benar.

Yang pasti saat badannya yang kecil bertubrukan dengan pelukan penuh nan antusias dari William, ia sadari bahwa pria ini masih sehangat yang dulu. Dan itu tampaknya yang terpenting bagi Haya.

Bagi William pun tak ada bedanya. Pelukan dari Haya adalah yang paling ia butuhkan detik ini.

His sweet little drug.

His world.

His everything.

Mungkin itu sebabnya, segera setelah ia melihat ketiga sahabatnya itu di kerumunan penjemput, ia berjalan menggeret kopernya terburu-buru, hampir-hampir seperti berlari. Mata dan tubuhnya tertuju pada satu subjek.

Kecil, mungil, pink, bercahaya.

Dan ketika subjek itu cukup dekat untuk diraih, ia menghambur tanpa aba-aba hingga kopernya menggelinding terlepas beberapa jarak. Dipeluknya gadis 160 cm itu erat-erat seolah-olah ketiga pasang mata lainnya tidak melihat fenomena absurd tersebut dan jadi canggung. 

Yang dipeluk pun lambat laun ikut canggung juga. Mengingat Sarah jelas-jelas ada di sini, tindakan mereka bukan hanya scandalous, namun juga gila dan amoral.

Ansel, manusia dengan tingkat kepekaan yang lebih tinggi, menyadari itu. Buru-buru ia menghambur juga memeluk Haya dan William, diikuti oleh Siska, pacarnya. Keempatnya berpelukan seperti teletubbies. 

Maka jejak kedua pasangan amoral itu berganti dengan cepat menjadi image sekelompok geng bahagia.

Haya dipepet oleh tiga tiang, membuatnya kesulitan bernafas. Samar-samar ia dengar William berbisik lembut di telinganya, "I miss you so much."

Teman KondanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang